Kejar NZE, PLN Pensiunkan Dini PLTU Kapasitas 5 GW Sebelum 2030

Kejar NZE, PLN Pensiunkan Dini PLTU Kapasitas 5 GW Sebelum 2030
Ilustrasi

Jakarta, TAMBANG – PT PLN berncana mempensiunkan dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 5 Gigawatt (GW) sebelum tahun 2030. Hal ini dilakukan demi mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang juga menjadi komitmen pemerintah dalam program net zero emission (NZE) pada tahun 2060.

“Kita membangun strategi bagaimana mempensiunkan dini PLTU kita. Ada program 5 GW pensiun dini sebelum tahun 2030. Ada 5 sekian GW tambahan pensiun dini di atas tahun 2030,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam sebuah diskusi, dikutip Rabu (12/10).

Sebagai gantinya, PLN akan membangun pembangkit-pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) baru. Sampai dengan tahun 2030, PLN, kata dia akan menambah sebesar 51,6 persen pembangkit yang memakai sumber energi ramah lingkungan tersebut.

“Kita bangun RUPTL yang baru di dalamnya kita tambahkan. penambahan pembangkit dari sekarang sampai 2030 adalah 51,6 persen, ada hydro, panas bumi, angin, solar, kita nanti tambahkan ombak dan semua kemungkinan energi baru terbarukan,” jelasnya.

Menurut Darmawan, penghentian PLTU dini dan pembangunan pembangkit EBT sudah seharusnya dilakukan mengingat jumlah emisi GRK saat ini mencapai 240 juta ton per tahun. Jika ini dibiarkan, dipastikan jumlah karbondioksida di langit Indonesia itu bisa mencapai 920 juta ton pada 2060.

“Hari ini emisi kita sekitar 240 juta ton pe tahun. Bussines as usual kalau tanpa adanya intervensi emisi GRK kita akan meningkat dari 240 juta ton menjadi 920 juta ton per tahun di 2060. Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” bebernya.

“Kita sudah petakan, kita sudah declare bahwa yang tadinya bussines as usual 920 juta ton, kita turunkan menjadi zero ton di 2060,” imbuhnya.

Pensiun dini pembangkit berbasis batu bara ini bukan kali pertama dilakukan pemerintah. Satu setengah tahun lalu, imbuh Darmawan, PLN sudah memberhentikan PLTU berkapasitas 5,1 GW secara bertahap.

“Satu setengah tahun lalu kita menghapus di RUPTL yang lama 2 Gigawatt PLTU berbasis batu bara. 1,1 GW kita tambahan kita hapus dan langsung kita gantikan menggunakan energi baru terbarukan. Hampir 2 GW batu bara kita hapus lagi, kita gantikan dengan gas,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin