Laba Bersih ABM Investama Capai USD65,49

Laba Bersih ABM Investama Capai USD65,49
Jakarta, TAMBANG – PT ABM Investama Tbk (ABM), perusahaan energi terintegrasi nasional, sukses menjalankan strategi end-to-end services yang berfokus pada value chain batu bara. Hal tersebut terefleksi dari pencatatan laba bersih perusahaan sebesar USD65,49 juta, sepanjang tahun 2018. Laba bersih tersebut tumbuh besar dibandingkan tahun 2017 sebesar USD5,57 juta.   Dalam laporan keuangan 2018, ABM berhasil mencatat perolehan pendapatan sebesar USD773,05 juta pada 2018, naik 11,9 persen dibandingkan perolehan 2017 yaitu USD690,73 juta. Sementara, total aset dari pada tahun lalu sebesar USD851,9 juta dibandingkan pada 2017 sebesar USD1,04 miliar.   Direktur Utama ABM, Andi Djajanegara mengungkapkan, keberhasilan ini merupakan hasil dari konsistensi ABM dalam menjalankan Coal Value Chain Synergy yang dimulai sejak tahun 2018. Secara bisnis, ABM dapat memenuhi kebutuhan industri batubara dari pit hingga transshipment melalui entitas anak usahanya.   “Pencapaian ini merupakan buah dari sinergi dan konsistensi dari seluruh entitas di bawah Grup ABM, dalam menjalankan strategi Coal Value Chain yang telah kami mulai tahun lalu. Ke depan, kami optimistis kinerja ini akan dapat diperkuat melalui berbagai inisiatif dari seluruh anak usaha,” ujar Andi melalui keterangan tertulis yang diterima tambang.co.id, Senin (22/4).   Direktur Keuangan ABM, Adrian Erlangga menjelaskan, keberhasilan ABM dalam meningkatkan kinerja keuangan didorong oleh faktor fundamental perusahaan yang sangat kuat. Dengan strategi operasional dari hulu ke hilir yang ditangani oleh seluruh anak usaha membuat ABM sukses menaikkan kinerja secara positif.   “Pada tahun lalu, kami fokus memperkuat bisnis pertambangan dan penjualan batubara dengan mengoptimalkan sinergi antar anak usaha. Upaya ini mencatatkan hasil yang positif bagi perusahaan. Kami yakin dengan masih menerapkan metode yang sama dapat meningkatkan kinerja perusahaan,” ungkap Adrian.   Pada awal tahun ini, ABM membuat aksi korporasi dengan melakukan penandatanganan kontrak baru untuk jasa pertambangan dengan PT Muara Alam Sejahtera (MAS) senilai USD114 juta. Kontrak baru itu ditandatangani pada 25 Februari 2019 melalui anak usaha ABM yang juga kontraktor tambang, PT Cipta Kridatama.   Dalam waktu dekat, ABM juga akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS). Selain agenda rapat mengenai perubahan susunan pengurus perusahaan, agenda menarik lainnya yang akan dibahas adalah mengenai rencana perusahaan dalam menggunakan hasil usaha berdasarkan tahun buku 2018.      

Artikel Terkait

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin
Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Tekan Ketergantungan pada Impor, Pertamina Lubricants Luncurkan Katalis FCC/RFCC untuk Efisiensi Kilang

Jakarta,TAMBANG,- Demi mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kemandirian teknologi energi nasional,  PT Pertamina Lubricants (PTPL) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan katalis. Produk ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi antar riset Pertamina Group, yakni Fluid Catalytic Cracking (FCC), Residue Catalytic Cracking (RCC), dan Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC).  Dijelaskan pula bahwa

By Egenius Soda