Kerap Diteror Buaya, Evakuasi Jembatan Kuning Palu Capai 50 Persen

Kerap Diteror Buaya, Evakuasi Jembatan Kuning Palu Capai 50 Persen
Crane PT Bayan Resources saat Melakukan Evakuasi Jembatan Palu
Palu, TAMBANG – Proses evakuasi Jembatan Kuning yang jadi ikon utama Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah mencapai 50 persen. Jembatan bernama resmi Ponulele itu roboh setelah dilanda gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.   Saat ditemui tambang.co.id di lokasi, tim teknis pembongkaran jembatan dari PT Brantas Abipraya, Rinal mengatakan, proses evakuasi kerap diteror rasa takut akibat faktor alam. Pasalnya, hewan buaya yang dinamakan buaya  muara acap kali muncul menemani kegiatan timnya.   “Tiap pagi, biasanya sudah ada buaya sekitar empat ekor yang nongkrong di lokasi pembongkaran. Sampai malam, buaya juga masih sering bolak-balik,” ungkap Rinal kepada tambang.co.id, Kamis (8/11).   Jembatan yang membentang di atas Teluk Talise ini, berada di atas perairan batas antara sungai dan laut. Sehingga wajar kalau buaya muara hilir mudik menampakkan diri.   Meski demikian, Rinal mengaku kehadiran buaya tak menyurutkan kinerja timnya. Reptil air tawar ini dilaporkan tidak menunjukkan tanda-tanda agresif.   “Kalau kita tidak ganggu, dia (Buaya) juga tidak ganggu,” beber Rinal.   Selain buaya, pasang surut perairan yang tak menentu, turut membuat proses pemotongan badan jembatan berjalan lambat. Kerangka jembatan yang terbuat dari besi sulit dievakuasi dengan alat berat bila terendam air.   Alhasil, langkah yang diambil tim teknis, ialah memotong terlebih dahulu bagian jembatan yang menggantung di permukaan. Sedangkan bagian yang terendam, dieksekusi belakangan.   “Intinya kita kerjakan dulu mana yang bisa dieksekusi,” tutur Rinal.   Saat ditanya, kapan proses evakuasi gelondongan jembatan sepanjang 250 meter itu rampung ? Rinal tidak bisa memprediksi. Sejauh ini ia hanya bekerja mengikuti kondisi saja. Timnya tidak bisa membuat skema rencana pemotongan karena tidak memiliki desain awal pembuatan jembatan.   “Kalau ada desainnya enak, kita tahu mana sisi yang bisa dieksekusi lebih mudah, dan membuat rancangan agar cepat. Tapi sayang, saat kami minta ke pemerintah, katanya dokumen desainnya sudah hilang bersama ombak tsunami,” kata Rinal.   Untuk diketahui, di awal pembongkaran jembatan, Tim Teknis Brantas Abipraya tidak dapat langsung bekerja. Sebab, alat berat berupa crane miliknya yang digunakan untuk mengerek badan jembatan, dilaporkan masih dalam proses perjalanan.   Berkat koordinasi dengan jajaran relawan penanganan gempa Palu lainnya, Brantas Abipraya mendapat bantuan crane dari PT Bayan Resources.   Bayan mengirim crane dengan kapasitas 60 ton. Alat kerek ini dapat mengevakuasi jembatan yang rusak parah dalam bentuk gelondongan. Satu per satu bagian utama jembatan ditarik ke atas, menghindari genangan air sungai, lalu dipotong perlahan.   Berdasarkan keterangan Ketua Tim Rescue Bayan, Windi Kaliti, mengatakan, ada dua jenis crane yang diboyong oleh Bayan ke lokasi bencana. Selain crane berkapasitas 60 ton, pihaknya juga membawa crane dengan berat muatan 180 ton.   “Crane yang 180 ton tidak bisa ikut membantu karena perairan terlalu dangkal,” jelas Windi.   Tak hanya berjibaku memberikan penanganan pertama pada jembatan, Bayan juga membantu merobohkan bangunan yang sudah tak layak huni. Bangunan yang miring atau retak akibat hempasan gempa, tsunami dan likuifaksi.   Rencanananya, alat berat milik Bayan akan beroperasi di Palu hingga 15 November mendatang.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin
Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri. Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Gilarsi, tantangan

By Rian Wahyuddin