Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik
Ilustrasi.

Jakarta, TAMBANG — Risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional. Blackout dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, gangguan infrastruktur kelistrikan, hingga meningkatnya kompleksitas sistem energi seiring pertumbuhan kebutuhan listrik nasional.

Feiral Rizky Batubara, Pengamat Energi, mengatakan gangguan pada sistem kelistrikan tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memberikan tekanan terhadap sektor industri. Pasokan listrik yang tidak stabil berpotensi menghambat proses produksi, meningkatkan biaya operasional, hingga mengganggu keberlangsungan rantai pasok.

Karena itu, Feiral menilai mitigasi risiko blackout perlu dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan pembangkit yang mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil.

“Panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” kata Feiral, Selasa (7/7).

Menurut Feiral, kemampuan panas bumi untuk beroperasi stabil selama 24 jam menjadikannya salah satu sumber energi potensial dalam memperkuat keandalan pasokan listrik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi.

“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” katanya.

Feiral mengatakan potensi panas bumi Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah memberikan peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, pengembangan panas bumi perlu berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pengembangan sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, hingga diversifikasi sumber energi.

Indonesia sendiri memiliki cadangan panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW) atau sekitar 40 persen dari cadangan dunia, menjadikannya salah satu potensi energi lokal terbesar yang dimiliki Indonesia. Dengan karakteristik yang stabil, andal, dan melimpah, panas bumi dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya mewujudkan ketahanan energi nasional.

Meski demikian, pemanfaatan potensi tersebut masih perlu ditingkatkan. Dari total cadangan sekitar 24 GW, baru sekitar 2,7 GW atau 12 persen yang telah dimanfaatkan. Artinya, masih terdapat ruang pengembangan yang besar, termasuk untuk mengejar tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam 10 tahun ke depan.

Di sisi lain, target dalam RUPTL 2025–2034 yang mencapai 5,2 GW dinilai cukup ambisius, namun tetap sejalan dengan arah transisi energi nasional. Pengembangan kapasitas panas bumi secara bertahap diperlukan untuk memperkuat bauran energi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Menurut Feiral, meski memiliki prospek yang besar, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi awal yang besar, persoalan tarif keekonomian, proses perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan.

Karena itu, ia menilai diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, hingga sinkronisasi antara pengembangan pembangkit dan perencanaan jaringan kelistrikan nasional.

“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” kata Feiral

Artikel Terkait

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Engineering Week 2026 Satukan Delapan Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Indonesia

Jakarta, TAMBANG – Kebutuhan akan industri yang semakin terintegrasi mendorong hadirnya kolaborasi lintas sektor. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang mempertemukan delapan sektor industri strategis dalam satu ekosistem. Mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, Engineering Week 2026 resmi dibuka pada 9 September

By Rian Wahyuddin
Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Lewat Mining Indonesia 2026, Naraya Dipta Buana Perkuat Pengembangan Truk Listrik Hongyan untuk Tambang

Jakarta, TAMBANG – PT Naraya Dipta Buana, bagian dari MahaDasha Group, bersama SAIC Hongyan, memperkuat komitmen mengembangkan solusi kendaraan komersial untuk mendukung operasional sektor pertambangan Indonesia. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk kebutuhan industri berat. Komitmen ini disampaikan dalam ajang Mining Indonesia 2026

By Rian Wahyuddin
Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Learning Summit 2026, PAMA Perkuat Resiliensi dan Pengembangan Diri Karyawan

Jakarta, TAMBANG – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) kembali menggelar Learning Summit 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya belajar sekaligus meningkatkan kapabilitas insan perusahaan. Mengusung tema “BEYOND BOUNDARIES: Driving Value Through Knowledge Breakthroughs”, kegiatan ini menjadi wadah bagi karyawan untuk bertukar pengetahuan, mendapatkan perspektif baru, dan mengembangkan potensi diri. Memasuki rangkaian

By Rian Wahyuddin
XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

XCMG Perkuat Ekosistem Industri Tambang Indonesia, Hadirkan Pembiayaan dan Alat Berat Energi Baru

Jakarta, TAMBANG – XCMG Group Indonesia memperkuat ekspansi dan ekosistem industrinya di Indonesia melalui kehadiran solusi alat berat energi baru sekaligus platform pembiayaan ABC Multifinance dalam ajang Mining Indonesia 2026 di Jakarta. Mengusung tema “New Power, New Future”, XCMG menampilkan berbagai solusi hijau terintegrasi yang dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional pertambangan,

By Rian Wahyuddin