Rencana Kenaikan Royalti Dinilai Berisiko di Tengah Perlambatan Industri Tambang

Rencana Kenaikan Royalti Dinilai Berisiko di Tengah Perlambatan Industri Tambang
Ilustrasi.

Jakarta, TAMBANG - Rencana pemerintah menaikkan tarif royalti pertambangan mulai Juni 2026 menuai sorotan di tengah kondisi sektor tambang yang sedang melambat dan meningkatnya sensitivitas investor terhadap kepastian kebijakan jangka panjang. kebijakan tersebut perlu dikaji lebih hati-hati agar tidak menekan iklim investasi dan keberlanjutan industri mineral dan batu bara nasional.

Tenaga Profesional Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI, Edi Permadi, menilai kenaikan royalti memang berpotensi meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam jangka pendek. Namun, menurutnya, kebijakan itu juga memiliki risiko ekonomi yang tidak kecil apabila diterapkan saat kondisi industri sedang tertekan.

“Masalah utamanya bukan semata naik atau tidaknya royalti, melainkan apa yang terjadi setelah penerimaan itu masuk kas negara. Tanpa mekanisme yang memastikan dana rente SDA dialihkan ke investasi produktif, kenaikan royalti berpotensi menjadi solusi fiskal jangka pendek dengan biaya ekonomi jangka menengah,” ujar Edi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (16/5).

Ia menjelaskan, tarif royalti Indonesia saat ini sebenarnya sudah tergolong tinggi dibandingkan banyak negara produsen tambang lainnya. Untuk komoditas nikel misalnya, tarif royalti bijih telah berada di kisaran 14–19 persen. Kondisi tersebut dinilai membuat ruang kenaikan tarif semakin terbatas tanpa mengganggu keekonomian sektor.

Di sisi lain, industri pertambangan juga sedang menghadapi tekanan dari penurunan harga komoditas global, kenaikan biaya operasional, hingga ketidakpastian pasar. Edi menilai respons pasar saham beberapa waktu lalu menjadi sinyal meningkatnya persepsi risiko kebijakan di sektor pertambangan.

“Respons pasar ini bukan sekadar reaksi spekulatif jangka pendek, melainkan sinyal meningkatnya policy risk di tengah kondisi sektor yang sedang melemah,” katanya.

Edi juga mengingatkan bahwa tantangan utama negara kaya sumber daya alam bukan hanya mengumpulkan penerimaan lebih besar, melainkan mengubahnya menjadi investasi jangka panjang yang berkelanjutan. Menurutnya, kepastian regulasi sangat penting untuk menjaga investasi hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, serta daya tarik foreign direct investment di Indonesia.

“Investasi jangka panjang yang sustainable perlu dijaga dengan baik agar mampu menarik minat investasi berkelanjutan lainnya masuk ke Indonesia,” tutupnya.

Artikel Terkait

Lima Bulan Dampingi Pengobatan Kasmari hingga ke Jakarta, NHM Peduli Hadir untuk Warga Lingkar Tambang

Lima Bulan Dampingi Pengobatan Kasmari hingga ke Jakarta, NHM Peduli Hadir untuk Warga Lingkar Tambang

Jakarta, TAMBANG - Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat terus diwujudkan PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui program NHM Peduli. Salah satunya dengan memberikan pendampingan kepada Kasmari (63 tahun), seorang petani yang tinggal di Desa Beringin Agung, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, yang saat ini tengah menjalani pengobatan limfoma non-Hodgkin. Penyakit

By Rian Wahyuddin
Hingga Kuartal III Tahun ini, MYOH Sukses Catat Kinerja Positif di Semua Lini

Hingga Kuartal III Tahun ini, MYOH Sukses Catat Kinerja Positif di Semua Lini

Jakarta,TAMBANG,- Kinerja moncer berhasil dibukukan perusahaan kontraktor tambang, PT Samindo Resources Tbk (“Perseroan”). Emiten berkode MYOH ini berhasil membukukan akselerasi kinerja operasional dan lonjakan profitabilitas yang solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Penguatan ini ditopang oleh pertumbuhan produktivitas pada seluruh lini jasa pertambangan utama Perseroan. Perusahaan mencatat kinerja

By Egenius Soda
Ditjen Minerba: 2.587 UMKM Binaan Perusahaan Tambang, PPM Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah

Ditjen Minerba: 2.587 UMKM Binaan Perusahaan Tambang, PPM Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah

Jakarta, TAMBANG – Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong penguatan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) agar manfaat kegiatan pertambangan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan keberhasilan sektor

By Rian Wahyuddin
Menko Bahlil Dorong Hilirisasi hingga Produk Akhir, Evaluasi Pembangunan Smelter

Menko Bahlil Dorong Hilirisasi hingga Produk Akhir, Evaluasi Pembangunan Smelter

Jakarta, TAMBANG – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendorong pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia agar tidak berhenti pada produksi bahan setengah jadi. Karena itu, Pemerintah berencana mengevaluasi pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara untuk meningkatkan nilai tambah di

By Rian Wahyuddin