Kinerja Tertekan, Pendapatan Bersih United Tractors Turun 17% Imbas Martabe dan RKAB

PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp28,6 triliun pada triwulan I tahun 2026. Angka ini turun sebesar 17% dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.

Kinerja Tertekan, Pendapatan Bersih United Tractors Turun 17% Imbas Martabe dan RKAB
Head Office PT United Tractors Tbk (UT). Dokumentasi: Rian/TAMBANG.

Jakarta, TAMBANG – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp28,6 triliun pada triwulan I tahun 2026. Angka ini turun sebesar 17% dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.

Sekretaris Perusahaan UT, Ari Setiyawan, menyampaikan bahwa penurunan tersebut terutama dipicu oleh merosotnya kinerja di PT Agincourt Resources (PTAR) akibat tidak adanya penjualan emas. Selain itu, pelemahan juga terjadi pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan, seiring berkurangnya alokasi RKAB batu bara nasional pada 2026.

“Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources (PTAR) karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026,” ujar Ari dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (30/4).

Meski demikian, Ari menyampaikan bahwa kinerja tersebut tetap ditopang oleh segmen bisnis lain, terutama pertambangan batu bara termal dan metalurgi, seiring dengan harga yang tengah menguat.

“Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi,” imbuhnya.

Ari merinci bahwa kontribusi pendapatan bersih tersebut berasal dari sejumlah segmen usaha. Segmen Kontraktor Penambangan menyumbang Rp11,9 triliun, meski turun 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi mencatatkan kinerja positif dengan kontribusi Rp8,0 triliun, meningkat 13% secara tahunan.

Di sisi lain, segmen Mesin Konstruksi membukukan pendapatan sebesar Rp7,5 triliun atau merosot 31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya, yang hanya mencatatkan Rp691,6 miliar, anjlok 76% secara tahunan.

Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring charges turun 44% menjadi Rp1,8 triliun, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.

Selama kuartal pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun, terutama terdiri dari (i) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate dan (ii) provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Per 31 Maret 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp5,5 triliun, dengan rasio utang bersih (net gearing ratio) sebesar 5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Sebagai informasi, Tambang Emas Martabe yang dikelola PTAR sempat menghentikan operasinya pada 6 Desember 2025 karena diduga berkontribusi terhadap bencana banjir di wilayah Sumatera Utara pada akhir November. Meski demikian, perusahaan kemudian kembali memperoleh izin untuk melanjutkan operasi yang ditargetkan pada Mei ini.

Pada Triwulan I 2025, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya milik UT mencatat kontribusi sebesar Rp2,9 triliun, meningkat 61% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

Pemangkasan target produksi dalam RKAB memiliki korelasi langsung terhadap kinerja kontraktor tambang. Ketika volume produksi batu bara dan nikel dibatasi, perusahaan tambang otomatis menurunkan aktivitas operasional, mulai dari pengupasan lapisan tanah (overburden removal) hingga pengangkutan material. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya kebutuhan jasa kontraktor, baik dari sisi jam kerja alat berat, volume pekerjaan, maupun durasi kontrak.

Artikel Terkait

Lima Bulan Dampingi Pengobatan Kasmari hingga ke Jakarta, NHM Peduli Hadir untuk Warga Lingkar Tambang

Lima Bulan Dampingi Pengobatan Kasmari hingga ke Jakarta, NHM Peduli Hadir untuk Warga Lingkar Tambang

Jakarta, TAMBANG - Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat terus diwujudkan PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui program NHM Peduli. Salah satunya dengan memberikan pendampingan kepada Kasmari (63 tahun), seorang petani yang tinggal di Desa Beringin Agung, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, yang saat ini tengah menjalani pengobatan limfoma non-Hodgkin. Penyakit

By Rian Wahyuddin
Hingga Kuartal III Tahun ini, MYOH Sukses Catat Kinerja Positif di Semua Lini

Hingga Kuartal III Tahun ini, MYOH Sukses Catat Kinerja Positif di Semua Lini

Jakarta,TAMBANG,- Kinerja moncer berhasil dibukukan perusahaan kontraktor tambang, PT Samindo Resources Tbk (“Perseroan”). Emiten berkode MYOH ini berhasil membukukan akselerasi kinerja operasional dan lonjakan profitabilitas yang solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Penguatan ini ditopang oleh pertumbuhan produktivitas pada seluruh lini jasa pertambangan utama Perseroan. Perusahaan mencatat kinerja

By Egenius Soda
Ditjen Minerba: 2.587 UMKM Binaan Perusahaan Tambang, PPM Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah

Ditjen Minerba: 2.587 UMKM Binaan Perusahaan Tambang, PPM Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah

Jakarta, TAMBANG – Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong penguatan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) agar manfaat kegiatan pertambangan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan keberhasilan sektor

By Rian Wahyuddin
Menko Bahlil Dorong Hilirisasi hingga Produk Akhir, Evaluasi Pembangunan Smelter

Menko Bahlil Dorong Hilirisasi hingga Produk Akhir, Evaluasi Pembangunan Smelter

Jakarta, TAMBANG – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendorong pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia agar tidak berhenti pada produksi bahan setengah jadi. Karena itu, Pemerintah berencana mengevaluasi pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara untuk meningkatkan nilai tambah di

By Rian Wahyuddin