Surya Kalimantan Sejati Jaga Keandalan Pasokan Batu Bara untuk IPP Kaltengsel

PT Surya Kalimantan Sejati (Sinarmas Group) menegaskan komitmennya menjaga keandalan pasokan batu bara untuk IPP di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (Kaltengsel) meski menghadapi berbagai tantangan operasional.

Surya Kalimantan Sejati Jaga Keandalan Pasokan Batu Bara untuk IPP Kaltengsel
Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati (Sinarmas Group), Setya Graha dalam Seminar Nasional Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 yang diselenggarakan ASPINDO bersama Majalah TAMBANG di Badung, Bali, Jumat 22/5).

Badung, TAMBANG – PT Surya Kalimantan Sejati (Sinarmas Group) menegaskan komitmennya menjaga keandalan pasokan batu bara untuk Independent Power Producer (IPP) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (Kaltengsel) meski menghadapi berbagai tantangan operasional.

Sebagai satu-satunya pemasok batu bara dalam radius 100 kilometer dari lokasi pembangkit, perusahaan memastikan operasional tambang harus berjalan 100 persen guna menjaga stabilitas pasokan listrik di wilayah Kaltengsel.

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha menjelaskan, perusahaan mengoperasikan tambang batu bara seluas sekitar 6.500 hektare yang berada sekitar 6–8 kilometer dari lokasi IPP berkapasitas 2x100 megawatt di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

“Posisi kami di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Gunung Mas. Kami memiliki IPP 2x100 megawatt dengan area tambang sekitar 6.500 hektare yang berjarak kurang lebih 6 hingga 8 kilometer menuju IPP,” ujar Setya Graha dalam Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 di Badung, Bali, dikutip Selasa (26/5).

Setya mengatakan, tantangan utama yang dihadapi perusahaan berasal dari spesifikasi batu bara yang memiliki kalori relatif rendah, yakni sekitar 3.300–3.500 kcal/kg, dengan tingkat total moisture cukup tinggi di kisaran 38–44 persen.

Selain itu, kondisi operasional juga dipengaruhi oleh jarak overburden (OB distance) yang mencapai lebih dari 1 kilometer hingga 2 kilometer.

“Spesifikasi coal kami berada di kalori 3.300 hingga 3.500 dengan total moisture yang cukup tinggi antara 38 sampai 44 persen. Ditambah lagi OB distance juga cukup jauh, lebih dari 1 kilometer sampai 2 kilometer,” katanya.

Meski menghadapi tantangan tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjaga keandalan pasokan batu bara untuk IPP. Hal ini lantaran PT Surya Kalimantan Sejati menjadi satu-satunya pemasok batu bara di wilayah tersebut.

“Kami 100 persen supply kepada IPP dan kebetulan di area kami dalam radius 100 kilometer tidak ada satu tambang pun yang beroperasi. Jadi suka tidak suka, mau tidak mau, kami harus tetap berjalan untuk memastikan pasokan kepada IPP,” jelasnya.

Menurutnya, keberlangsungan operasional perusahaan menjadi sangat penting karena berkaitan langsung dengan pasokan listrik di wilayah Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Selatan yang kini telah terintegrasi dalam sistem kelistrikan PLN.

“Kalau sampai supply terganggu, sebagian besar sistem kelistrikan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan akan bermasalah. Karena itu kami tidak boleh miss dalam operasional dan harus berjalan 100 persen,” tegasnya.

Artikel Terkait

IMA Minta Ada Masa Transisi Dari Kebijakan Tata Kelola Ekspor yang Baru

IMA Minta Ada Masa Transisi Dari Kebijakan Tata Kelola Ekspor yang Baru

Jakarta,TAMBANG,- Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA) menegaskan perlunya panduan lebih jelas dalam proses transisi kebijakan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis. “Dibutuhkan kejelasan agar proses negosiasi yang krusial bagi perusahaan dapat tetap berjalan untuk keberlanjutan perusahaan dan menjaga kestabilan pasar,” ungkap Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti. Sebagai

By Egenius Soda