Harga Minyak Terpuruk, Mandatori Biodiesel Terancam Mandek

Harga Minyak Terpuruk, Mandatori Biodiesel Terancam Mandek

Jakarta-TAMBANG. Merosotnya harga minyak rupanya memberi efek negatif pada perkembangan program pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) sebagai campuran BBM yang tahun ini rencananya digulirkan sebesar 10%. Pasalnya, dengan harga minyak yang terus menurun membuat program mandatori BBN tak lagi ekonomis. Terlebih, para produsen BBN meminta kenaikan harga.

Presiden Direktur PT Eterindo Wahanatama Tbk, Immanuel Sutarto mengatakan sepanjang Januari ini, Eterindo menghentikan suplai biodiesel ke Pertamina karena harga jualnya jauh di bawah biaya produksi.

"Rencananya tahun ini kami akan menjual ke Pertamina sebanyak 36.000 ton, tapi kami hentikan karena Harga Indeks Pasar (HIP) memberatkan kami," ujar dia, Jumat (30/1).

Saat ini, Immanuel menuturkan, harga indeks biodiesel yang ditetapkan pemerintah mencapai 103,48 dikali dengan acuan harga dari mean of platts Singapore (MOPS) yang sekarang di level US$ 540 per ton. Dengan hitungan itu, harga jual acuan biodiesel yang dibayar Pertamina Rp 5.400 per liter atau setara dengan harga premium (lsp).

Sontak, hitungan ini menuai protes dikalangan produsen biodiesel. Dalam hitungan pengusaha, ongkos produksi BBN Rp 6.000 per lsp. Ini belum termasuk ongkos angkut. Sutarto menghitung, jika ditambah ongkos produksi dan angkut, harga jual biodiesel harusnya di atas Rp 8.000 per lsp.

"Ongkos produksi tinggi, karena komponen produksi tak berpengaruh harga minyak yang turun," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Produsen Biofeul Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan menjelaskan rendahnya harga jual minyak mengancam industri biodiesel. "Penetapan HIP mengacu harga solar. Ini tak tepat, seharusnya sesuai dengan harga komponen industri sawit. Produsen rugi, kalau jualnya seperti harga solar yang saat ini turun," ujar Paulus.

Menurut Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana, Pertamina belum mampu memanfaatkan bahan bakar dari kelapa sawit itu untuk dicampur dengan BBM jenis solar karena tingginya harga jual biodiesel. Makanya, Kementerian ESDM akan minta tambahan subsidi biodiesel menjadi Rp 5.000 per lsp. Angka ini naik dari 2014 yang hanya Rp 3.000 per lsp.

"Kalau program harus harus jalan, kami usulkan tambahan subsidi," ujarnya.

Targetnya, penyerapan biodiesel 3,41 juta kiloliter. Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika bilang, permintaan penaikan subsidi untuk biodiesel belum diputuskan karena DPR masih harus mendengar alasan pemerintah.

Artikel Terkait

PGN Perkuat Portofolio Pasokan Gas Bumi melalui Tujuh Kesepakatan Strategis di FOREK Hulu Migas 2026

PGN Perkuat Portofolio Pasokan Gas Bumi melalui Tujuh Kesepakatan Strategis di FOREK Hulu Migas 2026

Jakarta,TAMBANG,- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina terus memperkuat portofolio pasokan gas bumi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pelanggan secara berkelanjutan. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan tujuh dokumen kesepakatan komersial dalam Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Rabu

By Egenius Soda
Minerba Convex 2026 Perkuat Kolaborasi, Tata Kelola Tambang Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat

Minerba Convex 2026 Perkuat Kolaborasi, Tata Kelola Tambang Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat

Jakarta, TAMBANG — Sebanyak 18 asosiasi subsektor industri pertambangan mineral dan batu bara bersama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menggelar Minerba Convention and Expo (Convex) 2026 pada 2–3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Minerba Convex 2026 akan dibuka secara

By Rian Wahyuddin
Meningkat 46 %, ANTAM Catatkan Laba Bersih Rp9,66 Triliun hingga September 2026

Meningkat 46 %, ANTAM Catatkan Laba Bersih Rp9,66 Triliun hingga September 2026

Jakarta, TAMBANG – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang Januari–September 2026. Emiten pertambangan berkode saham ANTM ini membukukan laba bersih sebesar Rp9,66 triliun, meningkat 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,61 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh optimalisasi kinerja operasional, penguatan strategi pemasaran,

By Rian Wahyuddin