Israel Dituduh Curi Gas Libanon

Israel Dituduh Curi Gas Libanon
Foto: Nabih Berri. Sumber: New York Times

Beirut, Libanon - TAMBANG. Juru bicara parlemen Libanon, Nabih Berri, melayangkan tuduhan bahwa Israel telah mencuri gas di lepas pantai Libanon. Tuduhan itu ia sampaikan sebagai bentuk keluhan terhadap pemerintah Libanon yang dianggap kurang peka dalam melindungi kepentingan nasionalnya.

"Saya akan menempuh upaya apapun agar kasus ini bisa ditangani mulai awal tahun depan," ujar Nabih Berri geram, dalam sebuah wawancara dengan harian setempat, al-Akhbar, Senin (8/12).

Ia mengaku mendapat laporan yang sangat meyakinkan dan terpercaya, dari data sebuah penelitian internasional. Dari data tersebut, terindikasi bahwa Israel telah melakukan pencurian cadangan gas milik Libanon yang bersumber di cekungan lepas pantai. Letaknya berada di perairan yang berbatasan dengan wilayah pendudukan Palestina.

Libanon terbilang lamban untuk mengeksploitasi sumberdaya migas lepas pantainya, dibandingkan negara tetangganya. Israel, Siprus, dan Turki sudah terlebih dahulu mengoperasikan pengeboran migas lepas pantai. Karenanya, Israel yang sudah lebih dahulu berada di lapangan dianggap bisa leluasa menyedot gas lepas pantai milik Libanon.

Cadangan migas sebesar 1,7 miliar barel minyak dan 122 triliun kaki kubik (tcf) gas di cekungan yang disebut sebagai Levant Basin menjadi sumber pertikaian baru bagi Libanon dan Israel. Kedua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik tersebut memperebutkan garis batas atas zona seluas 845 kilometer persegi, sejak Maret 2010 ketika Badan Survei Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey / USGS) merilis perkiraan harta senilai miliaran dolar yang terkandung di wilayah lepas pantai itu. Perairan itu sendiri terletak di sebelah timur Mediterania, mencakup teritori Libanon, Israel, Suriah, dan Siprus.

Potensi konflik perebutan gas dengan Israel inilah yang mendorong Libanon untuk memulai eksplorasi cadangan gas di lepas pantai. Tahun 2011, Libanon mengesahkan Undang-Undang Batas Kemaritiman dan Zona Ekonomi Eksklusif, diikuti dengan pembentukan Otoritas Migas. Namun demikian, rencana eksplorasi baru akan dimulai 2015. Dari fase eksplorasi, setidaknya masih dibutuhkan waktu tambahan setahun untuk Libanon mulai berproduksi.

Artikel Terkait

DSI Lengkapi Jajaran Komisaris dan Direksi, Jalankan Mandat Ekspor SDA Strategis

DSI Lengkapi Jajaran Komisaris dan Direksi, Jalankan Mandat Ekspor SDA Strategis

Jakarta, TAMBANG – PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI kini memiliki jajaran Komisaris dan Direksi lengkap untuk mendukung pelaksanaan mandatnya dalam tata kelola ekspor komoditas strategis Indonesia. Dewan Komisaris DSI dipimpin Komisaris Utama Cipung Noer, bersama Tony Wenas, Prof. Mari Elka Pangestu, dan Harold Tjiptadjaja sebagai Komisaris. Jajaran tersebut memiliki

By Rian Wahyuddin
DSI Petakan Ekspor USD14 Miliar, Potensi Optimalisasi Nilai Capai USD5 Miliar

DSI Petakan Ekspor USD14 Miliar, Potensi Optimalisasi Nilai Capai USD5 Miliar

Jakarta, TAMBANG – PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI mengumumkan kesiapan operasional dalam menjalankan mandat pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia. Dalam waktu sedikit lebih dari dua bulan, DSI telah membangun visibilitas analitis terhadap sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari USD14 miliar. DSI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP)

By Rian Wahyuddin
SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045

SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045

Yogyakarta, TAMBANG – Penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong transformasi industri mineral dan batubara (minerba) menuju Indonesia Emas 2045. Hilirisasi, digitalisasi, transisi energi, dan tuntutan keberlanjutan membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi yang semakin beragam. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Mempersiapkan SDM Unggul, Inovatif,

By Rian Wahyuddin