Timah Targetkan Penjualan 30 Ribu Ton di 2015

Timah Targetkan Penjualan 30 Ribu Ton di 2015

Jakarta-TAMBANG. Perusahaan tambang timah plat merah, PT Timah (Persero) Tbk menargetkan akan melakukan penjualan sekitar 30 ribu ton sepanjang tahun 2015. Keputusan itu diambil lantaran mengikuti kebijakan pemrintah yang akan membatasi ekspor timah maksimal 50 ribu ton per tahun.

Direktur Utama PT Timah, Sukrisno menyampaikan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah yang akan membatasi ekspor. Menurutnya hal itu akan membuat harga komoditi timah naik secara siginifikan. Ia memperkirakan, dengan asumsi jumlah ekspor sebesar itu, harga jual timah bisa mencapai di atas US$ 25.000 per ton.

“Kalau penjualannya tertib begini pasti harga bisa naik. Harga sekarang masih di atas 22 ribu,” kata Sukrisno di temui di Kantor Ditjen Minerba, Jumat (5/12).

Sukrisno menambahkan dengan adanya sistem ekspor melalui satu pintu yakni lewat BKDI, maka seluruh produk timah bentuk apapun dapat dikendalikan. Hal itu juga berlaku bagi produk timah soldier yang banyak dicari oleh industry di Amerika Serikat.

“Sekarang meraka lagi cari banyak untuk industri elektronik. Timah kita tidak perlu lagi tergantung pada harga LME. Kita bisa tentukan sendiri,” ungkapnya.

Terkait dengan protes dari daerah Bangka Belitung terhadap keberadaan BKDI yang tidak memberikan banyak kontribusi, Sukrisno menilai hal itu bukan menjadi urusan pelaku usaha. Namun bukan berarti dengan adanya protes itu, keberadaan bursa justru ditutup. “Bursa sangat penting buat timah, jika ada yang tidak beres ya sistem bursanya yang harus dibenahi,” ujarnya.

Artikel Terkait

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Jakarta, TAMBANG — Risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional. Blackout dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, gangguan infrastruktur kelistrikan, hingga meningkatnya kompleksitas sistem energi seiring pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Feiral Rizky Batubara, Pengamat

By Rian Wahyuddin