Kantongi Sejumlah ISO, Manambang Muara Enim Kejar Operasi Berkelanjutan

Kantongi Sejumlah ISO, Manambang Muara Enim Kejar Operasi Berkelanjutan

Jakarta, TAMBANG – PT Manambang Muara Enim (MME) menargetkan operasi dalam jangka panjang secara berkelanjutan. Perusahaan tambang batu bara yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim -Sumatera Selatan (Sumsel) itu, memperoleh sertifikasi International Standard Organisation (ISO).

Chief Executive Officer MME, Haryanto Damanik mengatakan, pihaknya telah memperoleh ISO 9001:2015 untuk manajemen mutu, ISO 14001:2015 untuk manajemen lingkungan, dan ISO 45001:2018 untuk manajemen Keselamatan kerja. Sertifikasi tersebut diperoleh dari British Standards Institution.

“Pencapaian sertifikasi ISO merupakan salah satu target penting untuk memastikan kegiatan dari hulu sampai hilir dapat berjalan dengan baik. Di sini, perusahaan memiliki komitmen yang kuat untuk mengedepankan langkah-langkah stategis untuk dapat terus bertumbuh,” ujar Haryanto kepada TAMBANG, Senin (18/12).

Menurutnya, benefit dari pencapaian integrasi ISO untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan, mengoptimalkan kinerja karyawan, meningkatkan good will perusahaan, dan mencegah pemborosan. Sehingga nantinya, para pemangku kepentingan atau stakeholder akan memperoleh hasil sesuai yang diharapkan.

“Termasuk juga customer akan memperoleh produk yang berkualitas baik dan mengedepankan prinsip-prinsip lingkungan dan keselamatan kerja,” tegas Haryanto.

Perjalanan Mencapai Target

MME berdiri sejak tahun 2005 sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP). Produksi perdana mulai dilakukan pada tahun 2010. Secara bertahap mengalami peningkatan, yaitu sebesar 1,2 juta ton pada 2016, dan meningkat jadi sebesar 2,3 juta ton pada tahun 2022 lalu.

“Kita mencapai produksi tertinggi pada tahun 2022 lalu sejak awal produksi, sekitar 2,3 juta ton. Di wilayah Sumatera Selatan cukup menantang untuk bisa produksi sebesar itu karena faktor keterbatasan logistik,” jelas Haryanto.

Soal logistik pengangkutan batu bara, MME mengandalkan dua cara. Pertama, melalui jalan khusus tambang batu bara milik PT Servo Lintas Raya (PT SLR) untuk sampai ke dermaga milik PT Swarnadwipa Dermaga Jaya (PT SDJ) di Perambatan, Kecamatan Abab. Lalu kedua, menggungakan jalur kereta api milik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk sampai ke dermaga milik PT RMK Energy (PT RMK) di Keramasan, Kecamatan Kertapati.

Pada kesempatan yang sama, Chief Operating Officer MME, Ranto Stepanus Banuarea menjelaskan, MME punya potensi untuk beroperasi dalam jangka panjang. Sebab, MME masih mengantongi cadangan batu bara yang cukup banyak.

Dalam beberapa tahun mendatang, MME memasang target untuk menggenjot produksi yang akan naik setiap tahunnya secara bertahap.

“Kami harus berbenah agar kami bisa berkelanjutan. Karena cadangan cukup banyak dan harus kami kelola,” ujar Ranto.

Secara khusus, sambung Ranto, pencapaian ISO tahun ini diharapkan bisa mendorong MME mendapat penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) kategori hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Dengan sertifikasi ISO, kami berharap bisa lebih fokus, efektif, dan efisien lagi untuk mencapai target pertumbuhan di kemudian hari. MME mentargetkan Proper hijau, bukan hal yang mudah didapat, tentunya butuh komitmen dan konsisten bersama,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda