Asiatic Bangun Pelabuhan Induk Batu Bara

Hilirisasi
Ilustrasi

Jakarta-TAMBANG. PT Asiatic Universal Indonesia membangun pelabuhan induk dan pengolahan batu bara di Muara Badak dan Merangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim). Pembangunan yang ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan itu menelan biaya hingga Rp 4 triliun.

Peresmian pembangunan pelabuhan dan pengolahan itu antara lain dihadiri oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), R Sukhyar dan Direktur Utama Asiatic Universal, Herru Tomo Husodo.

Sukhyar mengatakan, pelabuhan khusus batu bara diperlukan dalam rangka optimalisasi penerimaan negara. Nantinya segala kegiatan pengangkutan batu bara akan melalui pelabuhan ini.

“Kami harapkan masa konstruksi bisa menyerap tenaga lokal. Saat operasi bisa menimbulkan efek ganda, seperti penyedia jasa, barang modal yang diambil dari Kalimantan Timur,” kata Sukhyar di Muara Badak, seperti dikutip dari Beritasatu.com, Minggu (22/2).

Sukhyar menuturkan, pelabuhan khusus diperlukan, lantaran selama ini kegiatan transaksi batu bara (transhipment) dilakukan di tengah pantai tanpa pengawasan pemerintah. Dia mengatakan, pada pelabuhan induk ini nantinya akan dilengkapi dengan perangkat terintegrasi dari beberapa instansi.

“Akan ditempatkan syahbandar, bea cukai, monitoring room, karantina dan sebagainya. Ini memudahkan Pemda dalam mengawasi batu bara yang keluar,” ujarnya.

Pelabuhan di Muara Badak ini merupakan bagian dari 14 pelabuhan khusus batu bara yang direncanakan pemerintah. Pelabuhan khusus ini tidak digunakan sendiri, melainkan akan menampung batu bara dari para pelaku usaha batu bara.

Dengan beroperasinya 14 pelabuhan itu, diharapkan ekspor batu bara ilegal melalui pelabuhan-pelabuhan kecil (jalur tikus) dapat ditekan.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda