MIND ID dan Tembaga: Menjaga Denyut Elektrifikasi di Tengah Ancaman Krisis Pasokan

Dari kendaraan listrik hingga pusat data kecerdasan buatan, kebutuhan tembaga terus bergerak naik. Di tengah ancaman kesenjangan pasokan global, Indonesia memiliki posisi strategis melalui penguasaan aset tambang, hilirisasi, dan integrasi rantai nilai oleh MIND ID.

MIND ID dan Tembaga: Menjaga Denyut Elektrifikasi di Tengah Ancaman Krisis Pasokan
Ilustrasi. Dokumentasi: MIND ID.

Kendaraan listrik melaju di jalan raya Jakarta tanpa bising, tanpa polusi. Dalam sebuah pameran besar, mobil elektrik dari berbagai merek mendominasi deretan anjungan. Pusat data bekerja tanpa henti menopang pertumbuhan kecerdasan buatan di gedung-gedung tinggi.

Di berbagai penjuru dunia, pembangkit energi terbarukan terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan listrik yang semakin besar. Di balik semua perubahan tersebut, terdapat satu mineral yang mungkin tidak banyak terlihat, tetapi perannya semakin menentukan: tembaga.

Pameran GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, didominasi oleh kendaraan listrik asal Tiongkok. Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Tembaga menjadi salah satu logam yang memiliki peran penting dalam menopang industri modern. Kemampuannya menghantarkan panas dan listrik dengan sangat baik membuat logam ini banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik, industri otomotif dan elektronik, hingga sektor kesehatan.

Sifatnya yang tahan terhadap korosi juga menjadi salah satu keunggulan yang membuat tembaga tetap menjadi material penting dalam berbagai aplikasi industri.

Namun, memasuki era elektrifikasi dan digitalisasi, posisi mineral berlambang Cu ini menjadi semakin strategis. Bukan hanya karena jumlah penggunaannya bertambah, tetapi karena semakin banyak teknologi masa depan yang bergantung pada kemampuan mineral ini menghantarkan listrik.

Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional, Edi Permadi, menyebut kebutuhan tembaga ke depan bukan lagi permintaan biasa. Dunia, menurutnya, sedang memasuki fase supercycle struktural.

“Dunia sedang memasuki fase supercycle struktural, di mana kebutuhan tembaga tumbuh secara simultan dari dua arah besar yakni elektrifikasi dan digitalisasi,” ujar Edi, dikutip Kamis, (17/9).

Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional, Edi Permadi. Dokumentasi: TAMBANG.

Elektrifikasi menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan tersebut. Kendaraan listrik membutuhkan tembaga dalam jumlah lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional. Kebutuhan tersebut bahkan berpotensi semakin besar seiring pengembangan motor listrik induksi tanpa magnet permanen yang didorong untuk mengurangi penggunaan logam tanah jarang.

Pada saat yang sama, digitalisasi menghadirkan kebutuhan baru. Perkembangan artificial intelligence (AI) mendorong pembangunan pusat data dalam skala besar. Pusat-pusat data tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar, sekaligus infrastruktur kelistrikan yang kompleks. Di setiap mata rantai tersebut, tembaga kembali memainkan perannya.

“Semua ini terjadi secara bersamaan, saling memperkuat, dan mendorong konsumsi tembaga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya,” lanjut Edi.

Bayang-Bayang Kekurangan Pasokan

Masalahnya, pertumbuhan kebutuhan tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan produksi. Studi Global Market Intelligence yang dipaparkan pada awal tahun ini memperkirakan dunia berpotensi menghadapi kekurangan pasokan tembaga hingga 10 juta metrik ton pada 2040.

Pada tahun tersebut, permintaan tembaga diproyeksikan mencapai 42 juta ton, meningkat sekitar 23,8%. Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang akan dihadapi pasar ketika berbagai sektor berkembang secara bersamaan.

Tembaga akan semakin dibutuhkan untuk menopang pusat data AI, kendaraan listrik, jaringan listrik, infrastruktur energi terbarukan, hingga sistem pertahanan. Artinya, gangguan terhadap pasokan tidak hanya menjadi persoalan industri pertambangan, tetapi dapat merembet ke berbagai sektor yang sedang tumbuh.

Global Market Intelligence juga memproyeksikan produksi tembaga global mencapai puncak sekitar 33 juta ton pada 2030. Sementara itu, terdapat sedikitnya empat vektor permintaan utama yang terus mendorong konsumsi.

Ilustrasi. Dokumentasi: PT Freeport Indonesia.

Kebutuhan inti dari konstruksi, peralatan rumah tangga, dan industri tradisional diperkirakan mencapai 23 juta metrik ton pada 2040, atau sekitar 53% dari permintaan global. Di sisi lain, sektor transisi energi yang mencakup kendaraan listrik, baterai penyimpanan energi, dan energi terbarukan diproyeksikan meningkatkan permintaan lebih dari 7,1 juta metrik ton menjadi 15,6 juta metrik ton pada periode yang sama.

Angka-angka tersebut membawa satu pesan: tembaga semakin sulit dipandang sebagai komoditas biasa.

Indonesia di Peta Tembaga Dunia

Ketika kebutuhan global meningkat dan pasokan menghadapi tekanan, Indonesia memiliki modal penting. Tanah air berada di antara lima besar produsen tembaga dunia.

Posisi tersebut bukan sekadar angka dalam statistik produksi. Ketika operasi tambang besar berhenti, dampaknya dapat terasa hingga pasar global. Penghentian produksi PT Freeport Indonesia (PTFI), misalnya, pernah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan dan turut mendorong kenaikan harga tembaga.

Indonesia juga memiliki sejumlah aset dan prospek tembaga yang tersebar di berbagai wilayah. Grasberg menjadi salah satu tambang tembaga terbesar, sementara prospek Kucing Liar menjadi bagian dari pengembangan di kawasan tersebut.

Di luar Papua, terdapat Batu Hijau dan prospek Elang. Di Banyuwangi terdapat prospek Tumpang Pitu, sedangkan di Nusa Tenggara Barat terdapat pengembangan Blok Hu’u.

Bentang sumber daya tersebut menunjukkan bahwa cerita tembaga Indonesia tidak berhenti pada satu tambang. Tantangannya adalah bagaimana sumber daya tersebut dapat dikelola menjadi kekuatan industri dalam jangka panjang.

Di titik inilah peran MIND ID menjadi penting.

Dari Tambang Menuju Rantai Nilai

PTFI, salah satu produsen tembaga terbesar dunia, kini berada di bawah naungan MIND ID. Penguasaan terhadap aset strategis tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya mineral nasional sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi di dalam negeri.

Namun, menguasai tambang saja tidak cukup.

Dokumentasi: MIND ID.

Perjalanan sebuah mineral menuju nilai tambah justru semakin panjang setelah keluar dari perut bumi. Karena itu, PTFI tengah menyelesaikan pembangunan smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur. Perusahaan juga membangun Precious Metal Refinery (PMR) yang mengolah anode slime menjadi logam mulia.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari langkah memperkuat ekosistem hilirisasi mineral. Tembaga tidak berhenti sebagai konsentrat, sementara produk samping dari proses pemurnian juga dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah.

Bagi MIND ID, pembangunan fasilitas pengolahan yang terintegrasi tersebut memiliki makna lebih luas. Integrasi menjadi cara untuk menghubungkan aset dan kapabilitas berbagai perusahaan di dalam holding.

Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan perusahaan tidak melihat setiap aset dan perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri.

“Kami mengintegrasikan sumber daya dan kapabilitas anggota holding agar dapat saling mendukung sehingga hasil pengolahan mineral dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan memberikan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Selly.

Ketika Mineral Saling Terhubung

Konsep integrasi tersebut juga terlihat pada pengembangan komoditas emas yang berasal dari proses pengolahan PTFI. PTFI menggandeng PT Aneka Tambang Tbk (Persero) untuk menampung produksi emas.

Pada Februari 2025, PTFI telah mengirim 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99% dengan nilai mencapai Rp207 miliar. Kedua perusahaan juga telah menandatangani kesepakatan pasokan emas hingga 30 ton.

Dokumentasi: MIND ID.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana pengolahan satu komoditas dapat menciptakan hubungan bisnis dengan anggota holding lainnya. Dari tambang, mineral bergerak menuju fasilitas pengolahan, kemudian masuk ke rantai industri yang lebih panjang.

Kini, PTFI tengah mempercepat pemulihan produksi Grasberg sekaligus mengoptimalkan smelter di Gresik. Keduanya menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi dan pengolahan tembaga.

Pada akhirnya, masa depan tembaga Indonesia bukan hanya tentang seberapa banyak mineral yang dapat dikeluarkan dari perut bumi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah, dimurnikan, dan diintegrasikan hingga memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri.

Sebab, ketika kendaraan listrik semakin banyak, pusat data semakin besar, dan energi terbarukan semakin luas, kebutuhan terhadap tembaga akan terus mengikuti perubahan tersebut.

Di tengah denyut elektrifikasi dan transisi energi dunia, tembaga menjadi salah satu urat nadinya. Dan bagi Indonesia, MIND ID berada pada salah satu simpul penting untuk memastikan denyut tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan mengalir lebih jauh menjadi bagian dari kekuatan industri nasional.

Artikel Terkait

Eksplorasi Logam Tanah Jarang Global Meningkat, Indonesia Cermati Tren Pasar dan Teknologi

Eksplorasi Logam Tanah Jarang Global Meningkat, Indonesia Cermati Tren Pasar dan Teknologi

Jakarta, TAMBANG – Aktivitas eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) di tingkat global terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas, munculnya penemuan baru, serta kemajuan teknologi pengolahan yang membuka peluang pengembangan sumber daya REE di luar China. Hal tersebut disampaikan perwakilan

By Rian Wahyuddin