MBMA Catat Pendapatan USD1,4 Miliar Sepanjang 2025

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD1,4 miliar atau sekitar Rp23,464 triliun sepanjang tahun 2025.

MBMA Catat Pendapatan USD1,4 Miliar Sepanjang 2025
Istimewa.

Jakarta, TAMBANG – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD1,4 miliar atau sekitar Rp23,464 triliun sepanjang tahun 2025.

“Sepanjang tahun 2025, MBMA menunjukkan eksekusi yang disiplin di seluruh proyek penambangan, pengolahan, dan pengembangan hilir kami.  MBMA mencatat pendapatan tidak diaudit sepanjang 2025 sebesar sekitar USD1,4 miliar,” ujar Direktur Utama MBMA, Teddy Oetomo dalam keterangan resmi, Selasa (3/2).

Teddy menyebut, capaian ini menunjukkan ketahanan kinerja keuangan di tengah pelemahan harga nikel, yang didukung oleh volume produksi yang lebih tinggi, peningkatan produktivitas, serta peningkatan integrasi hilir.

Pada kegiatan penambangan, tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral (“SCM”) mencatat pertumbuhan yang kuat dengan produksi 7,0 juta wet metric tonnes (“wmt”) saprolit (+42% YoY) dan 14,7 juta wmt limonit (+45% YoY) sepanjang tahun buku 2025. Kinerja ini didorong oleh peningkatan produktivitas penambangan, perluasan kapasitas armada, serta optimalisasi logistik.

Meskipun terjadi peningkatan royalti dan biaya bahan bakar terkait kebijakan B40, biaya tetap terkendali dengan baik berkat produktivitas yang lebih kuat dan volume produksi yang lebih tinggi. Operasi limonit terus menghasilkan margin yang stabil, mencerminkan efisiensi operasional dan manfaat skala.

Nickel Pig Iron ("NPI") mencapai 73.871 ton nikel sepanjang tahun buku 2025, sesuai dengan panduan, meskipun terdapat pemeliharaan tungku yang telah direncanakan. Margin meningkat secara tahunan, didukung oleh biaya yang lebih rendah dan peningkatan pasokan bijih internal.

MBMA melanjutkan produksi High-Grade Nickel Matte (“HGNM”) pada Oktober 2025 setelah memperoleh perjanjian offtake yang ekonomis, dengan total produksi 19.998 ton sepanjang 2025. Meskipun volume produksi lebih rendah secara tahunan, peningkatan efisiensi biaya menghasilkan pemulihan margin yang signifikan pada 2025.

“Pada kuartal IV, MBMA juga mencatat kinerja operasional yang kuat sekaligus memajukan infrastruktur utama dan pengembangan HPAL yang akan mendorong fase pertumbuhan berikutnya,” imbuh Teddy.

“Pencapaian ini mencerminkan komitmen kami dalam membangun rantai nilai bahan baku baterai yang tangguh, terintegrasi, dan bertanggung jawab untuk mendukung peran strategis Indonesia dalam transisi energi global serta memberikan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi pemegang saham, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin