Hilirisasi Nikel RI di Pasar Global Melesat, CNGR Perkuat Produk Turunan
CNGR Indonesia terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan hilirisasi nikel di Tanah Air melalui berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi. Perusahaan menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok global
Jakarta, TAMBANG – CNGR Indonesia terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan hilirisasi nikel di Tanah Air melalui berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi. Perusahaan menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok global berbagai material berbasis nikel, tidak hanya untuk industri kendaraan listrik.
Director of External Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika, mengatakan pemanfaatan nikel dari Indonesia saat ini tidak hanya terbatas pada kebutuhan electric vehicle (EV), tetapi juga untuk berbagai sektor industri lainnya.
“Selama ini mungkin banyak yang melihat produk berbasis nikel hanya untuk EV. Padahal sebenarnya Indonesia berperan sebagai pemasok untuk kebutuhan global, tidak hanya sekadar untuk EV saja,” Magdalena dalam Indonesia Mining Outlook 2026 and Stakeholders Iftar Gathering bertema Regulatory Transformation and the Future of Ethical Mining yang digelar Majalah TAMBANG di Jakarta, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, sejak awal masuk ke Indonesia, CNGR memanfaatkan teknologi untuk mengolah bijih nikel laterit menjadi berbagai produk turunan. Salah satu produk awal yang dikembangkan adalah nickel matte, yang mulai diproduksi pada 2021 di fasilitas perusahaan di Morowali.
“Pada saat pandemi COVID-19 banyak yang melihat situasi itu sebagai masa yang sangat sulit. Namun bagi kami yang bergerak di bidang teknologi, kami melihat apa yang bisa kami lakukan. Kami melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya nikel paling kaya di dunia, sehingga kami memutuskan untuk memulai teknologi OASBF di Indonesia,” ujarnya.
Magdalena menambahkan, dari proses pengolahan tersebut CNGR kemudian mengembangkan produk lanjutan seperti nickel sulfate hingga electrolytic nickel dengan tingkat kemurnian tinggi.
Menurut dia, pencapaian penting lainnya adalah keberhasilan produk electrolytic nickel dari Indonesia masuk ke dalam London Metal Exchange (LME) setelah melalui proses audit yang ketat.
“Produk electrolytic nickel dari Indonesia dapat masuk ke London Metal Exchange dengan kemurnian 99,99 persen. Ini bukan proses yang mudah karena harus melalui audit operasional penuh selama beberapa bulan,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk nikel Indonesia mampu bersaing di pasar global. Bahkan, secara global hanya terdapat sekitar 30 produsen yang mampu menghasilkan produk dengan standar tersebut.
Magdalena juga menilai kebijakan pemerintah Indonesia yang melarang ekspor mineral mentah sejak sekitar satu dekade lalu menjadi pemicu berkembangnya industri hilir di dalam negeri.
“Keputusan pemerintah untuk melarang ekspor bahan mentah merupakan sebuah loncatan besar. Sejak saat itu semua pihak harus berpikir bagaimana menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki,” katanya.
Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir perkembangan hilirisasi semakin terlihat, mulai dari industri stainless steel, ferronickel, hingga bahan baku untuk industri baterai kendaraan listrik.
“Ini menunjukkan bahwa hilirisasi yang lebih dalam sudah terjadi di Indonesia. Diversifikasi produk dan teknologi dalam pengolahan nikel juga mulai berkembang,” tutup Magdalena.
Saat ini, CNGR Indonesia memproduksi sejumlah produk turunan nikel laterit di pabriknya yang berlokasi di Morowali. Produk tersebut antara lain nickel matte yang dimanfaatkan untuk produksi stainless steel, serta nickel sulfate yang menjadi bahan baku ternary precursor dan electrolytic nickel.
Selanjutnya, produk tersebut telah diolah lebih lanjut menjadi material yang lebih hilir seperti cathode material dan nickel electrode.