Atlas Copco Duduki Peringkat 11 Dunia, Sebagai Perusahaan Peduli Lingkungan

Atlas Copco Duduki Peringkat 11 Dunia, Sebagai Perusahaan Peduli Lingkungan
Jakarta-TAMBANG. Atlas Copco mendapatkan peringkat ke 11 dari 500 perusahaan dunia yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan versi Majalah Newsweek Amerika.   Pada awal Juli 2015 lalu, Majalah Newsweek merilis hasil peniliannya terhadap 500 perusahaan dunia soal keberlanjutan usaha dan dampak lingkungan.  Dalam melakukan penilain tersebut Majalah Newsweek melibatkan peneliti dari Corporate Knights Capital dan HIP Investors Inc, guna menganalisa dampak lingkungan dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh 500 perusahaan tersebut dengan indikator penelitian spserti, penggunaan energi, air, emisi gas rumah kaca dan daur ulang limbah.   Atlas Copco sebagai perusahaan yang dinobatkan memiliki kegiatan usaha bekerlanjutan dengan memperhatikan kelestarian di peringkat ke 11 perusahaan dunia, mengaku senang dengan prestasi yang didapatkannya ini.   Sebagaimana yang disampaikan Mala Chakraborti, Wakil Presiden Corporate Responsibility Atlas Copco, menjalankan kegiatan usaha dengan memperhatikan kelestarian lingkungan merupakan komitmen utama yang wajib dilakukan oleh perusahaan.   Komitmen tersebut, lanjut Mala Chakraborti, terlihat dari kesungguhan perusahaan dalam menciptakan produk-produk inovatif guna menekan penggunaan energi dalam menjalankan kegiatan usahanya, hal ini juga memiliki manfaat dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu produk inovatif yang dihasilkan adalah mesin kompresor hemat konsumsi bahan bakar di 1994 lalu.   Kemudian Atlas Copco juga terus mengembangkan mesin kompresor ini di 2013 lalu, dengan konsumsi bahan bakar lebih dari setengah dibandingkan kompresor tradisional. Komitmen kepedulian Atlas Copco kepada kelestarian lingkungan juga diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal tahun ini.  

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda