Resmi Jadi Distributor ComNav Tech, Lextera Survey Indonesia Perkuat Layanan Survei Presisi Lintas Industri

Resmi Jadi Distributor ComNav Tech, Lextera Survey Indonesia Perkuat Layanan Survei Presisi Lintas Industri
Dokumentasi Rian/TAMBANG

Jakarta, TAMBANG – PT Lextera Survey Indonesia resmi menjadi distributor produk ComNav Technology di Indonesia. Penunjukan ini menandai langkah strategis Lextera dalam memperkuat penyediaan solusi teknologi survei presisi, khususnya untuk kebutuhan pemetaan, konstruksi, perkebunan, pertambangan, dan infrastruktur.

Presiden Direktur Lextera Survey Indonesia, Rudhi Wibawa N menyampaikan bahwa melalui kerja sama tersebut, Lextera akan mendistribusikan berbagai produk unggulan ComNav Tech, termasuk perangkat Global Navigasi Satellite System (GNSS) dan solusi positioning berakurasi tinggi yang telah digunakan secara luas di berbagai negara.

“Jadi, kami PT Lextera Survey Indonesia merupakan main distributor ComNav Tech dari Cina. Ada pun alat-alat yang kami bawa ke Indonesia di antaranya GNSS, Global Navigasi Satellite System,” ujar Rudhi saat ditemui di kantor barunya yang baru saja diresmikan di Jakarta, Selasa (20/1).

GNSS adalah sistem navigasi berbasis satelit yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, dan waktu secara akurat di permukaan bumi. Teknologi ini memanfaatkan sinyal dari sejumlah satelit yang mengorbit bumi dan diterima oleh perangkat penerima (receiver) untuk menghitung lokasi dengan tingkat presisi tinggi.

Selain penyediaan produk, Lextera juga menyiapkan layanan purna jual, pelatihan teknis, serta dukungan teknis bagi para pengguna.

“Jadi di Lextera ingin bangun konsep one stop solution. Jadi kami menjual alat, siapkan teknisi, kami siapkan juga jasa untuk mengkalibrasi, malah kami juga ke depan ingin membangun sebuah sistem yang berbasis cloud yang bisa digunakan oleh pelanggan,” imbuh dia.

Wen Colar, International Sales Manager ComNav Technology Ltd (kiri) dan Presiden Direktur Lextera Survey Indonesia, Rudhi Wibawa N (kanan). Dokumentasi: Rian/TAMBANG

Sementara, Wen Colar selaku International Sales Manager ComNav Technology Ltd., menyampaikan bahwa Indonesia menjadi pasar strategis dengan pertumbuhan signifikan di sektor konstruksi, pertambangan, dan pengembangan infrastruktur.

Penunjukan Lextera Survey Indonesia sebagai distributor resmi dinilai tepat karena pengalaman dan pemahaman perusahaan terhadap kebutuhan pasar lokal.

“Kami menilai Lextera memiliki determinasi yang sangat kuat untuk menjalin kerja sama dengan teknologi ComNav. Hal tersebut sudah terlihat sejak tahun lalu, ketika mereka menunjukkan keseriusan dengan menyiapkan delegasi dalam jumlah besar untuk berkunjung ke Tiongkok dan mengunjungi langsung perusahaan kami. Selama kunjungan tersebut, kami memperlihatkan seluruh teknologi dan kapabilitas yang kami miliki,” ujar Wen Colar dalam kesempatan yang sama.

Dia lalu menerangkan perbedaan utama produk ComNav dibandingkan para kompetitor di pasar global. Kata dia, perbedaan mencolok terletak pada kemandirian teknologinya. ComNav mengembangkan dan memiliki lembaga riset utama sendiri, serta membangun teknologi konektivitas secara mandiri.

“ComNav tidak hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan dan mengembangkan teknologi dari hulu hingga hilir,” pungkas Wen Colar.

Dari Pertambangan hingga Konstruksi

ComNav menyediakan teknologi digitalisasi lintas industri yang dirancang untuk mendukung transformasi operasional di berbagai sektor strategis. Solusi yang ditawarkan mencakup teknologi survei dan pemetaan presisi, sistem positioning berakurasi tinggi, serta integrasi data digital yang membantu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keselamatan kerja.

Teknologi ComNav digunakan secara luas di sektor pertambangan, konstruksi, perminyakan dan gas bumi, perkebunan, hingga pemerintahan. Dengan pendekatan end-to-end, ComNav tidak hanya menghadirkan perangkat keras, tetapi juga solusi terintegrasi yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan operasional yang lebih efektif di lapangan.

“Target market yang kami bidik itu adalah di sektor pertambangan, perminyakan, oil and gas, plantation atau sawit, serta pemerintahan. Tentunya juga dengan beberapa perusahaan konstruksi,” beber dia.

Selain GNSS, produk unggulan ComNav Tech yang diboyong Lextera adalah MS-SAR5000. Alat ini merupakan radar pemantauan stabilitas lereng canggih yang dikembangkan oleh ComNav Technology Co., Ltd dan dirancang khusus untuk melakukan pemantauan pergeseran lereng secara real-time dengan tingkat presisi tinggi.

Dengan kemampuan tersebut, MS-SAR5000 mampu memberikan peringatan dini terhadap potensi kegagalan lereng, sehingga membantu meningkatkan keselamatan dan mitigasi risiko di berbagai aktivitas, terutama pada sektor pertambangan, konstruksi, dan infrastruktur.

“Jadi ini alat cukup canggih dan kami juga punya keyakinan bahwa alat ini akan menjadi pilihan, apalagi di sektor pertambangan. Dia bisa dipakai di open pit dan underground,” imbuh Rudhi.

Produk lainnya adalah SV600, kapal permukaan tanpa awak (USV) canggih yang dirancang khusus untuk survei hidrografi.

“Ini adalah alat dengan kategori yang bisa memetakan di bawah permukaan air. Jadi bisa digunakan untuk di pelabuhan, untuk di sungai, untuk menentukan memetakan deposit atau sedimen yang ada di bawah permukaan air,” jelasnya.

Rudhi menyampaikan bahwa produk-produk ComNav dapat meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas kerja, sekaligus memperkuat aspek keselamatan (safety) dalam setiap aktivitas di lapangan.

Di sektor pertambangan misalnya, ComNav menghadirkan solusi pengukuran untuk menghitung volume dan jumlah material di area stockpile. Dengan memanfaatkan teknologi survei presisi, perangkat ComNav memungkinkan pengukuran yang akurat dan efisien, sehingga membantu perusahaan dalam pengelolaan inventori material, perencanaan produksi, serta pengambilan keputusan operasional berbasis data.

Pengukuran stockpile dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman tanpa pengukuran manual di area berisiko, dengan hasil data berakurasi tinggi yang dapat langsung diolah menjadi laporan volume material. Solusi ini secara langsung mendukung peningkatan efisiensi, produktivitas, dan keselamatan kerja di lapangan.

“Kemudian juga kita masih ada lagi alat-alat yang bisa membantu untuk di dunia pertambangan, misalnya menentukan deposit material yang sudah digali di stockpile, itu kita punya,” jelasnya.

Perjanjian kemitraan penggunaan produk ComNav Tech dalam opening seremoni di Jakarta. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin