Wijaya Karya Dilirik Cina untuk Patungan Beli Tambang Aspal

Wijaya Karya Dilirik Cina untuk Patungan Beli Tambang Aspal

Jakarta – TAMBANG. PT Wijaya Karya (Persero), Tbk (WIKA) digandeng oleh perusahaan asal Cina untuk mengakuisisi tambang aspal di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Saat ini, BUMN di sektor konstruksi itu pun tengah melakukan uji kelayakan untuk merealisasikan rencana akuisisi.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Suradi berujar bahwa investor dari Negeri Tirai Bambu tersebut mengajak ikut dalam pembentukan sebuah perusahaan patungan. WIKA sendiri ditawarkan porsi kepemilikan di bawah 50%, artinya mayoritas tetap dipegang perusahaan asal Tiongkok yang belum bisa disebut namanya itu.

”Saat ini, kami sudah memiliki dua tambang aspal di Buton. Jika akuisisi bisa terealisasi, tambang itu akan menjadi yang ketiga. Dana akuisisi belum bisa disebutkan, masih dikaji,” kata Suradi di Jakarta, Selasa (17/3).

Dia membeberkan, proses akuisisi tersebut merupakan strategi perusahaan dalam meningkatkan usaha di bisnis aspal alam. Rencananya, apabila proses akuisisi rampung, kerja sama akan dilanjutkan dengan pembangunan pabrik ekstrasi aspal alam.

Sebelumnya, WIKA pernah mengakuisisi 100% saham PT Sarana Karya, yang memiliki bisnis inti pertambangan aspal di Buton, pada Januari 2014. Nilai transaksi yang dibukukan sekitar Rp 50 miliar. Setelah resmi menjadi anak usaha WIKA, perusahan itu berganti nama menjadi PT Wika Bitumen.

Selaku induk usaha, Suradi menambahkan, WIKA menargetkan tambahan pendapatan tahun ini dari kontribusi Wika Bitumen sebesar Rp 212 miliar. Target itu jauh dipasang di atas angka realisasi pendapatan Wika Bitumen tahun lalu, yang hanya mencapai Rp 61 miliar.

”Sedangkan untuk kontribusi laba bersih Wika Bitumen, diperkirakan sebesar Rp 48 miliar. Naik lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu sebesar Rp 17 miliar,” rincinya.

Kemudian, WIKA juga sudah membangun pabrik ekstrasi aspal alam di atas lahan 30 hektare (ha) di Lawale, Pulau Buton. Pabrik ekstrasi tersebut dirancang dengan kapasitas produksi total 50 ribu ton per tahun. Bila tak tak terkendala, pabrik itu diperkirakan bisa beroperasi penuh pada tahun ini.

Selain itu, WIKA tengah menjajaki peluang kerja sama dengan BUMN lainnya, yaitu PT Pertamina (Persero). Kerja sama ini dimaksudkan untuk mengubah hasil residu kilang minyak milik Pertamina, menjadi bahan baku aspal.

“Kami harapkan seluruh proses uji kelayakannya bisa rampung tahun ini,” pungkas Suradi.

Artikel Terkait

Hadir di Gerak Hijau 2026, Wamen LH Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Bangun Indonesia Lebih Hijau

Hadir di Gerak Hijau 2026, Wamen LH Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Bangun Indonesia Lebih Hijau

Jakarta,TAMBANG,- Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Diaz Faisal Malik Hendropriyono turut hadir dalam kegiatan Gerak Hijau 2026. Kehadirannya sekaligus menegaskan dukungan Pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, ini juga menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan pembangunan berkelanjutan tidak hanya mengandalkan peran pemerintah ataupun dunia usaha. Di kesempatan ini Dias

By Egenius Soda
Akhirnya Smelter Tembaga Milik AMMAN Resmi Rampung, Topang Hilirisasi dan Nilai Tambaga Mineral

Akhirnya Smelter Tembaga Milik AMMAN Resmi Rampung, Topang Hilirisasi dan Nilai Tambaga Mineral

Jakarta,TAMBANG,- Tonggak penting kembali berhasil dicatat perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN). Emiten berkode saham AMMAN ini akhirnya mewujudkan transformasi bisnisnya sebagai perusahaan terintegrasi dari penambangan sampai peleburan setelah secara resmi merampungkan proyek pembangunan pabrik smelter tembaga di Kabupaten Sumbawa

By Egenius Soda