Pemerintah Tunjuk Pertamina Kelola 8 Blok Terminasi

Pemerintah Tunjuk Pertamina Kelola 8 Blok Terminasi
Jakarta, TAMBANG – Pemerintah menunjuk PT Pertamina mengelola 8 blok yang masa kontraknya berakhir tahun ini. Perusahaan yang baru saja merombak direksinya itu setuju untuk menyumbang bonus tanda tangan sekitar RP448,9 miliar, dengan komitmen pasti senilai Rp7,45 triliun.   “Pertamina diminta memberikan 10 persen dari total nilai komitmen untuk peformance bonds,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Doko Siswanto di kantor Kementerian ESDM, Jumat (20/4).   Maksud dari 10 persen Peformance Bonds itu sebagai jaminan agar Pertamina benar-benar menjalankan kontraknya. Apabila Pertamina bekerja tidak sesuai rencana, maka Peformance Bonds akan ditarik jadi kas negara.   “Namun, kalau mereka telah menjalankan komitmen pasti, tetapi bisa lebih efisien. Kelebihan dana bisa diambil lagi,” Kata Djoko.   Apabila dikalkulasi, total Performance Bonds itu mencapai Rp745 miliar. Terkait skema kontrak, 6 dari 8 blok terminasi itu diteken menggunakan skema Gross Split. Participating Interest (PI) yang dipegang Pertamina di seluruh blok mencapai 100 persen, 10 persennya disisihkan untuk diberikan kepada BUMD.   Blok terminasi yang dikelola oleh Pertamina itu adalah Wilayah Kerja Tuban, Wilayah Kerja Ogan Komering, Wilayah Kerja Sanga Sanga, Wilayah Kerja North Sumatra Offshore, Wilayah Kerja Southeast Sumatra dan Wilayah Kerja East Kalimantan dan Attaka.   Sedangkan eks Wilayah Kerja Tengah yang juga terminasi pada tahun ini dijadikan satu dengan Blok Mahakam, penggabungan ini berlaku setelah 4 Oktober mendatang. Oleh karena itu, hanya ada satu amademen kontrak yang berlangsung untuk kedua blok ini, yaitu bagi hasil Mahakam.   Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi yang juga hadir mendampingi Dirjen Migas, turut menjelaskan soal produksi minyak dan gas bumi yang terdapat dalam blok-blok tersebut.   “8 blok itu, data per akhir Desember (2017) kemarin, totalnya 68.599 barel (per hari), gasnya 306 (juta kaki kubik per hari),” papar Amien.   Saat ditanya, apakah Pertamina akan menggaet mitra kerja untuk mengelola dan mengoperasikan blok tersebut ?     Plt Dirut Pertamina, Nicke Widyawati menjawab, pihaknya perlu melakukan kajian terlebih dahulu. Sebab, saat penandatanganan berlangsung, Pertamina baru saja merombak direksinya, Dan Nicke dinobatkan sebagai pimpinan Pertamina menggantikan Elia Massa Manik.   “Kalau dari sisi regulasi, nanti kami akan (lihat) satu per satu tentunya, dan di masa transisi ini yang penting,” pungkasnya  

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin