Inilah Kinerja AMMAN Di Sepanjang 2025

Inilah Kinerja AMMAN Di Sepanjang 2025

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia, PT Amman Mineral Internasional, Tbk (IDX: AMMN) menjalani tahun 2025 sebagai tahun transisi. Di penambangan, perusahaan mulai masuk pada fase-8 di Tambang Batu Hijau. Di Hilir, Perusahaan sukses menyelesaikan pembangunan smelter. Meski pada Juli dan Agustus smelternya harus berhenti sementara untuk memperbaiki salah satu komponen penting.

Inilah yang disampaikan dalam paparan kinerja tahun 2025 dari perusahaan yang juga dikenal dengan sebutan AMMAN ini.

“Tahun 2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting bagi AMMAN. Peralihan ke penambangan Fase 8-yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah-bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter yang menimbulkan tekanan operasional jangka pendek. Namun, kami berhasil mencapai berbagai tonggak strategis, terutama menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh,”ungkap Direktur Utama AMMAN Arief Sidarto dalam keterangan pers yang diterima pada Selasa (26/3).

AMMAN sendiri dikenal sebagai perusahaan tambang tembaga dan emas yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Di hulu,kegiatan penambangan memasuki fase-8 yang ditandai dengan penurunan produksi. Penurunan ini wajar mengingat tahun 2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau.

Sesuai rencana tambang, pasca 2024 volume penambangan kembali normal. Kegiatan penambangan sepanjang tahun 2025 berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih dari Fase 8. Produk yang dihasilkan adalah bijih berkadar rendah hingga menengah.

Meski demikian, volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% secara year on year (YoY). Namun, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, jarak angkut lebih jauh, harga bahan bakar menjadi lebih tinggi, volume material yang ditambang lebih rendah. Kemudian biaya penambangan per unit tahun 2025 meningkat 10% YoY, dari US$2,24/t menjadi US$2,54/t.

Sementara produksi konsentrat tercatat sebesar 446.563 metrik ton kering di sepanjang 2025. Dibanding tahun sebelumnya turun 41%. Produksi tembaga dan emas masing‑masing sebesar 209 juta pon dan 102.758 ons. Hal ini mencerminkan penurunan tahunan sebesar 47% dan 87%.

Penurunan produksi logam dibandingkan tahun lalu sudah diantisipasi, karena bijih yang dikelola di pabrik konsentrator selama masa transisi berasal dari stockpiles dan bijih segar berkadar rendah dari Fase 8.

Meski demikian, pencapaian operasional tetap solid dibandingkan panduan kinerja. Produksi konsentrat setahun penuh melampaui panduan kinerja sebesar 4% dan produksi emas sebesar 14%. Sementara produksi tembaga 8% di bawah target.

Kinerja di Hilir

Sementara di hilir, smelter mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025. Langkah ini diambil untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun.

Secara paralel, perusahaan memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025. Hal ini telah memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp‑up smelter.

Produksi katoda tembaga dimulai pada akhir Maret 2025, dengan total produksi smelter tahun 2025 mencapai 79.849 ton atau setara dengan 176 juta pon. Produksi emas murni dari PMR dimulai pada pertengahan Juli 2025 menghasilkan 124.723 ons sepanjang tahun.

Untuk diketahui pada awal tahun 2025, perseroan hanya diizinkan menjual produk logam jadi seperti katoda tembaga dan emas murni. Sementara untuk konsetrat perusahaan baru mendapat izin ekspor pada oktober 2025 yang berlaku selama enam bulan.

Transisi ini mengakibatkan penjualan bersih yang lebih rendah, yaitu US$1.847 juta. Padahal di tahun sebelumnya mencapai US$2.664 juta. Penjualan tersebut terdiri dari US$806 juta dari katoda tembaga, yang mulai diproduksi pada kuartal dua. Kemudian dari emas murni yang produksi perdananya dimulai pada kuartal III diperoleh US$454 juta. Kemudian dari konstrat tembaga pada kuartal IV  senilai US$587 juta.

Kinerja penjualan terkonsentrasi pada paruh akhir tahun, dengan kuartal IV yang menyumbang sekitar 70% dari penjualan bersih tahun 2025. Kondisi ini didorong oleh stabilnya operasi peleburan dan pemurnian serta penjualan konsentrat.

“Kami juga mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025. Pencapaian ini menunjukkan kemajuan struktural dalam memperkuat nilai tambah di sepanjang rantai pasok. Di sisi penambangan, operasi berlangsung disiplin dan sesuai dengan rencana tambang,”tambah Arief.

Harus diakui kinerja operasi yang harus menghadapi sejumlah tantangan ini berpengaruh pada kinerja keuangan tahun 2025. Secara kuhusus kinerja keuangan perusahaan mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp‑up smelter.

“Meski demikian, kami membukukan penjualan bersih sebesar US$1.847 juta, dengan kinerja yang menguat di paruh kedua, di mana kontribusi Q4 mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (“PMR”),”terang Arief lagi.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$258 juta dengan margin 14% pada 2025, dibandingkan dengan US$642 juta dengan margin 24% pada 2024. Penurunan ini selaras dengan faktor‑faktor yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sementara total Belanja modal pada 2025 menurun 23% YoY, dari US$1.792 juta pada 2024 menjadi US$1.372 juta pada 2025. Hal ini mencerminkan kemajuan dan proyek‑proyek ekspansi utama yang mendekati tahap penyelesaian.

Dengan capaian ini perusahaan membukukan EBITDA sebesar US$1.057 juta dengan margin sebesar 57%. Meski secara absolut EBITDA menurun, margin yang lebih tinggi mencerminkan keberhasilan perseroan melakukan pergeseran strategis menuju operasi hilir.

Selain itu juga ditopang oleh penerapan langkah‑langkah disiplin biaya dan efisiensi, serta realisasi harga logam yang lebih kuat. Perubahan ini didukung oleh investasi signifikan pada smelter, PMR, dan fasilitas pendukung lainnya, termasuk PLTGU dan ekspansi pabrik konsentrator.

Peningkatan depresiasi dari aset‑aset tersebut berdampak pada laba bersih, namun profitabilitas operasional inti kami (margin EBITDA) tetap solid.

Optimis Di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, prioritas utama perusahaan adalah memastikan kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan. Di saat yang sama, proyek ekspansi utama  termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (“PLTGU”), fasilitas regasifikasi LNG, serta ekspansi pabrik konsentrator tetap berjalan sesuai rencana. Ini akan semakin memperkuat ketahanan operasional serta daya saing biaya perusahaan.

Pihak Manajemen optimis terlepas dari tantangan jangka pendek, fundamental jangka panjang untuk komoditas tembaga dan emas tetap sangat kuat. “Kami akan terus fokus pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, dan keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan kami,” tutup Arief.