Ini Langkah Pemerintah Optimalkan Hilirisasi Nikel, Timah Hingga Komoditas Besi

Hilirisasi mineral logam
Potret Nikel Sulfat yang diproduksi Harita Nickel. Dok: Istimewa

Jakarta, TAMBANG – Pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya mengoptimalkan nilai tambah dari program hilirisasi komoditas tambang, terutama pada mineral logam.

Kebijakan hilirisasi mineral logam yang sedang digencarkan saat ini meliputi peningkatan, optimalisasi dan efisiensi industri pengolahan pemurnian alias smelter. Khususnya terhadap enam komoditas yaitu nikel, bauksit, timah, tembaga, emas-perak dan besi.

Pada komoditas nikel, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, akan melakukan percepatan pembangunan pabrik hidrometalurgi, pengembangan pabrik NiSO4 baik dari jalur hidrometalurgi maupun pirometalurgi.

Kemudian akan melakukan pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan dan Pemurnian (SHPP) proses pirometalurgi (Slag, Asam Sulfat) maupun hidrometalurgi (Logam Tanah Jarang (LTJ), endapan besi). Hal lainnya mendorong penguasaan teknologi termasuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC) pabrik.

Pada komoditas bauksit, akan dilakukan percepatan operasi pabrik refinery alumina untuk mengolah bauksit domestik, peningkatan penyerapan domestik produk alumina (SGA) dan pengaturan tata niaga. Kemudian akan dilakukan substitusi impor dan pemenuhan kebutuhan bahan baku aluminium dan pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik refinery (Red Mud).

Di timah, pemerintah akan melakukan peningkatan penyerapan domestik produk timah dan pengaturan tata niaga, substitusi impor dan pemenuhan kebutuhan bahan baku timah serta penyesuaian teknologi untuk pengolahan bijih tipe primer.

Pada komoditas tembaga, ada tiga strategi untuk meningkatkan nilai tambah itu yakni percepatan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian tembaga, menghadirkan kebijakan yang mendukung pembangunan industri pengolahan dan pemurnian serta pembangunan pabrik pemurnian lumpur anoda.

Pada komoditas emas dan perak, akan dilakukan penertiban kegiatan pabrik pengolahan dan pemurnian emas tanpa izin, pembangunan pabrik pemurnian emas legal, penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan bijih emas alternatif. Terakhir menghadirkan kebijakan kewajiban pabrik pengolahan tembaga untuk membangun pabrik pengolahan lumpur anoda.

Terakhir di komoditas besi. Pemerintah akan melakukan tiga gebrakan yakni pemanfaatan pasir besi lokal untuk bahan baku industri peleburan besi-baja nasional, pemanfaatan bijih besi laterit dan bijih besi lokal untuk bahan baku industri peleburan besi-baja nasional dan Implementasi serta penguasaan teknologi yang proven, reliable dan kompetitif.

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin