SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045

SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045
Istimewa.

Yogyakarta, TAMBANG – Penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong transformasi industri mineral dan batubara (minerba) menuju Indonesia Emas 2045.

Hilirisasi, digitalisasi, transisi energi, dan tuntutan keberlanjutan membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi yang semakin beragam.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Mempersiapkan SDM Unggul, Inovatif, dan Produktif untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan Alumni Angkatan 1976 UPN Veteran Yogyakarta bersama Majalah TAMBANG di Kampus 1 UPN Veteran Yogyakarta, Sleman, dikutip Senin (22/8/2026).

Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., mengatakan sektor minerba memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Pada 2026, sektor tersebut berkontribusi sekitar 8,8% terhadap perekonomian Indonesia.

Dari sisi penerimaan negara, kontribusinya juga signifikan. Pada akhir 2025, kontribusi sektor sumber daya alam terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp248,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor minerba menyumbang sekitar Rp138 triliun, sementara minyak dan gas sekitar Rp105 triliun.

Istimewa.

Menurut Irhas, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa minerba masih menjadi salah satu penopang penting penerimaan negara. Namun, keberhasilan sektor ini tidak semestinya hanya diukur dari produksi dan penerimaan negara.

“Ukuran lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan sektor ini menciptakan nilai tambah yang tinggal di Indonesia. Kita perlu bertanya, berapa banyak teknologi yang mampu kita kuasai, seberapa luas kesempatan kerja berkualitas yang tercipta, serta seberapa baik lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah tambang dapat terlindungi,” ujarnya.

Ia menilai terdapat sedikitnya empat tantangan utama yang harus dijawab industri minerba, yakni hilirisasi, keberlanjutan, digitalisasi, dan tata kelola.

Dalam hilirisasi, industri pertambangan dituntut bergerak dari ekspor bahan mentah menuju produksi komponen industri dan material maju. Sementara dari sisi keberlanjutan, penerapan praktik pertambangan yang baik perlu diperkuat melalui pengelolaan lingkungan, keselamatan, reklamasi dan pascatambang, efisiensi energi, pengurangan emisi, serta perlindungan biodiversitas.

Adapun digitalisasi akan semakin mendorong pemanfaatan otomatisasi, kecerdasan artifisial, penginderaan jauh, analitik data, dan pemodelan geologi dalam operasi pertambangan.

Di tengah tantangan tersebut, menurut Irhas, kebutuhan terhadap tenaga profesional justru semakin besar. Industri akan membutuhkan ahli geologi dan insinyur pertambangan, ahli metalurgi, lingkungan dan reklamasi, profesional keselamatan, analis data dan otomasi, spesialis ESG, ahli hukum dan perizinan, hingga pengembang teknologi pertambangan.

“Transisi energi tidak mengurangi arti penting mineral. Justru meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai mineral kritis untuk panel surya, jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, dan teknologi energi masa depan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan tantangan tersebut harus diimbangi dengan kesiapan SDM nasional. Ia menyebut produksi batubara nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 817 juta ton, dengan sekitar 522 juta ton atau 63,89% di antaranya diekspor.

Istimewa.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan besarnya skala industri batubara sekaligus tantangan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

“Ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, sesungguhnya yang sedang kita persiapkan bukan hanya pembangunan ekonomi dan industri, tetapi juga manusia Indonesia yang akan menjadi penggeraknya,” ujar Tri.

Ia menambahkan, nilai ekspor nikel dan turunannya telah meningkat dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 menjadi US$33,9 miliar pada 2024. Peningkatan tersebut menjadi salah satu gambaran dampak hilirisasi terhadap investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja.

Pemerintah, lanjut Tri, memproyeksikan program hilirisasi hingga 2040 dapat mendorong investasi sekitar US$618 miliar dan menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja baru.

“Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan mengisi lapangan pekerjaan tersebut? Jawabannya adalah SDM Indonesia,” tegasnya.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan dunia usaha perlu diperkuat melalui pembelajaran berbasis industri, riset, pengalaman kerja, serta penguasaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.

Tri juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan solusi dan inovasi.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, UPN Veteran Yogyakarta mendorong penguatan link and match, riset kolaboratif, serta ekosistem talenta agar perguruan tinggi dan industri dapat bersama-sama menyiapkan SDM minerba yang unggul, inovatif, produktif, adaptif, dan berintegritas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Artikel Terkait

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Jakarta, TAMBANG - PT Prima Wiguna Parama (Parama Energi) meyakini bahwa investasi terbaik bagi masa depan industri energi dan pertambangan tidak hanya dibangun melalui mesin dan infrastruktur, tetapi juga melalui pendidikan tinggi untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Semangat inilah yang mendorong Parama Energi memperkuat akses pendidikan serta pengembangan kapasitas

By Rian Wahyuddin