Anak Usaha ITM Sukses Gelar Festival Lou Bentian 2026, Dorong Pelestarian Budaya Bentian Besar

Rangkaian Festival Lou Bentian 2026 telah resmi ditutup setelah berlangsung meriah selama sepekan, 2–8 Juni 2026. Kegiatan budaya ini dilaksanakan di Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat.

Anak Usaha ITM Sukses Gelar Festival Lou Bentian 2026, Dorong Pelestarian Budaya Bentian Besar

Jakarta,TAMBANG - Rangkaian Festival Lou Bentian 2026 telah resmi ditutup setelah berlangsung meriah selama sepekan, 2–8 Juni 2026. Kegiatan budaya ini dilaksanakan di Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat. Tiga perusahaan, yakni PT Trubaindo Coal Mining (TCM), PT Bharinto Ekatama (BEK), dan PT Tepian Indah Sukses (TIS), bersama masyarakat setempat sukses menyelenggarakan kegiatan yang berlangsung meriah ini.

Festival perdana ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian budaya masyarakat Bentian. Selain itu, festival ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata lokal.

Acara penutupan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti parade sembilan kampung se-Bentian Besar. Selain itu, terdapat tradisi makan bersama yang disebut rurant. Tamu undangan dan warga Bentian berbaur menyantap aneka hidangan tradisional seperti lemang dan badong.

Pemandangan menarik terlihat saat warga Kecamatan Bentian Besar memadati Lou Bentian dengan mengenakan busana adat.

Festival yang diinisiasi dan didukung oleh anak usaha ITM di area Melak tersebut menghadirkan berbagai kegiatan budaya, olahraga, dan kesenian tradisional. Semua kegiatan ini melibatkan masyarakat dari sembilan kampung di wilayah Bentian Besar. Beragam perlombaan digelar untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal. Ada lomba menyumpit, belogo, begasing, tari tradisional, berijoq, intoont, fashion show busana adat, hingga lomba memasak kuliner khas Bentian.

Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk memperkenalkan produk dan kuliner khas daerah kepada masyarakat luas.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang festival yang berlangsung selama tujuh hari penuh. Kehadiran Festival Lou Bentian sekaligus menjadi simbol kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan dunia usaha dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Barat, Kamius Junaidi, dalam acara penutupan menyampaikan bahwa Festival Lou Bentian memberikan dampak positif terhadap pelestarian budaya dan tradisi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada TCM, BEK, dan TIS yang telah menjadi inisiator dan pendukung pelaksanaan Festival Lou Bentian 2026. Lebih lanjut, ia menjelaskan makna penting Lou Bentian.

“Rumah lamin di Bentian Besar ini diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas budaya dan etalase yang menampilkan kekayaan budaya serta potensi alam yang dimiliki sembilan kampung di Bentian Besar. Kehadiran Lou Bentian menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Bentian dan Kutai Barat. Kami berharap budaya Bentian semakin dikenal luas. Festival ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender Pemerintah Daerah serta menjadi salah satu unggulan Kabupaten Kutai Barat,” ujarnya.

Kehadiran Lou Bentian, rumah panjang khas Suku Dayak yang menjadi representasi sembilan kampung di Kecamatan Bentian Besar, menunjukkan perannya sebagai ruang kebersamaan masyarakat. Sebagai simbol persatuan masyarakat Bentian, Lou Bentian hadir bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang membuka ruang interaksi, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus menjadi wadah berkumpul lintas generasi.

Seorang siswi dari Kampung Dilang Puti, salah satu dari sembilan kampung di Kecamatan Bentian Besar, yang setiap hari datang ke Lou Bentian untuk mengikuti rangkaian festival, menyatakan sukacitanya.

“Acaranya seru! Dari Festival Lou Bentian, saya dan teman-teman jadi mendapat banyak teman baru dan pengetahuan baru. Kami juga jadi berani mencoba hal baru, seperti ikut lomba menyumpit, menari, belogo, dan bersosialisasi dengan banyak orang,” kata Valerina, siswi kelas X SMA Negeri 1 Bentian Besar.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Bharinto Ekatama (BEK), Iman Mandiri, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan festival perdana tersebut.

“Festival Lou Bentian bukan sekadar rangkaian acara budaya, tetapi menjadi wujud nyata semangat bersama dalam menjaga identitas, mempererat persatuan, dan melestarikan kearifan lokal. Semoga semangat yang terbangun selama festival ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” tandas Iman.

Melalui penyelenggaraan Festival Lou Bentian 2026, TCM, BEK, dan TIS menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh bersama masyarakat melalui berbagai inisiatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan, penguatan potensi lokal, dan pelestarian budaya daerah.

Artikel Terkait

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Jakarta, TAMBANG — Risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional. Blackout dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, gangguan infrastruktur kelistrikan, hingga meningkatnya kompleksitas sistem energi seiring pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Feiral Rizky Batubara, Pengamat

By Rian Wahyuddin