PLN EPI Dorong Standardisasi Biomassa, Efisiensi Rantai Pasok Untuk Keberhasilan Transisi Energi

PLN EPI Dorong Standardisasi Biomassa, Efisiensi Rantai Pasok Untuk Keberhasilan Transisi Energi
Kiri ke Kanan : Moderator Acara, Kepala Program Studi Sarjana dan Magister Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) Satrio Wicaksono, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia Hokkop Situngkir, Kepala Divisi General Affairs dan Penelitian & Pengembangan, Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO) Hariyanto dan Wakil Ketua Komite Riset, Kerja Sama, dan Pengembangan Kapasitas, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Edwin Kristianto Sijabat hadir sebagai panelis dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 di Jakarta

Jakarta,TAMBANG,- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mendorong pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi. Perusahaan pun menyadari bahwa keberhasilan program co-firing biomassa di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak hanya bergantung pada besarnya potensi biomassa nasional. Ada faktor lain yang tidak kalah penting yakni tersedianya rantai pasok yang efisien, standar kualitas bahan bakar yang konsisten, serta infrastruktur pengolahan yang andal.

Hal ini disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 yang diselenggarakan Indonesia Research Institute di Millennium Hotel Sirih, Jakarta.

Forum yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor kehutanan, industri, energi, akademisi, dan lembaga riset. Narasumber yang hadir diantaranya Kepala Program Sarjana dan Magister Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) Satrio Wicaksono, Kepala Divisi Umum serta Riset dan Pengembangan Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO) Hariyanto, serta Wakil Ketua Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pengembangan Kapasitas Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Edwin Kristianto Sijabat.

Hokkop menjelaskan, PLN EPI dibentuk untuk menjamin pasokan energi primer bagi sekitar 200 unit PLTU di 52 lokasi, sekitar 200 unit PLTG/PLTGU/PLTMG, serta hampir 800 unit PLTD di seluruh Indonesia. Hingga saat ini, sebagian besar pembangkit listrik nasional masih bergantung pada batu bara, minyak dan gas sehingga biomassa menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil secara bertahap.

"Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions," ujar Hokkop.

Menurut Hokkop, seluruh biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian, sehingga tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi. Pendekatan tersebut memastikan pengembangan biomassa tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

"Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan," jelasnya.

Ia menambahkan, melalui proses pengolahan dan pengendalian mutu yang tepat, biomassa dapat memenuhi spesifikasi teknis pembangkit sehingga mampu menggantikan sebagian konsumsi batu bara tanpa mengurangi keandalan operasi PLTU.

Implementasi program co-firing PLN EPI terus menunjukkan peningkatan. Sepanjang 2025, perusahaan memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU di berbagai wilayah Indonesia.

Secara kumulatif selama periode 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Pasokan tersebut didominasi biomassa berbasis kayu, terutama sawdust sebesar 54,6 persen dan woodchip sebesar 22,4 persen, yang telah memenuhi kebutuhan spesifikasi bahan bakar pembangkit.

Menurut Hokkop, peningkatan volume pasokan harus dibarengi dengan penguatan ekosistem biomassa secara menyeluruh. Tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, serta sistem distribusi yang efisien.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN EPI mengembangkan model Spoke–Hub, yang mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku (sub hub), fasilitas produksi (hub), hingga main hub sebagai pusat pengolahan, pencampuran, penyimpanan, dan pengendalian mutu biomassa sebelum didistribusikan ke pembangkit. Model tersebut juga diperkuat melalui Marketplace Biomassa, platform digital yang menghubungkan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap pembangkit.

Saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam. Ke depan, perusahaan juga akan memperluas jaringan hub biomassa di Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, hingga Suralaya sebagai bagian dari penguatan rantai pasok biomassa nasional.

Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah Indonesia melalui investasi perusahaan maupun kolaborasi dengan mitra strategis. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik biomassa bagi pembangkit listrik di seluruh Indonesia.

Melalui penguatan standardisasi, pembangunan infrastruktur, dan digitalisasi rantai pasok biomassa, PLN EPI terus membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah ini akan meningkatkan keandalan pasokan energi primer dan efisiensi operasional pembangkit.

Selain itu akan membantu mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan, memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik, serta menjadi fondasi penting dalam mendukung transisi energi menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Artikel Terkait

Pasca Kantongi Persetujuan AMDAL, PT Dairi Prima Mineral Siap Garap Tambang Bawah Tanah Anjing Hitam

Pasca Kantongi Persetujuan AMDAL, PT Dairi Prima Mineral Siap Garap Tambang Bawah Tanah Anjing Hitam

Jakarta,TAMBANG,- PT Dairi Prima Mineral (DPM) terus menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan tambang timah hitam (pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Baru-baru ini perusahaan telah mengantongi persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Saat ini Perseroan bersiap mengembangkan deposit Anjing Hitam dengan

By Egenius Soda
Hadir di Gerak Hijau 2026, Wamen LH Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Bangun Indonesia Lebih Hijau

Hadir di Gerak Hijau 2026, Wamen LH Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Bangun Indonesia Lebih Hijau

Jakarta,TAMBANG,- Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Diaz Faisal Malik Hendropriyono turut hadir dalam kegiatan Gerak Hijau 2026. Kehadirannya sekaligus menegaskan dukungan Pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, ini juga menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan pembangunan berkelanjutan tidak hanya mengandalkan peran pemerintah ataupun dunia usaha. Di kesempatan ini Dias

By Egenius Soda