ESDM Pertimbangkan Ide Subsidi BBM RON Tinggi

ESDM Pertimbangkan Ide Subsidi BBM RON Tinggi
Jakarta, TAMBANG – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mempertimbangkan ide anggota komisi VII DPR RI, terkait usulan pengalihan pemberian subsidi ke jenis BBM yang memiliki Research Octane Number (RON) tinggi, seperti Pertalite atau Pertamax.   “Itu positif, kita harus lihat dulu. Kita akan evaluasi usulan dari DPR tersebut. Kita pahami dulu usulannya kita bahas terus mekanismenya seperti apa nanti kita lihat. Tahun ini kan subsidi masih sesuai APBN,” kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Kantor ESDM, Jumat (7/6).   Pengalihan subsidi dinilai positif bagi perusahaan, lantaran akan mengefisiensi cost perusahaan dalam hal penyimpanan tangki BBM dan sebagainya. Di samping itu, penggunaan jenis BBM berkualitas ini akan memperbaiki kualitas udara.   “Ada beberapa faktor lain dari sisi efisiensi. Kalau jadi dua (jenis BBM) ada cost efisiensi. Besar efiensinya. Me-manage dua produk itu lebih efisien (dibanding) dengan tiga produk. Ini sedang kita bahas,” jelasnya.   Pemerintah, imbuh Arcandra, tetap mengevaluasi terlebih dahulu tekait dampak kebijakan tersebut. Pemerintah tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.Terutama mempertimbangkan segi korporasi PT Pertamina (selaku) pelaksana mandat Pemerintah.   Sebelumnya, pengajuan ide tersebut pun ditanggapi secara baik oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan saat rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI. Jonan menilai apabila direalisasikan akan berdampak positif pada lingkungan.   “Ini make sense, sebenarnya yang paling bisa didorong juga Kementerian Perindustrian supaya mesin mobil tidak bisa konsumsi BBM kualitas rendah,” kata Jonan.   Saat ini Pemerintah memberikan subsidi ke Solar (gasoline) sebesar Rp.500 per liter. Bahkan, subsidi solar diusulkan akan ditambah menjadi Rp2.000/liter pada tahun 2018 ini. Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan meroketnya harga minyak dunia, serta dalam rangka menjaga daya beli masyarakat dan mengurangi beban keuangan Pertamina.   Sementara Premium harga semestinya mencapai Rp8.600 per liter untuk April–Juni 2018. Namun saat ini premium masih dijual Rp6.450 per liter. Ini berarti telah ada selisih subsidi harga sekitar Rp2.150 per liter   Sebagai informasi, Premium merupakan jenis BBM RON 88. Sedangkan Pertalite memiliki RON 90 dan Pertamax RON 92.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin
Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri. Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Gilarsi, tantangan

By Rian Wahyuddin