Di Kongres PROMETINDO 2026, Prof Zulfiadi Dorong Metallurgist Indonesia Jadi Pencipta Teknologi

Di Kongres PROMETINDO 2026, Prof Zulfiadi Dorong Metallurgist Indonesia Jadi Pencipta Teknologi
Istimewa.

Jakarta, TAMBANG – Penguatan industri hilir mineral Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Para ahli metalurgi nasional (metallurgist) dituntut naik kelas dari pengguna teknologi (technology user) menjadi pencipta dan penyedia teknologi (technology creator dan technology provider).

Guru Besar Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Zulfiadi Zulhan, mengatakan perubahan peran tersebut menjadi kunci untuk membangun industri metalurgi nasional yang mandiri dan berdaya saing global. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Zulfiadi, ukuran penguasaan teknologi tidak semata-mata dilihat dari kemampuan mengoperasikan mesin atau fasilitas produksi. Penguasaan teknologi harus tercermin dari kemampuan memahami prinsip proses hingga merancang dan menjamin kinerja teknologi tersebut.

“Penguasaan teknologi tidak diukur dari berapa banyak mesin yang kita operasikan, tetapi dari kemampuan menjelaskan, merancang, mendesain, membangun, dan menjamin kinerjanya,” tegas Zulfiadi.

Ia menjelaskan terdapat enam tingkatan kompetensi yang perlu dilalui metallurgist Indonesia. Tahapan tersebut menggambarkan proses peningkatan kapasitas dari kemampuan operasional hingga mampu menciptakan dan menjual teknologi secara global.

Pertama, operator. Pada tahap ini, seorang metallurgist dituntut mampu menjalankan proses operasional secara aman dan stabil.

Kedua, troubleshooter. Pada tingkat ini, kemampuan tidak lagi sebatas menjalankan proses, tetapi sudah mencakup identifikasi dan penyelesaian akar masalah (root cause) dalam proses produksi.

Ketiga, optimizer. Seorang metallurgist diharapkan mampu meningkatkan kinerja proses, termasuk recovery, kualitas produk, dan efisiensi energi.

Selanjutnya, designer menjadi tahapan ketika seorang ahli metalurgi mampu menghitung dan merancang proses secara komprehensif. Kemampuan tersebut mencakup penyusunan flowsheet, mass balance, energy balance, process flow diagram (PFD), piping and instrumentation diagram (P&ID), hingga spesifikasi peralatan.

Tahap kelima adalah technology owner. Pada level ini, metallurgist tidak hanya memahami bagaimana sebuah proses berjalan (know-how), tetapi juga menguasai alasan dan prinsip di balik proses tersebut (know-why). Dengan kompetensi tersebut, seorang technology owner mampu memberikan jaminan terhadap kinerja proses (process guarantee).

Adapun level tertinggi adalah technology provider. Pada tahap ini, ahli metalurgi sudah mampu mengembangkan, memasarkan teknologi, menyediakan process package, hingga memberikan lisensi teknologi kepada industri lain, termasuk di pasar global.

Tiga Pilar Transformasi

Untuk mendorong lompatan kompetensi tersebut, Zulfiadi menyebut tiga kemampuan utama yang harus dikuasai metallurgist Indonesia, yakni science, engineering, dan leadership.

Aspek science menjadi fondasi untuk memahami prinsip-prinsip dasar yang bekerja dalam proses metalurgi, mulai dari termodinamika, kinetika, hingga fenomena transport.

Sementara engineering diperlukan agar penguasaan teori dapat diterjemahkan menjadi kemampuan merancang proses, desain pabrik, dan teknologi pemrosesan secara mandiri.

Adapun leadership dibutuhkan untuk memastikan inovasi dapat dieksekusi. Seorang metallurgist dituntut mampu memimpin tim, mengambil risiko secara terukur, serta mengelola proyek inovasi yang memiliki nilai strategis dan ekonomi tinggi.

Zulfiadi berharap transformasi kompetensi tersebut dapat memperkuat posisi metallurgist Indonesia dalam pengembangan industri hilir mineral. Dengan demikian, tenaga ahli nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan pihak lain, tetapi mampu menghasilkan teknologi yang dapat digunakan bahkan dipasarkan ke tingkat global.

Menurutnya, kemampuan tersebut pada akhirnya akan menentukan seberapa besar Indonesia dapat menangkap nilai tambah dari kekayaan mineral yang dimiliki.

Melalui penguatan kompetensi science, engineering, dan leadership, metallurgist Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak inovasi sekaligus pencipta teknologi yang menopang industri nasional agar semakin maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Artikel Terkait

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi. Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

By Rian Wahyuddin
Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mendorong Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi metalurgi dan mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Winarno dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 yang digelar

By Rian Wahyuddin