PFRC 2026 Resmi Digelar, PAMA Perkuat Kesiapan Tim Rescue Hadapi Risiko Operasional dan Situasi Kebencanaan

PFRC 2026 Resmi Digelar, PAMA Perkuat Kesiapan Tim Rescue Hadapi Risiko Operasional dan Situasi Kebencanaan
PAMA Fire Rescue Challenge (PFRC) ke-11 tahun 2026 digelar di Cileungsi, Bogor, Senin (5/10/2026). Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Jakarta, TAMBANG — PT Pamapersada Nusantara (PAMA) kembali menggelar PAMA Fire and Rescue Challenge (PFRC) ke-11 tahun 2026.

Ajang tahunan ini tidak sekadar menjadi kompetisi bagi tim tanggap darurat, tetapi dirancang untuk menguji kesiapan emergency response team (ERT) melalui simulasi yang semakin mendekati kondisi nyata di area pertambangan dan situasi kebencanaan.

Direktur PT Pamapersada Nusantara, Roberto Dwi Handoko menyampaikan bahwa berbagai fasilitas dan skenario dalam PFRC dirancang untuk merepresentasikan potensi insiden yang dapat terjadi dalam kegiatan operasional pertambangan.

"Pada dasar dan prinsipnya adalah PAMA tidak ingin menonjolkan apa pun, tapi kita mencoba membuat simulasi atas kondisi operasional yang terjadi atau yang ada di tambang. Jadi fasilitas-fasilitas yang ada itu mencerminkan simulasi kemungkinan kejadian insiden di seluruh area tambang kita," ujar Roberto dalam pembukaan PFRC 2026 di Cileungsi, Bogor, Senin (5/10).

Direktur PT Pamapersada Nusantara Roberto Dwi Handoko (ketiga dari kiri), Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM Ahmad Syauqi (keempat dari kiri), bersama jajaran manajemen PAMA, mengenakan helm keselamatan kepada perwakilan peserta PFRC 2026. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Resmikan Fasilitas Baru

Salah satu pengembangan yang dilakukan PAMA tahun ini adalah menghadirkan fasilitas Cabin Underwater Emergency Training (CUET).

Fasilitas ini digunakan untuk mensimulasikan kondisi darurat saat kabin kendaraan terendam air, sekaligus melatih kemampuan peserta dalam melakukan evakuasi dan penyelamatan secara cepat dan tepat.

Pelatihan ini menguji ketenangan, kemampuan mengambil keputusan, serta keterampilan peserta dalam menghadapi kondisi darurat di bawah air.

Roberto menjelaskan, fasilitas simulasi tersebut dipilih karena aktivitas pertambangan PAMA juga bersinggungan dengan fasilitas yang menggunakan atau menampung air.

Proses peresmian fasilitas Cabin Underwater Emergency Training (CUET). Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Ia mencontohkan keberadaan settling pond yang menjadi salah satu fasilitas di area tambang dan memiliki potensi risiko insiden. Karena itu, kemampuan penyelamatan di dalam air dinilai perlu dimiliki oleh tim Emergency Response Team (ERT).

"Tujuannya apa? Karena di tambang sendiri pun banyak kegiatan kita yang erat hubungannya dengan penggunaan air. Contohnya di settling pond dan sangat ada potensi adanya kemungkinan insiden terjadi di sana. Nah, kita berharap ketika amit-amit kondisi tersebut terjadi, tim ERT PAMA dan grup itu siap untuk melakukan tanggap darurat atau kesiapsiagaan dalam penyelamatan di dalam air tersebut," katanya.

Dengan demikian, PFRC tidak hanya menjadi arena untuk mengukur kecepatan dan ketangkasan peserta. Menurut Roberto, kompetisi tersebut merupakan bagian dari proses untuk memastikan kompetensi tim ERT terus berkembang sesuai dengan tantangan operasional.

"Secara prinsip sebenarnya kita hanya coba terus mendekati dengan mensimulasikan apa yang ada di dalam keseharian kita. Sehingga kompetensi dari seluruh tim ERT PAMA itu siap jika terjadi suatu kondisi yang tidak kita harapkan," ujarnya.

Cabin Underwater Emergency Training. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Enam Kategori Kompetisi

PFRC 2026 diikuti 19 tim dan delapan tim observer yang berasal dari sejumlah unit dan perusahaan dalam entitas PAMA maupun Grup Astra. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang diikuti lebih dari 20 tim.

Roberto menjelaskan, pengurangan jumlah tim bukan berarti menurunkan intensitas kegiatan. PAMA justru melakukan penggabungan sejumlah klaster untuk menjaga kesiapsiagaan tim di area operasional.

"Tahun ini 19 tim saja yang melakukan pertandingan atau mengikuti pertandingan dan delapan observer dibandingkan tahun lalu yang melebihi dari angka 20," katanya.

Menurutnya, terdapat sejumlah klaster yang dikolaborasikan dalam satu tim. Langkah tersebut juga mempertimbangkan kebutuhan operasional di lapangan agar kesiapsiagaan personel tetap terjaga.

Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

"Jadi ada beberapa klaster yang kita coba kolaborasikan di dalam satu tim. Sehingga memang terlihat lebih kompak," ujarnya.

PFRC 2026 mempertandingkan enam event utama, yakni Fireman Competency Test dan Individual Skill, Structural Fire Search and Rescue yang dikombinasikan dengan Road Accident Rescue, High Angle Rescue Technique dan Confined Space Rescue, Underwater Rescue, Collapse Structure Search and Rescue, serta Firefighter Combat Challenge.

Selain kompetisi, PFRC tahun ini juga diisi proses sertifikasi bagi peserta melalui asesor internal yang telah tersertifikasi LSP PAMA.

Dari Lomba ke Aksi Nyata

Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Ahmad Syauqi, mengapresiasi konsistensi PAMA menyelenggarakan PFRC hingga memasuki tahun ke-11.

Menurutnya, kegiatan tersebut penting karena keselamatan pertambangan tidak cukup hanya mengandalkan upaya pencegahan. Perusahaan juga harus memiliki kesiapan menghadapi keadaan darurat melalui personel yang kompeten, organisasi yang siap, latihan terencana, komunikasi efektif, serta koordinasi yang baik.

"Kompetisi dapat menghasilkan prestasi, tetapi proses di dalamnya harus menghasilkan pembelajaran," kata Syauqi dalam kesempatan yang sama.

Ia menilai pengalaman yang diperoleh peserta selama PFRC perlu dibawa kembali ke area kerja masing-masing dan diterapkan dalam pelatihan maupun simulasi untuk memperkuat sistem tanggap darurat.

Syauqi menekankan, keberhasilan tim tanggap darurat pada akhirnya tidak hanya diukur dari hasil kompetisi, tetapi dari kesiapan mereka ketika benar-benar dibutuhkan di lapangan. Ia pun mengapresiasi PAMA yang dinilai cepat tanggap dalam membantu penanganan bencana nasional, termasuk gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Ahmad Syauqi dan Manajemen PAMA meninjau Underwater Rescue. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

“Kami menyampaikan salam hormat dan terima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh PAMA dalam upaya kemanusiaan di bencana NTT yang sudah kami sampaikan dan apresiasi pada minggu lalu, pada hari Rabu,” imbuh Syauqi.

Apresiasi tersebut sejalan dengan komitmen PAMA dalam membangun kapasitas tim tanggap darurat yang tidak hanya ditujukan untuk menghadapi risiko di area operasional. Roberto mengatakan, kompetensi rescuer dibentuk melalui proses yang panjang, mulai dari evaluasi, disiplin, latihan, hingga kemauan untuk terus belajar dan berkembang.

“Tujuan terbesar kita adalah memastikan bahwa ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, setiap tim mampu memberikan respons yang cepat, tepat, aman, dan efektif, sehingga nyawa dapat diselamatkan, risiko dapat diminimalkan, dan operasional dapat dipulihkan,” tegas Roberto.

Menurut Roberto, kemampuan tersebut juga harus dapat diterapkan ketika terjadi bencana di luar wilayah operasional perusahaan. PAMA sebelumnya mengerahkan tim Emergency Response Team (ERT) untuk membantu penanganan bencana, termasuk gempa di NTT serta banjir di Sumatra-Aceh.

Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Karena itu, keberadaan tim rescue tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan operasional perusahaan. Lebih luas, kompetensi yang dibangun melalui latihan dan simulasi juga menjadi modal untuk berkontribusi ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.

“Secara prinsip, PAMA juga memberikan komitmen kepada Kementerian ESDM bahwa kita akan selalu siap jika ada kondisi bencana seperti gempa NTT, atau sebelumnya juga banjir di Sumatra,” ujar Roberto.

Pesan tersebut menjadi salah satu makna penting penyelenggaraan PFRC ke-11 tahun 2026. Kompetisi bukan sekadar ajang untuk menentukan tim terbaik, melainkan sarana menguji kompetensi, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan kemampuan rescuer dapat digunakan ketika dibutuhkan, baik di area operasi maupun dalam situasi kebencanaan di dunia nyata.

Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Artikel Terkait