Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif
Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan batu bara untuk industri semen. Salah satu kendalanya adalah kondisi sungai yang surut sehingga menghambat pengiriman batu bara.
"Kalau yang semen, ada beberapa yang memang laporan terkait pasokan yang kurang. Beberapa sungai surut itu," kata Tri usai menghadiri Enlit Asia 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, Ditjen Minerba tengah berupaya mencari sumber pasokan dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan industri semen.
"Kami di Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved minggu ini atau minggu depan sudah clear," ujarnya.
Semen Indonesia Kejar Realisasi Pasokan
Persoalan pasokan sebelumnya disampaikan Direktur Human Capital PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Hadi Setiadi, dalam ASPEBINDO Talkshow bertema Tantangan dan Peluang Pasokan Batubara DMO untuk Industri Semen Nasional, di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Hadi mengatakan, Ditjen Minerba telah membantu Semen Indonesia dengan memberikan penugasan kepada sejumlah perusahaan tambang untuk memenuhi kebutuhan batu bara. Namun, tidak seluruh perusahaan yang mendapatkan penugasan mampu merealisasikan pasokan sesuai kebutuhan.
"Pak Asep (Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara) dan Pak Dirjen (Minerba) sudah membantu banyak memberikan penugasan beberapa miner untuk Semen Indonesia. Tapi, dari beberapa miner yang ditugaskan ini tidak semua memberikan sesuai dengan yang diminta oleh Pak Asep," kata Hadi.
Menurut Hadi, kondisi tersebut membuat Semen Indonesia harus terus berkoordinasi dengan Ditjen Minerba. Pasalnya, alokasi batu bara yang diberikan belum tentu dapat langsung dikontrak maupun dikirim.
"Kami jadi harus kejar terus dan minta bantuan ke Minerba terus karena belum tentu yang dialokasikan itu dapat dikontrak dan dapat dikirim," ujarnya.
Selain persoalan kontrak, pengiriman batu bara juga menghadapi kendala logistik. Salah satunya akibat kondisi sungai yang kering di Kalimantan Timur.
"Kalaupun sudah dikontrak, pengiriman juga jadi kendala seperti sungai yang kering di Kalimantan Timur," imbuh Hadi.
Harga DMO Disebut Sudah Sesuai
Di sisi lain, Tri memastikan persoalan pemasok batu bara yang sebelumnya disebut enggan menerima harga DMO telah dibahas bersama.
Ketika ditanya mengenai pemasok yang tidak bersedia dengan harga DMO, Tri mengatakan persoalan tersebut telah diselesaikan melalui rapat dengan pihak terkait.
"Sudah clear, kemarin sudah rapat dengan kami. Sudah sesuai," tegasnya.
Dalam kebijakan yang dikeluarjan Kementerian ESDM, harga DMO batu bara untuk sektor industri kelistrikan dipatok sebesar USD70 per ton. Sementara untuk industri semen dan pupuk harganya mencapai USD90 per ton.