Optimalkan Nilai Tambah, Ceria Ungkap Strategi Hilirisasi Nikel di ICMC & Expo 2026

Ceria Corp kembali menunjukkan perannya dalam mendukung kemajuan industri mineral nasional melalui partisipasi aktif pada Indonesia Critical Minerals Conference (ICMC) & Expo 2026 yang berlangsung pada 3–5 Juni 2026 di Jakarta.

Optimalkan Nilai Tambah, Ceria Ungkap Strategi Hilirisasi Nikel di ICMC & Expo 2026
Dokumentasi: Ceria Crop.

Jakarta, TAMBANG – Ceria Corp kembali menunjukkan perannya dalam mendukung kemajuan industri mineral nasional melalui partisipasi aktif pada Indonesia Critical Minerals Conference (ICMC) & Expo 2026 yang berlangsung pada 3–5 Juni 2026 di Jakarta.

Kehadiran perusahaan dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi sebagai salah satu pelaku strategis industri mineral kritis Indonesia yang mendukung agenda hilirisasi, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan.

Forum ICMC & Expo 2026 mempertemukan regulator, pelaku usaha pertambangan dan pengolahan mineral, investor, akademisi, hingga penyedia teknologi untuk membahas berbagai isu strategis terkait pengelolaan mineral kritis, dinamika pasar global, peluang investasi, dan kebutuhan bahan baku bagi teknologi energi masa depan.

Salah satu agenda utama konferensi adalah sesi panel bertajuk “Upstream Opportunities & Challenges for Nickel Mine Owners” yang menghadirkan Direktur Utama PT Ceria Metalindo Prima, Aldo Namora, sebagai panelis. Dalam kesempatan tersebut, Aldo memaparkan penerapan prinsip keberlanjutan dalam seluruh aktivitas bisnis Ceria, mulai dari pengelolaan sumber daya mineral hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Aldo menjelaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi fondasi dalam setiap langkah pengembangan bisnis Ceria Corp melalui pendekatan Resource Based Development.

"Bagi Ceria, keberlanjutan adalah bagian dari DNA perusahaan. Seluruh pengembangan bisnis kami dibangun berdasarkan prinsip pemanfaatan sumber daya yang optimal, bertanggung jawab, dan mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi Indonesia," ujar Aldo, dikutip dalam keterangan resmi, Minggu (7/6).

Ia menambahkan, Ceria mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nikel melalui dua jalur pengolahan. Bijih saprolit diolah menggunakan teknologi Pyrometallurgy (RKEF) untuk menghasilkan feronikel berkadar tinggi, sementara bijih limonit dipersiapkan untuk diolah melalui teknologi Hydrometallurgy (HPAL) guna menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Dari sisi lingkungan, Ceria memanfaatkan pasokan listrik dari PT PLN (Persero) yang menggunakan energi terbarukan dan didukung kepemilikan Renewable Energy Certificate (REC) yang diakui secara internasional melalui sistem APX, Inc. TIGRs untuk menopang produksi nikel hijau.

Pada aspek sosial, lebih dari 65 persen tenaga kerja perusahaan berasal dari wilayah sekitar operasional.

"Melalui program pengembangan kompetensi tenaga kerja, pemberdayaan UMKM, dukungan terhadap sektor pertanian dan perikanan, serta keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok, Ceria berupaya menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar," tambahnya.

Selain memperkuat aspek lingkungan dan sosial, Ceria juga terus mendorong penerapan Green Operations dan Good Corporate Governance (GCG). Perusahaan bahkan tengah mempersiapkan penerapan standar IRMA guna meningkatkan tata kelola, kredibilitas, dan daya saing di tingkat global.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa mineral kritis kini memiliki peran yang semakin strategis di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku industri teknologi dan energi bersih. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global melalui percepatan hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan industri pengolahan dan pemurnian mineral terus didorong sebagai salah satu pilar utama transformasi industri nasional guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah Ceria yang terus mengembangkan kawasan pertambangan dan fasilitas pengolahan terintegrasi berbasis prinsip ESG. Melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, Ceria Corp optimistis dapat terus berkontribusi memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri mineral kritis dunia sekaligus menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

Artikel Terkait

Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Jakarta,TAMBANG,- Sektor pertambangan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami dinamika. Secara keseluruhan tahun 2026 sektor ini akan mengalami tekanan baik dari internal yakni dalam negeri maupun situasi gobal. Tenaga Ahli Profesional Kekayaan Alam, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) menjelaskan sektor tambang akan mengalami koreksi di paruh pertama tahun ini. Kemudian

By Egenius Soda
Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Jakarta,TAMBANG,- Industri pertambangan, energi, konstruksi, hingga migas sedang menghadapi sejumlah tantangan operasional. Di tengah kebutuhan produksi yang tinggi, perusahaan juga dituntut untuk menjaga efisiensi, mengurangi downtime, dan memastikan alat berat tetap bekerja secara optimal. Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah kualitas bahan bakar. Dalam penggunaan mesin

By Egenius Soda