Harga Nikel Global Melambung, Sekum APNI: Belum Dirasakan Penambang Domestik

Harga Nikel Global Melambung, Sekum APNI: Belum Dirasakan Penambang Domestik

JAKARTA, TAMBANG – Harga nikel di pasar dunia per Selasa 8 Maret 2022 naik sebesar 110 persen atau mencapai USD 101.350 per ton. Angka ini dinobatkan sebagai harga tertinggi sepanjang sejarah, malah imbas dari melesatnya harga tersebut London Metal Exchange (LME) membekukan sementara pasar nikelnya.

Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey menyebut bahwa secara umum naiknya harga nikel global membawa dampak positif bagi penambang nikel domestik, baik yang bergelut di sektor hulu maupun hilir.

Tapi jika dilihat dari sisi regulasi yang berlaku, kata Meidy,  maka naiknya harga tersebut tidak  bisa dinikmati langsung oleh pengusaha tambang nikel dalam negeri.  

Hal ini lantaran Harga Patokan Mineral (HPM) yang dikeluarkan pemerintah melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengambil patokan  harga di 3 bulan terakhir, bukan harga per hari ini.

“Tentu bila harga nikel dunia, katakanlah di atas 80.000 atau 100.000 dolar AS per ton, stabil selama sebulan ke depan, maka nanti pada April yang akan datang HPM kita akan meningkat,” ujar Meidy dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (9/3).

Lebih jauh, Meidy menjelaskan alasan lain mengapa penambang domestik belum bisa merasakan harga fantastis mineral bersimbol Ni itu. Menurut dia, masih banyak perusahaan tambang nikel yang Rencana Kerja dan Anggaran Biayanya (RKAB) belum disetujui pemerintah sehingga mereka tidak bisa menjual hasil produksi di tengah harga yang sedang bagus.

“Bagaimana para penambang bisa menikmati eforia harga nikel yang lagi tinggi ini jika banyak perusahaan belum mengantongi izin rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) karena belum semua penambang mendapatkan izin RKAB? Bagaimana mau jualan di angka yang fantastis ini kalau tidak ada persetujuan RKAB-nya,” jelasnya.

“Padahal, kebutuhan untuk smelter tahun ini kan, menurut perhitungan APNI, hampir 120 juta ton bijih nikel. Kalau semua sudah mendapatkan izin RKAB, kita bisa melakukan penjualan untuk harga nikel sekarang pada Maret,” tandasnya.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin