MBMA Manfaatkan Sisa Bijih Tambang untuk Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik

T Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memanfaatkan sisa bijih tambang untuk mendukung rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik

MBMA Manfaatkan Sisa Bijih Tambang untuk Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik
Ilustrasi.

 Jakarta, TAMBANG – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memanfaatkan sisa bijih tambang untuk mendukung rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik melalui pengembangan fasilitas pengolahan Acid Iron Metal (AIM).

Fasilitas AIM dibangun oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), usaha patungan antara MBMA dan Eternal Tsingshan Group Limited. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi MBMA dalam mendukung pengembangan industri kendaraan listrik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya mineral di lingkungan Grup Merdeka.

Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Oetomo mengatakan MBMA ingin memastikan pengembangan bisnis perusahaan tetap berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal.

"Pengembangan industri kendaraan listrik perlu didukung rantai pasok yang semakin efisien dan bertanggung jawab. Melalui integrasi operasional yang kami bangun, MBMA ingin mendorong praktik tersebut secara bertahap," ujar Teddy dalam keterangannya, Selasa (19/5).

Fasilitas AIM memanfaatkan bijih pirit sisa pengolahan Tambang Tembaga Wetar, yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk (BEI: MDKA), induk usaha MBMA, untuk menghasilkan asam sulfat dan uap yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL).

Melalui integrasi tersebut, MBMA menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengoptimalkan pemanfaatan material tambang sekaligus mendukung efisiensi rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik nasional.

Selain pengembangan ekonomi sirkular, MBMA juga terus memperkuat pengelolaan lingkungan di seluruh area operasional perusahaan. Hingga akhir 2025, seluruh entitas operasional MBMA telah memperoleh sertifikasi ISO 14001:2015 untuk sistem manajemen lingkungan.

MBMA juga membentuk Tim Manajemen Energi di dua anak usaha yaitu PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan MTI guna mendukung implementasi efisiensi energi dan pengurangan emisi secara lebih terintegrasi.

Komitmen keberlanjutan MBMA turut memperoleh pengakuan dari berbagai lembaga independen sepanjang 2025. MBMA mempertahankan Gold Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025, memperoleh predikat "Verified" dalam Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 dengan skor tertinggi di sektor basic materials, serta mencatat perbaikan Sustainalytics ESG Risk Rating menjadi 34,07 dari sebelumnya 35,20.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin