MGEI: Reposisi Eksplorasi Kunci Perkuat Ketahanan Mineral Indonesia

Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) mengusulkan reposisi kegiatan eksplorasi dalam rangka memastikan ketahanan mineral Indonesia untuk mendukung industri strategis jangka panjang.

MGEI: Reposisi Eksplorasi Kunci Perkuat Ketahanan Mineral Indonesia
Dari kiri ke kanan: Mirzam Abdurrachman (Sekjen IAGI), Rosalyn Wullandhary (Ketua MGEI), Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati, S.T.,M.Sc (Sekretaris Jendral Mineral dan Batubara ESDM), Heldy Putera (Deputi bidang hilirisasi investasi strategis kementrian investasi dan hilirisasi BKPM), Muhammad Tressna Gandapradana (Ketua CEO Forum 2026).

Jakarta, TAMBANG – Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) mengusulkan reposisi kegiatan eksplorasi dalam rangka memastikan ketahanan mineral Indonesia untuk mendukung industri strategis jangka panjang.

Ketua MGEI Rosalyn Wullandhary menitikberatkan bahwa eksplorasi merupakan investasi strategis bagi ketahanan mineral serta pertumbuhan dan kemakmuran nasional di masa depan. Ia menegaskan bahwa produksi tambang saat ini merupakan hasil dari eksplorasi yang dilakukan beberapa dekade lalu, sehingga keberlanjutan sektor ini menuntut keberanian, visi yang tajam, serta kepastian regulasi dari seluruh pemangku kepentingan.

“Forum yang mengusung tema "Exploration as an Investment Strategy: Boosting Exploration Incentives to Generate the Next Mineral Wealth" ini dirancang untuk mereposisi paradigma industri pertambangan. Fokus utamanya adalah mengubah persepsi terhadap kegiatan eksplorasi yang selama ini kerap dianggap sebagai beban biaya (cost center) menjadi investasi jangka panjang yang penting bagi penguatan ketahanan mineral nasional,” ujarnya dalam MGEI CEO Forum 2026, yang diselenggarakan di Jakarta, dikutip Kamis (30/4).

Sementara, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Mirzam Abdurrachman menegaskan perlunya perubahan pola pikir dalam industri dengan menyatakan bahwa eksplorasi adalah strategi investasi yang menentukan ketersediaan sumber daya masa depan.

“Kekayaan mineral terbesar sebenarnya terletak pada potensi yang belum ditemukan,” ungkap Mirzam dalam kesempatan yang sama.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati menekankan bahwa eksplorasi merupakan investasi strategis, bukan hanya sekadar urusan teknis, karena krusial dalam menentukan arah masa depanindustri pertambangan nasional

Sementara itu, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis, Bapak Heldy Satrya Putera, menyoroti pentingnya penciptaan iklim investasi yang kompetitif untuk mendukung eksplorasi.

“Pemerintah terus melakukan reformasi melalui simplifikasi perizinan berbasis risiko (OSS), penguatan kepastian hukum, serta pemberian kemudahan bagi kegiatan eksplorasi, termasuk relaksasi persyaratan awal pada tahap eksplorasi,” jelasnya.

Selain itu, Tenaga Profesional Lembaga Ketahanan Nasional (Taprof Lemhannas) RI, Edi Permadi, menyoroti bahwa ketangguhan industri mineral nasional sangat bergantung pada kualitas tata kelola yang integratif. Ia menegaskan bahwa agenda hilirisasi dan industrialisasi mustahil berjalan efektif tanpa dukungan regulasi yang konsisten dari hulu ke hilir.

“Kepastian hukum ini menjadi syarat mutlak untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen (8%),” ungkap Edi.

Rangkaian diskusi dalam CEO Forum juga berlanjut pada pembahasan mengenai kebutuhan mendesak akan insentif eksplorasi yang komprehensif guna memitigasi risiko tinggi pada tahap awal (early stage).

Para pemangku kepentingan menyepakati bahwa eksplorasi adalah fondasi keberlanjutan. Tanpa penemuan cadangan baru, industri akan mengalami stagnasi yang mengancam pasokan bahan baku hilirisasi. Selain pembagian risiko, peserta forum juga menyampaikan perlunya kepastian hukum atas investasi high-risk yang dilakukan oleh perusahaan yang “mencari discovery” untuk Indonesia.

 Para pemangku kepentingan termasuk representasi dari sektor industri pertambangan, memaparkan perspektif strategis terkait tantangan teknis maupun kendala investasi yang dihadapi secara faktual di lapangan. Oleh karena itu, stabilitas regulasi menjadi kunci bagi investor agar setiap temuan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti tanpa terganjal birokrasi yang fluktuatif.

Sebagai Tindak lanjut dari CEO Forum ini, MGEI berkomitmen untuk menyusun dokumen kebijakan (policy brief) yang merangkum rekomendasi strategis guna memperkuat daya tarik investasi eksplorasi di Indonesia.

“Rumusan ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintah sebagai kontribusi pemikiran konstruktif dari para praktisi dan pakar geologi. Melalui inisiatif ini, MGEI berharap langkah nyata segera diambil untuk memastikan Indonesia mampu mengoptimalkan potensi mineralnya, baik dalam mendukung transisi energi global maupun mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Rosalyn.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin