Kisah Masyarakat Desa Wewo Hidup Bersama PLTP Ulumbu Selama 15 Tahun

Kisah Masyarakat Desa Wewo Hidup Bersama PLTP Ulumbu Selama 15 Tahun

Ruteng,TAMBANG,- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu tahun ini telah memasuki usia 15 tahun masa beroperasi. Pembangkit listrik ini diresmikan pada 11 November 2011. Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN kala itu hadir dan meresmikan pembangkit panas bumi pertama di Flores-NTT ini.

 “Saya masih ingat waktu itu saya bersama Pak Dahlan Iskan yang memencet tombol menandai beroperasinya pembangkit panas bumi Ulumbu ini,”’kisah Hendrikus Ampak, Tu’a Gendang Wewo. Gendang Wewo, merupakan salah satu Gendang (Rumah Adat pusat) di ring satu dari PLTP berkapasitas 2,5x4 Megawatt ini.

Hendrikus kemudian bercerita bahwa Ia dan masyarakat mengenal panas bumi sebagai sumber energi bersih jauh sebelum PLTP ini beroperasi. Ketika itu ada kosultan dari Selandia Baru yang melakukan survey terkait potensi panas bumi.

“Waktu itu kami diberi tahu bahwa listrik di Flores masih didominasi diesel yang bahan bakarnya minyak. Sebagian besar minyak diimpor dari tempat jauh. Sementara di daerah kami ada potensi panas bumi yang bisa jadi listrik. Sekarang kami bangga bahwa daerah kami bisa berkontribusi menyalurkan energi bersih untuk masyarakat Flores,”ungkap Hendrikus.

Hendrikus yang ditemui di ladangnya, juga memastikan bahwa hampir seluruh anggota Gendang Wewo mendukung kehadiran PLTP Ulumbu termasuk rencana pengembangan unit 5.

“Kalau kami setuju sekali. Bagaimana tidak setuju? Apa sih hal yang membuat kami tidak setuju? Dulu, tahun 80-an, orang di sini masih pakai lampu pelita. Ke Penggeok, jalan kaki. Kemudian selama PLN lakukan pengeboran sekitar tahun 2007-2008 akses jalan dibuka dan mobil mulai masuk ke wilayah kami. Banyaklah perubahan besar setelah PLN masuk,”terang Hendrikus.

Ia juga mengaku tidak hanya sarana dan prasana yang dibantu PLN. Masyarakat juga mendapat bantuan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat untuk budidaya sayur-sayuran.

“Ada beberapa kelompok yang didampingi PLN menanam hortikultura berupa sayur-sayuran. Sebagian untuk dijual dan sebagian lagi dikonsumsi. Mereka adalah ibu-ibu yang ,”ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Desa Wewo, Laurensius Langgut. Masyarakat Desa menurut Laurensius mendukung pengembagan PLTP Ulumbu. “Iya, sejauh ini tidak ada dampak yang begitu signifikan bagi kami. Kami sudah bersahabatlah dengan PLTP yang sudah berjalan. Sehingga begitu kemarin mau ada pengembangan, warga Desa Wewo juga antusias menerima,”terang Laurensius.

Terkait beberapa keluhan yang selama ini disampaikan seperti soal produksivitas tanaman yang berkurang. Mulai dari kopi dan cengkeh yang disebut beberapa tahun tidak berbuah. Ada juga keluhan terkait kerusakan atap rumah dari seng dan ISPA.

Hendrikus maupun Laurensius mengakui dalam beberapa tahun terakhir produktivitas cengkeh dan kopi berkurang. "Tetapi pernah di 2023, cengkeh sempat berbuah lebat bahkan ada warga yang panen puluhan ton. Biasanya kalau setahun buahnya lebat maka beberapa tahun berikutnya akan berkurang. Itu sudah jadi pengetahuan umum warga ,"terang Laurensius.

Sementara terkait seng rusak, Ia mengakui bahwa sebelum PLTP beroperasi seng yang digunakan warga hanya bisa bertahan empat sampai lima tahun. "Jadi bukan karena PLTP ini beroperasi maka seng lebih cepat rusak,"tegasnya.

Laurensius pun menjelaskan warga desa Wewo rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Tenaga medisnya berasal dari Puskesman Ponggeok. "Sejauh ini tidak ditemukan penyakit ISPA di warga kami,"tegas Laurensius.

Sementara Hendrikus menjelaskan bahwa turunnya produktivitas tanaman lebih karena pemeliharaan tanaman yang kurang dilakukan. "Harus diakui tanaman cengkeh dan kopi di daerah kami turun karena kurangnya perawatan. Ketika panen baru dibersihkan. Kalau begini bagaimana kita berharap hasilnya maksimal. Apalagi penurunan produksi juga tidak hanya terjadi di Desa Wewo dan sekitarnya. Ini juga terjadi di daerah lain,"tandas Hendrikus.

Kepala Teknik Panas Bumi (KPTB) PLTP Ulumbu Roya Ginting menjelaskan PLTP Ulumbu eksisting ada 3 sumur. Dari ketiga sumur tersebut yang dimanfaatkan untuk pembangkit selama ini baru 1 sumur. Ada potensi untuk tambahan kapasitas dari sumur ULB 3. Sesuai kajian di tahun 2022 ada potensi penambahan 1 MW.

“Sejak beroperasi hingga saat ini, kami belum menemukan fakta sesuai data real terkait isu-isu yang disampaikan masyarakat. Baik isu lingkungan, produktivitas tanaman menurun, air permukaan surut dan habis. Kemudian yang berkaitan dengan ISPA dan penyakit kulit,”ungkap Roya.

Pihaknya juga secara rutin melakukan evaluasi dan pendataan. Hasilnya sampai sekarang belum menemukan hal-hal yang dikeluhkan masyarakat. “Kendala terberat kami adalah tidak ada ruang dialog dengan masyarakat yang selama ini menolak khusus untuk pengembangan Unit 6. Ketika kita ajak berdialog jawabannya selalu pokoknya tolak”terang Roya lagi.

Masyarakat Desa Wewo yang sudah hidup berdampingan dengan PLTP selama 15 tahun mengaku tidak ada keluhan terkait lingkungan, kesehatan dan hasil pertanian. Roya pun mengundang pada warga yang masih ragu, silahkan datang dan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di sekitar lokasi PLTP Ulumbu.

“Masyarakat khususnya Desa Wewo bahkan sangat antusias dengan rencana pengembangan Unit 5 ini,”tandasnya.

PLN berecana untuk meningkatkan kapasitas PLTP Ulumbu. Rencana pengembangan PLTP unit 5 dan 6 sudah dimulai sejak 2017. Kajian terkait aspek aspek lingkungan, sosial, bahkan adat semua sudah dipenuhi. Proses pengadaan lahan pun semua melalui tim independen, bukan dilakukan PLN. Ada tim appraisal untuk penilaian harga tanah. Tim pengadaan pun melalui tim BPN karena terkait kepentingan umum.

Roya juga menjelaskan penentuan lokasi pun sudah sesuai dengan SK Bupati Manggarai. “Beliau sangat selektif. Sehingga isu-isu yang sempat muncul seperti maladministrasi sampai hari ini tidak ditemukan,”tandas Roya.

Pengembangan PLTP Ulumbu Unit 5–6 di Poco Leok direncanakan akan menambah kapasitas listrik sebesar 40 MW atau 2×20 MW. Setelah seluruh pengembangan tersebut beroperasi, total kapasitas terpasang PLTP Ulumbu akan menjadi 50 MW untuk mendukung pasokan listrik pada Sistem Interkoneksi Flores.

Target COD PLTP Ulumbu Unit 5 adalah tahun 2030, sedangkan Unit 6 pada 2032. Target ini mengacu pada jadwal RUPTL PLN 2025–2034.

PLN pun berharap besarnya potensi panas bumi di Flores dapat menjadi fondasi kemandirian energi daerah. Dengan memanfaatkan sumber energi lokal, Flores dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang harus didatangkan dari luar daerah, sekaligus memperkuat pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Manfaat pengembangan panas bumi juga diharapkan dapat dirasakan melalui terbukanya kesempatan kerja, peluang usaha, serta pengembangan pertanian dan pariwisata. Untuk mewujudkannya, PLN mengharapkan dukungan dan kerja sama pemerintah daerah, masyarakat, tokoh adat, serta seluruh pemangku kepentingan.

Pengembangannya perlu berjalan dengan keterbukaan informasi, dialog, penghormatan terhadap adat dan budaya, serta pengelolaan lingkungan yang baik agar kemandirian energi tumbuh seiring peningkatan kesejahteraan masyarakat Flores.

Artikel Terkait

KPR Silika Jalani Penilaian Dokumen Lingkungan, Perkuat Komitmen Pengelolaan Dampak Tambang di Bombana

KPR Silika Jalani Penilaian Dokumen Lingkungan, Perkuat Komitmen Pengelolaan Dampak Tambang di Bombana

Jakarta, TAMBANG - PT Kasmar Poleang Raya (KPR Silika) menjalani penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL) untuk rencana kegiatan pertambangan pasir silika beserta fasilitas penunjangnya di Kecamatan Poleang Selatan dan Poleang Utara, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Penilaian yang

By Rian Wahyuddin