Ekspansi Emas Papua Nugini Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Petrosea
PT Petrosea Tbk (PTRO) bergerak agresif mencari mesin pertumbuhan baru. Perusahaan kontraktor tambang milik grup Prajogo Pangestu itu kini resmi memperluas jejaknya ke bisnis emas melalui investasi strategis di proyek Tolukuma Gold Mine, Papua Nugini.
Jakarta, TAMBANG – Di tengah mulai melandainya siklus superprofit batubara, PT Petrosea Tbk (PTRO) bergerak agresif mencari mesin pertumbuhan baru. Perusahaan kontraktor tambang milik grup Prajogo Pangestu itu kini resmi memperluas jejaknya ke bisnis emas melalui investasi strategis di proyek Tolukuma Gold Mine, Papua Nugini.
Langkah ini bukan sekadar diversifikasi biasa. Bagi pasar, ekspansi tersebut menandai transformasi Petrosea dari kontraktor tambang domestik menjadi pemain jasa pertambangan regional dengan eksposur langsung ke aset emas berkelas tinggi di kawasan Pasifik.
Melalui binding offer bersama PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Petrosea menggelontorkan investasi senilai A$23,75 juta ke Tolu Minerals Limited melalui instrumen convertible note. Dana tersebut dapat dikonversi menjadi 14,6 juta saham baru Tolu Minerals dengan harga A$1,625 per saham.
Bagi Petrosea, transaksi ini membuka dua pintu sekaligus: kepemilikan strategis di tambang emas dan peluang kontrak jasa pertambangan jangka panjang.
Tolu Minerals sendiri bukan perusahaan eksplorasi biasa. Emiten ASX berkode TOK tersebut menguasai Tolukuma Gold Mine, salah satu tambang emas bawah tanah historis di Papua Nugini yang pernah memproduksi emas berkadar tinggi selama puluhan tahun. Berdasarkan data perusahaan, kawasan Tolukuma telah menghasilkan lebih dari 1 juta ounce emas historis dengan kadar mencapai 14 gram per ton (g/t).
Saat ini Tolu Minerals tengah menjalankan program restart tambang sekaligus ekspansi besar-besaran. Targetnya cukup agresif: meningkatkan kapasitas pengolahan hingga sekitar 500 ton per hari dengan produksi awal diperkirakan mencapai 20.000–25.000 ounce emas per kuartal.
Bagi industri pertambangan global, Papua Nugini memang bukan wilayah sembarangan. Negara tersebut dikenal sebagai salah satu “gold belt” paling prospektif di dunia, rumah bagi tambang-tambang raksasa seperti Porgera, Lihir, hingga Ok Tedi. Namun, risiko geopolitik, logistik ekstrem, serta biaya operasional tinggi membuat tidak banyak kontraktor Asia Tenggara berani masuk ke sana.
Masuknya PTRO ke Tolukuma dinilai bukan semata investasi finansial, melainkan langkah membangun foothold operasional di pasar pertambangan Pasifik Selatan. Apalagi sebelumnya Petrosea juga telah melakukan ekspansi ke Papua Nugini melalui akuisisi HBS PNG Limited pada 2025.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia menilai investasi ini berpotensi menciptakan recurring income baru bagi Petrosea melalui kontrak jasa tambang, EPC, hingga pengembangan infrastruktur tambang Tolu Minerals.
Potensi sinerginya memang besar. Tolu Minerals saat ini tengah membutuhkan pembangunan akses bawah tanah, fasilitas crushing plant, batching plant, sistem dewatering, hingga pengembangan tailing jangka panjang. Seluruh kebutuhan tersebut sangat dekat dengan kompetensi inti Petrosea sebagai integrated mining services company.
Namun ekspansi ini juga bukan tanpa risiko.
Sejumlah analis asing menilai proyek restart Tolukuma masih menyimpan tantangan besar, mulai dari kebutuhan modal tinggi, tekanan cash flow, hingga risiko commissioning di wilayah terpencil Papua Nugini. Bahkan beberapa analis Australia menyebut Tolu Minerals sebagai proyek “high-risk high-reward”.
Tambang Tolukuma sendiri membutuhkan pembuktian sumber daya tambahan melalui pengeboran sekitar 15.000 meter sebelum target ekspansi jangka panjang dapat tercapai. Selain itu, Tolu juga harus merehabilitasi infrastruktur lama bernilai ratusan juta dolar Australia yang sebelumnya sempat terbengkalai.
Secara fundamental, PTRO memang sedang berada dalam fase ekspansi agresif. Dalam laporan riset NH Korindo, Petrosea disebut tengah memperluas sumber pendapatan melalui kombinasi jasa tambang, EPC, offshore engineering, hingga investasi mineral strategis.
Strategi tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan kinerja perseroan. Petrosea mencatat lonjakan pendapatan signifikan sepanjang 2025–2026, ditopang backlog kontrak pertambangan dan konstruksi yang terus meningkat.
Hal yang menarik ketika ekspansi emas ini datang di waktu banyak kontraktor tambang Indonesia mulai mencari jalan keluar dari ketergantungan terhadap batubara. Tekanan transisi energi global membuat perusahaan jasa tambang harus mencari eksposur baru ke mineral bernilai tinggi seperti emas, tembaga, dan logam kritis.
Petrosea tampaknya ingin bergerak lebih cepat dibanding kompetitor.
Jika proyek Tolukuma berhasil di-restart sesuai target dan Petrosea mampu mengamankan kontrak operasional utama, maka PTRO bukan lagi sekadar kontraktor tambang nasional. Perusahaan ini bisa berubah menjadi integrated mining player regional dengan eksposur langsung ke rantai nilai emas global.
Bagi investor, inilah taruhan besar Petrosea: keluar dari zona nyaman batubara dan masuk ke arena emas internasional yang jauh lebih kompleks, tetapi juga jauh lebih menjanjikan.