Jokowi Dalam Gendang Mafia Energi

Jokowi Dalam Gendang Mafia Energi

Jokowi Dalam Gendang Mafia Energi (Part 1, theme song : DME dan batu bara) Oleh: Budi Santoso

Beberapa hari ini ini saya membaca di media bahwa bapak Jokowi selalu marah-marah karena dikerjain oleh mafia migas, mafia energi dan mafia lainnya. Pak Jokowi dengan garangnya sudah tahu yang suka impor migas dan akan menggigit para mafia itu.

Benarkah Pak Jokowi mampu melawan mafia tersebut ?

Keterlibatan saya dalam dunia energi dan pertambangan yang hampir seumur profesi saya, menyebabkan saya miris karena saya melihat Pak Jokowi justru sedang “menari” dalam ritme gendang para mafia. Bagaimana melawan mafia dalam gendang mafia yang dilawannya.

Pernyataan Pak Jokowi (salah satunya) yang menyebutkan bahwa Indonesia punya stok batu bara melimpah tapi kok kenapa LPG harus impor ?

Pernyataan itu betul sebagai pintu masuk, tetapi selanjutnya untuk mengganti LPG dengan DME (dimethyl ether) adalah jebakan. Lagu dan iramanya mafia.

DME tidak akan mungkin bisa menggantikan LPG kalau mempertimbangkan keekonomian kecuali buat gagah-gagahan atau genit-genitan, untuk pencitraan itu harus membayar mahal.

DME memiliki density energi yang rendah (50%) LPG, DME lebih mahal dari LPG dan yang pasti apalagi dibuat dari batu bara di mana tahapnya lebih panjang dibanding DME yang dari gas alam. Kalau benar DME memang ada keekonomiannya maka kenapa tidak membuat DME dari gas alam. Di mana saat ini gas alam kita masih banyak yang belum terpakai.

DME dalam bentuk gas tentunya memerlukan sistem logistik yang mahal, tangki bertekanan, tangker gas, pipa, dan stasiun pengisian khusus. Tidak murah. Pabriknya perlu miliaran dolar ( USD 3,8 miliar untuk mengolah 8 juta ton batu bara per tahun). Uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk membangun PLTU atau infrastruktur energi yang lain. Dan investasi logistiknya yang tidak bisa dicampurkan dengan LPG.

Pemakaian DME untuk bahan bakar ternyata harus dicampurkan dengan LPG dan itupun hanya 15%, komposisinya berat.

Jadi kalau Pak Jokowi “disuruh” gagah mengucapkan akan menggigit yang menggangu produksi DME, Saya orang pertama yang sedih dan prihatin. Siapa yang menyuarakan itu, tentunya orang-orang yang memiliki agenda tersembunyi di balik itu.

Membangun DME dan sistem logistiknya dijamin tidak akan tercapai dalam kabinetnya Pak Jokowi jilid dua, yang penting Pak Jokowi merasa senang akan “menghantam mafia” tapi yang jelas impor LPG jalan terus selama 5 tahun ini, dan meningkat.

Setelah 5 tahun, mafia akan cari induk semang lagi, yg ujung-ujungnya dinyatakan DME tidak ekonomis dan program berhenti. Mirip dengan ekspor bibit lobster, tidak perlu melawan Bu Susi, biarkan beliau “lengser” dicari penggantinya yang bisa dibeli.

Terompet atau gendang atau lagu pemakaian DME tidak cuma berdimensi LPG dan migas, tetapi punya dimensi strategis yang lebih besar lagi. Penguasaan PKP2B Generasi I yang seharusnya kembali kepada negara tahun 2019-2025 (sesuai dengan UU no.4 2009, dan kontrak karya batu bara) tetapi “dirancang” supaya masih bisa dilanjutkan oleh pemengang PKP2B sekarang, di antaranya adalah lima besar (Adaro, Arutmin, KPC, Berau dan Kideco). Bagaimana caranya?

Hilirisasi batu bara (batu bara jadi minyak, gasifikasi, DME, UBC, CWM) selalu ditiupkan oleh mafia PKP2B menjadi program andalan ke depan industri batu bara (padahal mafia yang sama pernah membiayai FGD hilirisasi batu bara 6 tahun lalu dinyatakan dan dibuat “tidak ekonomis”) dan lagu tersebut selalu dinyanyikan oleh “Pemerintah” sebagai alasan salah satu poin revisi UU Minerba yang kemarin sempat digagalkan anak-anak “STM” supaya tidak diloloskan oleh DPR periode lalu.

Dengan program hilirisasi batu bara yang investasinya mahal, maka pemegang PKP2B meminta kepastian hukum (mirip-mirip kasus Freeport) dan tentunya minta perpanjangan 2 x 10 tahun lagi. Inilah tujuan yang sebenarnya kenapa lagu DME dinyanyikan begitu nyaring oleh para paduan suara yang tentunya dalam panggung mafia. Dengan perpanjangan PKP2B maka rakyat Indonesia yang tidur di atas lahan penuh batu bara akan menanggung beban yang sama dengan negara lain yang tidak punya batu bara (tulisan saya berikutnya).

Ketika para pemegang PKP2B mendapatkan perpanjangan, suatu saat kajian tentang hilirisasi batu bara yang tidak ekonomis akan dihidupkan lagi dan program dihentikan tetapi yang penting perpanjangan sudah dikantongi. Lagu DME memang bisa merdu bagi mafia tetapi seperti suling buluh perindu bagi rakyat Indonesia, mematikan dalam kondisi tersenyum.

Semoga Pak JOKOWI orang yang tidak terpengaruh suling buluh perindu para mafia. Kecuali pembisik atau pawangnya Pak Jokowi sendiri yang menyanyi.

Artikel Terkait

KPP MINING Raih Penghargaan Internasional Berkat Transformasi Digital Berbasis Change Management

KPP MINING Raih Penghargaan Internasional Berkat Transformasi Digital Berbasis Change Management

London, TAMBANG – PT Kalimantan Prima Persada (KPP MINING) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Perusahaan jasa pertambangan ini meraih penghargaan Bronze dalam ajang AMEC Global Communication Effectiveness Awards 2026 melalui penerapan komunikasi strategis dalam mendukung transformasi digital perusahaan. Penghargaan tersebut diberikan pada kategori Best Use of Measurement for Internal Communications

By Rian Wahyuddin
Jurnalis Majalah TAMBANG Raih Penghargaan Minerba Educreative Competition 2026 Kategori Lomba Jurnalistik

Jurnalis Majalah TAMBANG Raih Penghargaan Minerba Educreative Competition 2026 Kategori Lomba Jurnalistik

Jakarta, TAMBANG – Jurnalis Majalah TAMBANG, Rian Wahyudin, meraih penghargaan dalam ajang Apresiasi Minerba 2026 pada kategori Lomba Karya Jurnalistik untuk Wartawan. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara sebagai bentuk apresiasi terhadap karya jurnalistik yang mengangkat subsektor mineral dan batu

By Fahmi Adam
Tegaskan Komitmen Kepatuhan, PTBA Raih Penghargaan PNBP dari Kementerian ESDM dalam Minerba Convex 2026

Tegaskan Komitmen Kepatuhan, PTBA Raih Penghargaan PNBP dari Kementerian ESDM dalam Minerba Convex 2026

Jakarta, TAMBANG — PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA kembali menunjukkan capaian positif atas komitmennya terhadap kepatuhan pelaksanaan peraturan negara. Capaian ini diraih melalui penghargaan pada kategori Kepatuhan Pembayaran PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM dalam acara Mineral & Batubara Convention - Expo

By Rian Wahyuddin
Minerba Convex 2026 Ditutup, Ditjen Minerba Apresiasi Kinerja Badan Usaha dan Umumkan Pemenang Educreative Competition

Minerba Convex 2026 Ditutup, Ditjen Minerba Apresiasi Kinerja Badan Usaha dan Umumkan Pemenang Educreative Competition

Jakarta, TAMBANG – Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan 42 Apresiasi Minerba 2026 kepada badan usaha pertambangan serta insan ESDM yang berkontribusi dalam pengelolaan pertambangan dan penanganan bencana. Penghargaan tersebut disampaikan pada penutupan Minerba Convex 2026 di JIExpo, Jakarta, Selasa (3/11)

By Rian Wahyuddin