Permintaan Timah Diproyeksi Melonjak, Ditopang Solar Panel dan Data Center

Permintaan Timah Diproyeksi Melonjak, Ditopang Solar Panel dan Data Center
Dokumentasi: TAMBAMG.

Jakarta, TAMBANG – Industri timah diperkirakan akan memasuki fase pertumbuhan baru seiring meningkatnya kebutuhan untuk pengembangan teknologi energi terbarukan dan infrastruktur digital. Selain masih didominasi sektor elektronik, permintaan timah ke depan diproyeksikan mendapat dorongan signifikan dari industri solar panel dan data center.

Vice President Director PT Timah Tbk (TIMAH), Harry Budi Sidharta mengatakan selama ini konsumsi timah dunia relatif stabil karena mayoritas digunakan untuk kebutuhan industri manufaktur, khususnya elektronik. Berbeda dengan emas yang sebagian besar juga berfungsi sebagai instrumen investasi dan disimpan dalam bentuk cadangan, timah hampir seluruhnya digunakan untuk kegiatan industri.

“Timah itu kebutuhan dunia relatif segitu-segitu saja. Beda dengan emas. Emas kan banyak dikoleksi atau disimpan. Kalau timah, kebutuhannya memang untuk industri, khususnya elektronik,” ujar Hary kepada awak media di Jakarta, Kamis (11/6).

Meski demikian, Harry melihat adanya sumber permintaan baru yang berpotensi mengubah peta konsumsi timah global dalam beberapa tahun mendatang. Menurutnya, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangunan pusat data akan menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan kebutuhan logam tersebut.

“Ke depannya kita punya demand baru sebenarnya di industri timah ini, yaitu di solar panel dan data center. Itu yang akan menjadi driver pertumbuhan kebutuhan timah,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, konsumsi timah dunia saat ini berada di kisaran 380 ribu ton per tahun. Namun, dengan masifnya pembangunan fasilitas energi terbarukan dan digitalisasi yang berlangsung di berbagai negara, angka tersebut berpotensi meningkat secara signifikan.

“Kalau sekarang kurang lebih sekitar 380 ribu ton per tahun. Tahun-tahun mendatang mungkin bisa dua kali lipat dari angka itu,” ungkapnya.

Di sisi lain, peningkatan permintaan tersebut berhadapan dengan tantangan pasokan yang relatif terbatas. Harry menilai sumber daya timah global tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga berpotensi menciptakan ketatnya pasokan di masa depan.

“Resources-nya ternyata juga segitu-segitu saja. Jadi ketika demand naik, pasokannya tidak serta-merta bertambah banyak,” ujarnya.

Indonesia sendiri masih menjadi salah satu pemain utama dalam industri timah dunia. Namun, sebaran sumber daya timah nasional juga tergolong terbatas dan terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu.

“Kalau di Indonesia, yang memiliki timah ya Bangka Belitung, kemudian sedikit di Kundur, Kepulauan Riau. Jadi sumber dayanya memang tidak tersebar luas,” kata Harry.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin