Terbesar Di Asia Tenggara, Proyek PLTS Terapung Cirata Dibiayai Konsorsium Global

TKDN PLTS

Jakarta, TAMBANG – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata 145 MWac telah mencapai tahapan penuntasan pendanaan atau financial close. Proyek yang menggunakan skema power purchase agreement (PPA) built, own, operate, and transfer selama 25 tahun ini, resmi dibiayai oleh konsorsium global, di antaranya Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Societe Generale, dan Standard Charter Bank.

Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Gong Matua Hasibuan mengatakan, proyek PLTS Terapung Cirata telah melewati titik kritis berupa tahapan financial close pada 2 Agustus 2021. Dengan tercapainya tahapan ini, proyek yang akan dibangun di atas Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat tersebut diharapkan dapat beroperasi secara komersial pada November 2022.

Lender kami telah mengonfirmasi bahwa semua syarat telah terpenuhi untuk dapat mendanai proyek ini. Tugas kami berikutnya mengawal proses konstruksi ini dengan baik sehingga dapat mencapai target commercial operation date,” ujar Gong dalam acara Deklarasi Financial Close Proyek PLTS Terapung Cirata, Selasa (3/8).

Lebih lanjut, Gong menuturkan bahwa pihaknya juga telah menyelesaikan pembebasan lahan untuk pembangunan control room, switchyard, dan transmisi, serta semua proses perizinan yang penting terkait proyek ini. Kehadiran PLTS Terapung Cirata diharapkan membawa dampak positif bagi Indonesia, antara lain meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) yang ditargetkan sebesar 23 persen pada 2025, menurunkan emisi karbon, mampu meningkatkan foreign direct investment, membuka lapangan kerja domestik, dan meningkatkan industri dalam negeri, terutama industri modul surya dan floating system.

Selain itu, proyek ini juga digadang-gadang akan menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

“PLTS ini memiliki tarif yang kompetitif senilai USD 5,8179 sen per kWh yang diharapkan akan membantu menurunkan BPP listrik di sistem Jawa Madura Bali,” kata Gong.

PLTS Terapung Cirata dikembangkan oleh project company PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) yang dimiliki oleh PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) sebesar 51 persen dan 49 persen oleh Masdar, anak usaha Mubadala Investment Company yang merupakan perusahaan energi baru terbarukan (EBT) berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini menambahkan bahwa tercapainya financial close ini, merupakan bentuk dukungan kepercayaan lembaga keuangan internasional terhadap proyek strategis nasional yang dilaksanakan oleh PLN Grup.

“Dengan diperolehnya dukungan pendanaan atas proyek ini maka tahapan konstruksi akan dapat segera kami mulai. Kami optimistis dengan dukungan proyek pembangkit ramah lingkungan ini dapat beroperasi komersial sesuai target pada akhir 2022,” kata Zulkifli.

Menurutnya, kehadiran PLTS Terapung Cirata akan menjadi revolusi pengembangan EBT di dalam negeri mengingat pembangkit listrik ini dapat mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 214.000 ton per tahun.

Artikel Terkait

Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Jakarta,TAMBANG,- Sektor pertambangan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami dinamika. Secara keseluruhan tahun 2026 sektor ini akan mengalami tekanan baik dari internal yakni dalam negeri maupun situasi gobal. Tenaga Ahli Profesional Kekayaan Alam, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) menjelaskan sektor tambang akan mengalami koreksi di paruh pertama tahun ini. Kemudian

By Egenius Soda
Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Jakarta,TAMBANG,- Industri pertambangan, energi, konstruksi, hingga migas sedang menghadapi sejumlah tantangan operasional. Di tengah kebutuhan produksi yang tinggi, perusahaan juga dituntut untuk menjaga efisiensi, mengurangi downtime, dan memastikan alat berat tetap bekerja secara optimal. Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah kualitas bahan bakar. Dalam penggunaan mesin

By Egenius Soda