Dirjen Minerba: Hilirisasi Mineral Topang Ketahanan Energi Nasional
Jakarta,TAMBANG,- Indonesia diberkahi dengan sejumlah potensi sumber daya alam pertambangan yang luar biasa. Tidak hanya itu peran sektor pertambangan pun semakin penting tidak hanya sebagai sumber energi tetapi juga berperan sebagai penopang perekonomian nasional.
Kontribusinya semakin meningkat seiring keberhasilan Pemerintah mendorong hiliriasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai hilirisasi mineral semakin strategis bagi ketahanan energi dan posisi industri Indonesia. Ini terjadi seiring kebutuhan bahan baku serta rantai pasok energi yang terus meningkat.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan bahwa hilirisasi tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas tambang, tetapi juga menyangkut kemandirian industri dan posisi strategis Indonesia.
"Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, ketahanan energi juga ditentukan apakah kita menguasai bahan baku, teknologi rantai pasok, dan juga dari industri energi tersebut," ungkap Tri dalam seminar "Industri Mineral dan Batu Bara: Kondisi Saat Ini dan Kontribusinya Bagi Masa Depan Bangsa dan Negara" dalam rangka HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9).
Tri menjelaskan, sektor pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 9%-12,5%.
Tri menilai hilirisasi menjadi salah satu mesin transformasi sektor mineral karena mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Pengembangan industri pengolahan juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Menurut dia, hilirisasi telah diarahkan untuk membangun berbagai industri strategis, mulai baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, logam mulia hingga berbagai produk turunan mineral lainnya.
Kebutuhan energi yang semakin besar juga akan meningkatkan permintaan terhadap sejumlah mineral. Tembaga, misalnya, menjadi salah satu bahan penting dalam jaringan dan distribusi listrik.
Tri mengatakan kebutuhan terhadap tembaga akan semakin besar seiring meningkatnya konsumsi listrik dan pembangunan infrastruktur energi. Pada saat yang sama, tantangan dalam pengelolaan komoditas tersebut dapat memengaruhi pasokan dan harga.
Pemerintah juga mendorong perbaikan tata kelola sejumlah komoditas mineral, termasuk timah. Tri menyebut perbaikan tata kelola dan kebijakan terkait komoditas tersebut telah memberikan ruang bagi peningkatan nilai ekonominya.