PTBA Bukukan Laba Bersih Rp2,65 Triliun di Semester I 2026

PTBA Bukukan Laba Bersih Rp2,65 Triliun di Semester I 2026
Istimewa.

Jakarta, TAMBANG – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp2,65 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut ditopang oleh pemulihan kinerja operasional pada kuartal II, penguatan harga jual rata-rata batu bara, serta program efisiensi yang terus dijalankan perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PTBA mencatatkan EBITDA sebesar Rp4,27 triliun. Adapun margin laba bersih tercatat sebesar 12%, sementara EBITDA margin mencapai 19%.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, kondisi operasional yang lebih kondusif pada periode tersebut mendorong perseroan memulihkan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” ujar Bambang dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, momentum penguatan harga batu bara global turut dimanfaatkan perseroan melalui strategi penjualan yang adaptif. Langkah tersebut berjalan beriringan dengan program efisiensi yang dilakukan secara selektif dan tepat sasaran.

“Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” katanya.

Pemulihan operasional paling terlihat pada kuartal II 2026. Secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ), produksi batu bara PTBA meningkat 94%, sedangkan penjualan tumbuh 8%. Pada periode yang sama, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) juga meningkat 14% QoQ.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ASP PTBA pada semester I 2026 meningkat 10%. Penguatan harga tersebut turut menopang pertumbuhan pendapatan perseroan di tengah penurunan volume penjualan secara tahunan.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, meningkat 8% dibandingkan semester I 2025. Kenaikan pendapatan tersebut terjadi meskipun volume penjualan turun 2% secara tahunan.

Penguatan harga batu bara global menjadi salah satu faktor pendorong. Newcastle Index tercatat meningkat 25% secara tahunan, sementara ICI-3 naik 15%. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga jual rata-rata PTBA sebesar 10% YoY.

Dari sisi pasar, penjualan domestik masih mendominasi dengan porsi 51% dari total penjualan hingga akhir Juni 2026. Sementara itu, sebanyak 49% penjualan dialokasikan untuk pasar ekspor.

Lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar PTBA pada semester I 2026 adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.

Di sisi biaya, beban pokok pendapatan PTBA tercatat Rp17,78 triliun atau turun 2% secara tahunan. Penurunan tersebut sejalan dengan penurunan volume produksi dan angkutan batu bara.

Produksi batu bara hingga semester I 2026 turun 10% YoY, sedangkan volume angkutan turun 6%. Perseroan juga mencatatkan stripping ratio sebesar 5,26 kali, lebih rendah dibandingkan 6,17 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, PTBA menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Konflik di Selat Hormuz yang terjadi sejak akhir Februari 2026 berdampak terhadap kenaikan harga BBM yang digunakan perseroan.

Hingga 30 Juni 2026, harga BBM tercatat mencapai Rp19.503 per liter atau meningkat 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut turut memberikan tekanan terhadap biaya bahan bakar, baik untuk kebutuhan jasa penambangan maupun angkutan kereta api.

Meski demikian, perseroan menyatakan biaya operasional tetap dijaga melalui program efisiensi dan disiplin operasional.

Beban operasional PTBA sendiri meningkat Rp184,84 miliar atau 13% YoY. Kenaikan tersebut terutama berasal dari komponen beban umum dan administrasi.

Sementara itu, dari sisi pendapatan dan biaya keuangan, PTBA membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp108,58 miliar atau naik 6% YoY. Peningkatan terutama dipengaruhi oleh kenaikan laba dari nilai tukar mata uang asing.

Sebaliknya, biaya keuangan turun 25% YoY menjadi Rp98,99 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya beban bunga atas pinjaman bank.

Kontribusi positif juga datang dari entitas asosiasi dan ventura bersama. Bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama mencapai Rp438,30 miliar, melonjak dibandingkan Rp209,86 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan berbagai capaian tersebut, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,65 triliun.

Selain menjaga profitabilitas, PTBA juga terus menjalankan agenda investasi. Hingga semester I 2026, realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp1,09 triliun atau sekitar 30% dari target tahunan.

Untuk tahun penuh 2026, PTBA menargetkan volume produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton. Sementara itu, volume penjualan ditargetkan mencapai 49,51 juta ton dan volume angkutan sebesar 41 juta ton.

Perseroan juga menetapkan target stripping ratio sebesar 5,63 kali dengan anggaran belanja modal sepanjang 2026 sebesar Rp3,64 triliun.

Bambang menilai capaian semester I 2026 menunjukkan kemampuan perseroan dalam memanfaatkan momentum pasar sekaligus menjaga disiplin operasional.

“Capaian tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Hingga Juli 2026, Samindo Resources  Sukses Catat Overburden Removal Sebesar 21,01 Juta BCM

Hingga Juli 2026, Samindo Resources Sukses Catat Overburden Removal Sebesar 21,01 Juta BCM

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan jasa pertambangan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) sukses mencatat akselerasi kinerja operasional yang solid hingga memasuki paruh kedua tahun 2026. Penguatan operasional ini ditopang oleh kinerja positif pada seluruh lini jasa pertambangan utama Perseroan, mulai dari pemindahan batuan penutup (overburden removal), produksi batubara (coal getting), hingga pengangkutan

By Egenius Soda