RI Butuh 623 Ribu Ton Aluminium Untuk Infrastruktur EBT 2045

RI Butuh 623 Ribu Ton Aluminium Untuk Infrastruktur EBT 2045

Jakarta, TAMBANG – Selain digunakan untuk keperluan alat rumah tangga, pembungkus makanan dan obat-obatan, kabel listrik hingga bahan baku badan pesawat terbang, ke depan, aluminium akan banyak digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan infrastruktur Energi Baru Terbarukan (EBT). Pada tahun 2025, pemerintah sendiri menargetkan bauran EBT sebesar 23 persen.

Untuk merealisasikan itu, Indonesia diprediksi akan menghabiskan sekitar 623 ribu ton aluminium pada tahun 2045 untuk keperluan infrastruktur EBT.

Hal ini disampaikan fungsionaris LAPI Intitut Teknologi Bandung, Fadhli Muhammad saat menghadiri acara webinar Grand Strategy Komoditas Mineral (GSKM) seri ketiga dengan tema “Aluminium, Timah: Strategi Hilirisasi Industri Metalurgi untuk Daya Saing Bangsa”, Selasa (9/11).

“Penggunaan aluminium ke depan akan terus meningkat seiring dengan tren global penggunaan energi baru terbarukan. Estimasi kebutuhan aluminium untuk kebutuhan PLTS, PLTB dan PLTP pada tahun 2045 adalah sebesar 623 ribu ton,” kata Fadhli.

Menurut Fadhli, di masa depan juga konsumsi aluminium tidak hanya mengandalkan aluminium primer, melainkan akan lebih banyak menggunakan dan memanfaatkan aluminium sekunder. Hal ini sesuai dengan instruksi pemerintah yang tengah menekan emisi karbon.

“Konsumsi aluminium sekunder ke depan akan lebih banyak dibanding dengan konsumsi aluminium primer sejalan dengan target low karbon. Pada tahun 2045 konsumsi aluminium sekunder mencapai 45 persen,” paparnya.

Fadli juga menyebut bahwa saat ini cadangan aluminium mencapai 2,9 miliar ton dan produksi sebesar 41,5 juta ton sehingga umur cadangannya diperkirakan bertahan selama 70 tahun.

Lebih lanjut dia mengatakan, ada empat usulan program utama terkait unsur kimia yang memiliki lambang Al ini. Pertama, peningkatan ketahanan cadangan dan optimalisasi produksi bahan baku industri. Kedua, peningkatan, optimalisasi dan efisiensi industri pengolahan dan pemurnian.

“Ketiga, pengebangan industri fabrikasi dan manufaktur serta peningkatan TKDN. Optimalisasi penggunaan produk dalam negeri dan pencanangan sistem daur ulang” jelasnya.  

Sedikit informasi, webinar GSKM seri tiga merupakan acara hasil kerja sama Direktorat Jenderal Minerba, Kementerian ESDM dan Prometindo. Turut hadir Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Sektor Minerba, Irwandy Arif selaku pembicara kunci. 

Artikel Terkait

BIPI Lanjutkan Rencana Divestasi Anak Usaha Sektor Batubara

BIPI Lanjutkan Rencana Divestasi Anak Usaha Sektor Batubara

Jakarta,TAMBANG,- PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) melanjutkan langkah strategis dalam memperkuat portofolio investasinya. Langkah ini sejalan dengan komitmen terhadap pengembangan bisnis energi berkelanjutan. Sebagai bagian dari strategi ini, perusahaan investasi dengan fokus pada infrastruktur energi sedang menjajaki dan berdiskusi dengan beberapa calon pembeli terkait rencana divestasi anak-anak

By Egenius Soda
NHM Dorong Efisiensi dan Inovasi Lingkungan dalam Seminar Nasional ITNY

NHM Dorong Efisiensi dan Inovasi Lingkungan dalam Seminar Nasional ITNY

Jakarta, TAMBANG – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) turut ambil bagian memberikan wawasan strategis mengenai masa depan industri pertambangan khususnya mengenai efisiensi dan inovasi lingkungan. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional yang digelar Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-22, pada

By Rian Wahyuddin