Pakar Soroti Skema Kontrak dan Pembayaran Ekspor Batu Bara Satu Pintu DSI

Kebijakan ekspor batu bara satu pintu yang dikelola DSI mendapat sorotan terutama terkait kepastian skema transaksi yang akan diterapkan penuh pada awal tahun 2027 nanti.

Pakar Soroti Skema Kontrak dan Pembayaran Ekspor Batu Bara Satu Pintu DSI
Ilustrasi.

Jakarta, TAMBANG - Kebijakan ekspor batu bara satu pintu mendapat sorotan terutama terkait kepastian skema transaksi antara pembeli, produsen dan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pengelola eskpor tunggal.

Kepastian tersebut terutama tidak pada masa transisi yang berlaku hingga Desember 2026 dan hanya mencakup kewajiban pelaporan, melainkan pada saat implementasi penuh yang direncanakan mulai awal 2027.

Ketua Bidang Hubungan Industri dan Asosiasi Industri PERHAPI, Ardhi Ishak, menilai ada beberapa aspek krusial yang perlu diperjelas oleh pemerintah maupun pengelola sistem, khususnya terkait bentuk kontrak, mekanisme penetapan harga, dan sistem pembayaran dalam skema tersebut.

“Yang paling dikhawatirkan sebenarnya adalah bentuk kontraknya, mekanisme penetapan harga, dan sistem pembayarannya,” ujar Ardhi kepada TAMBANG, Jumat (19/6).

Ia menjelaskan, dari sisi harga, pelaku usaha masih dapat beradaptasi apabila acuan yang digunakan tetap mengacu pada Harga Batubara Acuan (HBA), selama DSI menggunakan referensi yang sama dalam penetapan harga.

Namun, menurutnya, persoalan utama justru terletak pada mekanisme pembayaran yang belum memiliki kejelasan.

Selama ini, eksportir batu bara umumnya menerima pembayaran melalui skema Letter of Credit (L/C). Setelah pembayaran diterima, perusahaan kemudian menjalankan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau nanti melalui DSI, apakah sistem pembayarannya tetap menggunakan L/C? Atau akan seperti mekanisme penjualan domestik ke PLN yang memiliki jangka waktu pembayaran cukup panjang, bahkan bisa lebih dari dua bulan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kepastian sistem pembayaran menjadi sangat penting karena akan berdampak langsung terhadap arus kas dan perencanaan operasional perusahaan. Ketidakjelasan skema dikhawatirkan dapat memengaruhi likuiditas pelaku usaha di sektor batu bara.

“Hal seperti ini sangat berpengaruh terhadap arus kas dan perencanaan operasional perusahaan,” jelasnya.

Artikel Terkait

Cipta Kridatama Perkuat Komitmen ESG, Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Bagikan 200 Paket Sembako di Kalsel

Cipta Kridatama Perkuat Komitmen ESG, Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Bagikan 200 Paket Sembako di Kalsel

Jakarta, TAMBANG — PT Cipta Kridatama (CK) menggelar pemeriksaan kesehatan gratis dan membagikan 200 paket sembako kepada masyarakat di Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini menyasar warga dari 17 desa, terutama kelompok lanjut usia dan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan. Kegiatan yang berlangsung di

By Rian Wahyuddin
Komatsu HD785-7 Hybrid EREV Mulai Diuji di Tambang Kideco, Bidik Efisiensi BBM dan Penurunan Emisi

Komatsu HD785-7 Hybrid EREV Mulai Diuji di Tambang Kideco, Bidik Efisiensi BBM dan Penurunan Emisi

Jakarta, TAMBANG – PT United Tractors Tbk (United Tractors) mendukung pengembangan teknologi elektrifikasi alat berat melalui uji lapangan Komatsu HD785-7 Hybrid EREV, rigid dump truck berkapasitas kelas 100 ton. Pengujian ini berlangsung di wilayah pertambangan PT Kideco Jaya Agung (Kideco), dengan kegiatan operasional yang dikelola oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA)

By Rian Wahyuddin