I-SER UI Tegaskan Banjir Garoga Tapsel Dipicu Hujan Ekstrem dan Longsor
Jakarta, TAMBANG - Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI) merilis hasil kajian terkait banjir bandang yang melanda Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Berdasarkan kajian tersebut, banjir bandang yang terjadi tahun lalu dipicu oleh hujan ekstrem akibat pengaruh Siklon Senyar, bukan disebabkan oleh aktivitas pertambangan.
"Hasil temuan karena siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang," ujar peneliti I-SER UI, Eko Kusratmoko, saat dihubungi pada Minggu (16/8).
Berdasarkan pemodelan hidrologi dan hidrodinamik terkait bencana pada 25 November 2025 tersebut, terungkap bahwa curah hujan harian mencapai 229,7 mm dengan akumulasi mingguan melebihi 600 mm—angka yang setara dengan periode ulang 300 tahun.
Meski data menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga sepanjang 1990–2026 dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, porsinya hanya mencakup sekitar 10 persen dari total luas DAS sebesar 445 kilometer persegi.
"Sebagian besar perubahan lahan sawit memang sebagian besar di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir," jelas Eko.
Kondisi bencana diperparah oleh munculnya sekitar 1.572 titik longsor di wilayah hulu yang terdeteksi melalui pencitraan satelit. Material longsor yang terbawa ke hilir kemudian membendung aliran sungai hingga memicu banjir bandang.
"Dari 1.572 titik, 81 persen ada di wilayah lahan hutan dengan lereng curam sampai sangat curam. Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang," paparnya.
Mengenai spekulasi publik yang mengaitkan aktivitas pertambangan di Aek Pahu sebagai pemicu banjir, Eko mengonfirmasi bahwa kajian membuktikan kedua hal tersebut tidak berhubungan.
"Aek Pahu posisinya di sebelah selatan. Aliran air dari Aek Pahu itu dari wilayah pertambangan mengalir juga ke bagian hilir Sungai Garoga, sudah mendekati laut titiknya. Jadi tidak mengalir di tengah yang banjir ini, di luar sistem," ungkapnya.
Eko menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan menyambut baik hasil riset ini. I-SER UI mendorong adanya pembenahan tata ruang di Garoga untuk menetapkan kawasan permukiman aman serta titik evakuasi. Kendati demikian, langkah tersebut membutuhkan kesepakatan bersama warga setempat.
"Kami beri batas aman mana yang boleh ditinggali, mana yang bisa jadi tempat evakuasi. Tata ruang perlu kesepakatan Pemda dengan masyarakat," kata Eko.