Pemegang Saham KPC Jalin Kerjasama dengan Rusia

Pemegang Saham KPC Jalin Kerjasama dengan Rusia
Fasilitas pengangkutan batu bara milik SUEK. Sumber: suek.com

JAKARTA—TAMBANG. TATA Group, perusahaan raksasa India yang antara lain bergerak di bidang energi, menjalin kerjasama dengan produsen terbesar batu bara Rusia, Siberian Coal Energy Co (SUEK), untuk menjajaki pengembangan energy di Rusia dan di negara lain.

Tata Group bekerjasama melalui anak usahanya, Tata Power, perusahaan energi terintegrasi yang terbesaar di India. Dewasa ini Tata Power memiliki pembangkit listrik berkapasitas 8.621 megawatt. Tata Power menandatangani nota kesepakatan dengan SUEK untuk ‘’mengidentifikasi dan mengembangkan seluruh kemungkinan di seluruh sektor energi’’.

Juru bicara Tata Power menyebutkan SUEK sebagai perusahaan kelas dunia yang terpercaya di sektor pertambangan. Kerjasama itu disebut sebagai tonggak penting bagi Tata Power untuk bermain sebagai penyedia energi di dunia.

Tata Power bergerak di pembangkitan listrik bertenaga batu bara, tenaga air, surya, dan angin. Tata Power merupakan pemilik 30% saham di perusahaan batu bara terbesar di Indonesia Kaltim Prima Coal, 26% di PT Baramulti Suksessarana, dan berinvestasi di Singapura dan Afrika Selatan.

Tata Power juga pemegang saham di perusahaan Australia, Exergen, yang mengembangkan batu bara kalori rendah dengan cara mengurangi kelembapannya. Dengan memiliki saham di Exergen, Tata berharap bisa berbisnis meningkatkan kualitas batu bara kalori rendah di Australia, Indonesia, India, dan lokasi lain.

Exergen memiliki pabrik uji coba di Beanconsfield, Tasmania, dari 2004 hingga 2012. Saat ini Exergen juga tengah mendirikan pabrik uji coba bernilai Aus$ 50 juta di dekat pembangkit listrik Morwell, negara bagian Victoria.

Tata Power memiliki opsi untuk menjual hasil batu bara yang sudah diolah, dan berhak untuk menerapkan teknologi itu di Indonesia.

Tata Group, dipimpin oleh kepala Cyrus Mistry sejak Desember 2012 setelah mundurnya Ratan Tata, memiliki penghasilan sebesar US$ 103 miliar pada 2013-2014, membuatnya menjadi konglomerat India terbesar. Tata Power, bendera Tata Group di sektor energi, memiliki penerimaan sebesar US$ 5,8 miliar pada 2013-2014.

Hubungan bisnis antara Tata Power dengan SUEK membuatnya memiliki peluang bisnis di bidang energi di Rusia dan di wilayah lain. SUEK memproduksi hampir 100 juta ton batu bara setahun, hampir seperempat dari total produksi Rusia. Tambang itu tersebar pada 17 tambang terbuka dan 12 tambang bawah tanah di Siberia dan Rusia timur jauh.

SUEK merupakan perusahaan yang dimiliki konglomerat Rusia, Andrey Melnichenko. Dewasa ini SUEK memasok lebih dari 40% batu bara untuk pembangkit listrik di seluruh India. Total deposit yang dimiliki SUEK mencapai 5,6 miliar ton.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin