Dirjen Minerba Tri Winarno Unjuk Gigi Proyek Hilirisasi Batu Bara RI di CT Asia 2025

Hilirisasi
Ilustrasi

Jakarta, TAMBANG – Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, memaparkan berbagai proyek hilirisasi batu bara nasional dalam CT Asia 2025. Salah satunya adalah proyek dimethyl ether (DME) yang ditujukan sebagai substitusi LPG.

“Kami berharap ke depan batu bara dapat dimanfaatkan secara lebih optimal melalui program hilirisasi. Salah satu contoh yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan batu bara untuk produksi DME untuk menggantikan sebagian kebutuhan LPG,” ucap Tri Winarno, di Badung, Bali, Senin (22/9).

Menurutnya, meski banyak pihak mempertanyakan keekonomian proyek DME, hasil kajian dan sejumlah proposal yang diterima menunjukkan prospek positif, sehingga pengembangan DME dinilai layak untuk dilanjutkan.

“Ada beberapa proposal yang disampaikan itu menunjukkan keekonomian yang positif sehingga DME ini bisa kita kembangkan,” imbuh Tri Winarno.

Proyek DME sebelumnya direncanakan digarap oleh Air Products and Chemicals Inc. (APCI) pada PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Namun, belakangan perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat itu memutuskan untuk menarik diri dari proyek tersebut.

Terbaru, perusahaan asal Tiongkok, East China Engineering Science and Technology Co. Ltd (ECEC), menyatakan ketertarikannya untuk melakukan studi kelayakan terkait proyek ini.

Selain DME, PTBA juga tengah menjalankan proyek hilirisasi batu bara menjadi kalium humat. Bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), perusahaan baru saja meresmikan fasilitas produksi pembenah tanah dan pupuk hayati tersebut. Termasuk mengembangkan  proyek Artificial Graphite dan Anode Sheet untuk bahan baku baterai Lithium-ion (Li-ion).

“PTBA, misalnya, telah melakukan riset terkait pemanfaatan batu bara untuk produksi pupuk asam humat dan sebelumnya juga mengkaji pengembangan artificial graphite, serta industri lain berbasis batu bara yang dapat menjadi bagian dari transisi industri,” ujar Tri Winarno. 

Sebagai informasi, proyek hilirisasi batu bara merupakan program yang wajib dilakukan oleh perusahaan batu bara eks PKP2B sebagai persyaratan perpanjangan kontrak menjadi IUPK.

Ada 11 perusahaan yang mendapat mandat ini yaitu PT Adaro Indonesia, PT Kideco Jaya Agung, PT Arutmin Indonesia (Arutmin), PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Multi Harapan Utama (MHU), PT Megah Energi, PT Thriveni, PT Kendilo Coal Indonesia, PT Berau Coal dan PT Kaltim Nusantara Coal.

Baca juga: APBI di CT Asia 2025: Meski Geopolitik Menegang, Industri Batu Bara Nasional Tunjukkan Tren Positif

Artikel Terkait

Optimalkan Potensi Reservoir PT Pertamina Hulu Sanga Sanga Berhasil Tambah Produksi Migas

Optimalkan Potensi Reservoir PT Pertamina Hulu Sanga Sanga Berhasil Tambah Produksi Migas

Jakarta,TAMBANG,- Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi migas dalam negeri. PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) misalnya terus memperkuat upaya optimasi produksi migas melalui pelaksanaan program hydraulic fracturing pada sejumlah sumur di Wilayah Operasi Mutiara dan Pamaguan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Program yang dilaksanakan sepanjang periode

By Egenius Soda
Perkuat Peran Strategis dalam Eksplorasi Energi, Elnusa Tingkatkan Kapabilitas Geoscience Berbasis Teknologi

Perkuat Peran Strategis dalam Eksplorasi Energi, Elnusa Tingkatkan Kapabilitas Geoscience Berbasis Teknologi

Jakarta,TAMBANG,- Eksplorasi disebut sebagai nadi bagi industri migas. Tanpa eksplorasi tidak akan ditemukan cadangan baru. Sebaliknya dengan eksplorasi ada kemungkinan untuk menemukan cadangan baru yang penting untuk ketahanan energi nasional. Namun harus diakui bahwa kegiatan eksplorasi punya risiko yang cukup tinggi. Padahal investasinya juga besar. Oleh karenanya sebagai bagian

By Egenius Soda