Batu Bara : PLTU India Paling Tidak Efisien di Dunia

Batu Bara : PLTU India Paling Tidak Efisien di Dunia

NEW DELHI—TAMBANG. PEMBANGKIT listrik berbahan bakar batu bara yang digunakan di India adalah salah satu yang paling tidak efisien di dunia. Ini merupakan kesimpulan dari dua tahun riset oleh Pusat Ilmu Pengetauan dan Lingkungan (CSE) India.

Riset ini dilaksanakan di bawah Proyek Peringkat Hijau (GRP). Ini merupakan studi pertama yang dilaksanakan di lingkup industri kelistrikan, di India, dengan cara mengevaluasi kinerja lingkungan dan ketaatannya pada aturan.

Yang menjelaskan hasil studi adalah M.S. Swaminathan, yang dikenal sebagai ‘’Bapak’’ Revolusi Hijau di India, Sabtu lalu. Direktur Jenderal CSE, Sunita Narain, mengatakan, ‘’Tujuan penelitian ini untuk memberi gambaran jelas dan terang mengenai kinerja sektor kelistrikan.’’

‘’Temuan kami, di India, negara dengan permintaan sumber daya terus bertambah, pembangkit listrik bekerja jauh di bawah standar dunia. Dengan terus bertambahnya pemakaian batu bara sebagaimana diproyeksikan pemerintah, akan menimbulkan masalah berupa pencemaran udara dan air, kecuali bila dilakukan tindakan nyata untuk memangkas pencemaran,’’ kata Sunita Narain.

Untuk melakukan penilaian, ada 60 parameter yang diukur. Pemakaian air, batu bara, pengelolaan limbah, polusi debu, semua diukur. Masyarakat diwawancara, dimintai penjelasan mengenai dampak keberadaan pembangkit bagi air, udara, serta kebisingan yang mereka alami.

Priyavrat Bhati, Direktur Program Industri Berkelanjutan CSE mengatakan, bagian paling memprihatinkan terhadap survei ini adalah, 20 pembangkit ternyata nilainya amat rendah. Ini menunjukkan komitmen mereka terhadap lingkungan yang sangat lemah. Beberapa pembangkit listrik malah emoh berpartisipasi.

Sumber foto: theecologist.org.

Artikel Terkait

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi. Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

By Rian Wahyuddin
Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mendorong Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi metalurgi dan mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Winarno dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 yang digelar

By Rian Wahyuddin