Ini Lima Catatan Bank DBS Terkait Sektor Pertambangan

Ini Lima Catatan Bank DBS Terkait Sektor Pertambangan
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong pada acara The 4th DBS Metal and Mining Forum

Jakarta,TAMBANG,- Bank DBS baru baru ini menyelenggarakan The 4th DBS Metal and Mining Forum dengan tema “Forging Global Connections”. Di kesempatan ini lembaga keuangan tekemuka ini menyampaikan beberapa hal. Forum diskusi ini menjadi ajang mempertemukan para pemimpin industri dan pengambil keputusan untuk membahas peluang, tantangan, serta tren terbaru. Ini juga menunjukkan semakin besarnya peran kolaborasi internasional dan inovasi dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Melalui forum ini, Bank DBS berharap dapat memperkaya wawasan strategis, memperkuat kemitraan lintas negara, hingga mendorong peningkatan arus investasi asing ke Indonesia.

Pihak DBS melihat posisi strategis dan kekayaan sumber daya alam menjadikan Indonesia berada di pusat masa depan industri logam dan mineral. Dengan pengembangan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok global mineral kritikal.

“Bank DBS berkomitmen menjadi mitra tepercaya dalam setiap langkah perjalanan tersebut, tidak hanya melalui solusi finansial, tetapi juga melalui wawasan dan dukungan yang relevan agar bisnis dapat terus berkembang,” ungkap Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong.

Dalam forum ini ada beberapa insight utama yang disampaikan para pakat. Setidaknya ada lima hal. Pertama, aus modal asing menyusut di tengah ketidakpastian global. Dijelaskan bahwa Dunia tengah menghadapi perlambatan ekonomi di berbagai kawasan, termasuk Tiongkok dan Eropa. Pergeseran rantai pasok akibat kebijakan tarif baru AS turut menekan volume perdagangan global serta memicu koreksi pada harga komoditas energi dan non-energi.

Kombinasi faktor ini membuat arus investasi asing langsung (FDI) merosot tajam. Tekanan tersebut muncul dari berbagai faktor, mulai dari tensi hubungan AS dan Tiongkok, perang tarif, perubahan iklim, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI). Kombinasi dinamika ini membuat kondisi global semakin sulit diprediksi.

Bagi negara berkembang, penurunan FDI menjadi tantangan besar karena menghambat upaya mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih ambisius. Kondisi ini semakin nyata bagi Indonesia, mengingat arus investasi luar negeri dari Tiongkok sebagai salah satu penyumbang terbesar juga tengah melemah. Situasi tersebut diperkirakan akan menekan ekspansi di sektor logam dan pertambangan, terutama pada industri hilirisasi nikel.

Kedua,Nikel Indonesia Tetap Dominan di Pasar Global. Sampai sekarang nikel menjadi komoditas strategis dunia seiring meningkatnya permintaan baterai kendaraan listrik dan teknologi ramah lingkungan. Indonesia menonjol sebagai produsen utama, dengan kapasitas produksi sepanjang 2024 mencapai 2,2 juta metrik ton. Angka ini setara lebih dari 50 persen suplai global. Posisi ini menegaskan keunggulan Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Selain itu, Indonesia memiliki ekosistem komponen baterai paling lengkap di luar Tiongkok, dengan beberapa lini produksi kapasitasnya bahkan melampaui Korea Selatan dan Jepang. Pertumbuhan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) domestik juga mendorong permintaan, seiring produsen memperluas kapasitas manufaktur mereka. Dengan regulasi yang efisien dan kepastian investasi, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat produksi dan inovasi baterai EV di tingkat regional.

Hal ketiga terkait hilirisasi. Para pakar melihat hilirisasi sebagai motor arah baru industri logam dan pertambangan. Disebutkan bahwa Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Vietnam memiliki keunggulan mineral masing-masing. Tantangan utamanya bukan pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada kemampuan mengembangkan industri dari hulu ke hilir agar nilai tambah tercipta di dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menilai hilirisasi sebagai pilar utama dalam agenda Asta Cita pemerintah. Kebijakan ini dipandang krusial untuk mewujudkan kemandirian energi dan memperkuat kedaulatan negara, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperluas keadilan sosial.

“Mineral kritis dianggap vital bagi kedaulatan negara. Namun, kapasitas peleburan juga sangat penting, karena tanpa kemampuan mengolah mineral menjadi logam, potensi tersebut tidak bisa diwujudkan.”ungkap Managing Director, Global Head of Metals and Mining, DBS Bank LtdMike Zhang.

Ditegaskan pula bahwa melalui kebijakan pengolahan dan peningkatan nilai tambah, Indonesia mulai beralih dari pengekspor bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai pasok mineral kritis global. Salah satu bukti paling nyata terlihat pada hilirisasi nikel. Nilai ekspor yang sebelumnya sekitar USD 3,3 miliar pada 2017-2018 meningkat pesat menjadi hampir USD 40 miliar pada 2024.

Kenaikan ini tidak hanya memperkuat penerimaan negara, tetapi juga membantu memperbaiki defisit perdagangan secara signifikan. Karena itu, arus investasi yang solid tetap dibutuhkan untuk mengoptimalkan hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah mineral.

Hal keempat adalah harga logam terfragmentasi, tantangan baru bagi industri global. Bank DBS melihat saat ini, dunia menghadapi dinamika ekonomi yang semakin kompleks. Pergerakan harga komoditas dan logam sangat dipengaruhi fluktuasi nilai dolar AS. Ini didasari kenyataan sebagian besar perdagangan logam menggunakan mata uang tersebut.

Risiko depresiasi dolar berpotensi mendorong kenaikan harga logam, sementara perlambatan dekarbonisasi di beberapa negara, seperti Eropa, turut memengaruhi permintaan energi bersih dan transisi ke kendaraan listrik. Faktor-faktor ini membuat pasar logam semakin terfragmentasi dan sulit diprediksi.

Kondisi ini diperburuk oleh konsentrasi pasokan mineral kritis yang terbatas pada beberapa negara. Akibatnya, harga logam tidak lagi seragam secara global, melainkan bervariasi antar-negara dan wilayah, salah satunya tembaga. Fenomena ini menandai pergeseran dari ekonomi globalisasi murni menuju ekonomi geopolitik, di mana negara-negara semakin menggunakan kebijakan ekonomi untuk mencapai tujuan politik, dengan kecenderungan nasionalisasi, regionalisasi, dan proteksionisme yang meningkat.

Kelimat target transisi energi semakin ambisius. Industri pertambangan harus siap beradaptasi. Disebutkan bahwa transisi energi menjadi aspek penting dalam industri metal dan pertambangan, terutama dalam mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Peralihan dari ketergantungan besar pada bahan bakar fosil menuju energi hijau menjadi langkah strategis untuk memastikan setiap proses industri berlangsung lebih berkelanjutan.

Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional, sehingga industri pertambangan perlu bergerak selaras dengan target tersebut.

Di saat yang sama, pergeseran menuju energi bersih juga terjadi bersamaan dengan penyesuaian kebijakan domestik, termasuk penerapan skema royalti progresif serta pembaruan mekanisme perizinan dan pengelolaan ekspor. Hal ini mendorong perusahaan beradaptasi menata ulang strategi operasional dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang dinamis.

“Sumber energi alternatif juga menjadi aspek yang sangat penting dalam transisi ini. Di tengah upaya tersebut, penting untuk memastikan peralihan energi berlangsung sebersih dan se-ramah lingkungan mungkin. Proses ini menandai pergeseran dari ketergantungan besar pada bahan bakar fosil menuju pemanfaatan sumber energi yang lebih hijau,” jelas Senior Economist DBS Bank Radhika Rao.

Dengan kombinasi kapabilitas lintas batas, keahlian sektoral, rekam jejak pembiayaan proyek besar, serta jaringan regional yang kuat, Bank DBS terus memperkuat posisinya sebagai mitra strategis bagi industri logam dan mineral Indonesia. Sejalan dengan prioritas nasional untuk mempercepat hilirisasi dan menarik lebih banyak investasi global, Bank DBS berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan, konektivitas pasar yang luas, serta advisory yang tepercaya bagi seluruh pemangku kepentingan.

Ke depan, Bank DBS akan terus mendukung transformasi sektor ini agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi Indonesia sekaligus berperan penting dalam rantai pasok global. 

Artikel Terkait

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Jakarta, TAMBANG – Kebutuhan akan industri yang semakin terintegrasi mendorong hadirnya kolaborasi lintas sektor. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang mempertemukan delapan sektor industri strategis dalam satu ekosistem. Mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, Engineering Week 2026 resmi dibuka pada 9 September

By Rian Wahyuddin
Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Jakarta, TAMBANG – PT Naraya Dipta Buana, bagian dari MahaDasha Group, bersama SAIC Hongyan, memperkuat komitmen mengembangkan solusi kendaraan komersial untuk mendukung operasional sektor pertambangan Indonesia. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk kebutuhan industri berat. Komitmen ini disampaikan dalam ajang Mining Indonesia 2026

By Rian Wahyuddin
Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Jakarta, TAMBANG – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) kembali menggelar Learning Summit 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya belajar sekaligus meningkatkan kapabilitas insan perusahaan. Mengusung tema “BEYOND BOUNDARIES: Driving Value Through Knowledge Breakthroughs”, kegiatan ini menjadi wadah bagi karyawan untuk bertukar pengetahuan, mendapatkan perspektif baru, dan mengembangkan potensi diri. Memasuki rangkaian

By Rian Wahyuddin
XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

Jakarta, TAMBANG – XCMG Group Indonesia memperkuat ekspansi dan ekosistem industrinya di Indonesia melalui kehadiran solusi alat berat energi baru sekaligus platform pembiayaan ABC Multifinance dalam ajang Mining Indonesia 2026 di Jakarta. Mengusung tema “New Power, New Future”, XCMG menampilkan berbagai solusi hijau terintegrasi yang dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional pertambangan,

By Rian Wahyuddin