Permintaan Mineral Melonjak, MGEI Dorong Penguatan Eksplorasi
MGEI menegaskan urgensi penguatan eksplorasi mineral sebagai fondasi keberlanjutan sektor tambang nasional.
Jakarta, TAMBANG — Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) menegaskan urgensi penguatan eksplorasi mineral sebagai fondasi keberlanjutan sektor tambang nasional. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral strategis untuk transisi energi dan industri modern.
Ketua Umum MGEI, Rosalyn Wullandhary, menyoroti pentingnya menempatkan sektor hulu sebagai prioritas di tengah derasnya dorongan hilirisasi. Ia mengingatkan bahwa tanpa eksplorasi yang memadai, agenda hilirisasi berisiko kehilangan pasokan bahan baku dalam jangka panjang.
Menurut Rosalyn, kegiatan eksplorasi terutama untuk komoditas seperti nikel, emas dan tembaga, membutuhkan waktu panjang sebelum dapat berproduksi, bahkan bisa mencapai 9 hingga 11 tahun. Kondisi ini membuat eksplorasi menjadi sektor berisiko tinggi yang membutuhkan kepastian kebijakan serta dukungan pemerintah.
“Kita kadang fokus pada pemasukan negara, tapi hulu itu juga butuh biaya besar. Eksplorasi itu mahal dan berisiko,” ujarnya dalam MGEI CEO Forum 2026 di Jakarta, Rabu (29/4).
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas data geologi nasional. Pemerintah telah menyediakan neraca sumber daya dan cadangan sebagai acuan utama, yang ke depan perlu terus diperdalam untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mempercepat pengembangan proyek.
“Dengan data yang semakin detail, kepastian pengembangan suatu wilayah akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sektor eksplorasi, termasuk melalui penguatan peran Badan Geologi dan pengembangan sumber daya manusia di bidang geosains.
“Jadi kita harus tetap meng-encourage pemerintah melalui ESDM ini dan eksplorasi dari Badan Geologi tepatnya,” katanya.
Sejalan dengan itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa eksplorasi bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan investasi strategis yang menentukan masa depan industri pertambangan Indonesia.
“Eksplorasi bukan hanya kegiatan teknis. Ini adalah investasi strategis, karena tambang yang kita hasilkan saat ini ditemukan oleh mereka yang memiliki visi untuk melakukan eksplorasi saat ini,” ungkap Rita.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan pasokan mineral sangat bergantung pada keputusan eksplorasi yang diambil saat ini. “Tambang-tambang di masa depan bergantung pada apa yang kita pilih untuk eksplorasi hari ini,” jelasnya.
Rita juga menyoroti perubahan global yang mendorong lonjakan permintaan mineral, mulai dari kendaraan listrik, baterai, pusat data, energi terbarukan, hingga perluasan jaringan listrik dan manufaktur canggih.
“Ekonomi modern mungkin tampak digital di permukaan, tetapi tetap sangat bergantung pada mineral di bawah tanah,” beber dia.
Di tengah meningkatnya persaingan global dalam mengamankan akses terhadap mineral penting, Indonesia dinilai memiliki keunggulan geologis dengan sumber daya seperti nikel, tembaga, timah, bauksit, emas, dan batubara.
Namun, ia mengingatkan bahwa potensi tersebut tidak akan bernilai tanpa eksplorasi yang memadai. “Kekayaan alam saja tidak cukup. Potensi harus ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan secara bertanggung jawab. Inilah mengapa eksplorasi sangat penting,” tegasnya.
Saat ini, Indonesia disebut telah memiliki ekosistem pertambangan yang cukup kuat, dengan ribuan proyek di berbagai tahap, mulai dari eksplorasi hingga produksi. Meski demikian, penguatan sektor hulu dinilai tetap menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang dari lonjakan permintaan mineral global sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok industri masa depan.