Ditengah Fluktuasi Harga, INDY Sukses Raih Laba Bersih USD 6,0 Juta Di 2025

Ditengah Fluktuasi Harga, INDY Sukses Raih Laba Bersih USD 6,0 Juta Di 2025
Sumber: PT Indika Energy,Tbk

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan investasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, PT Indika Energy Tbk. (Perseroan) tetap menjaga kinerja positif. Emiten berkode saham INDY ini tetap menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi harga komoditas global. Perseroan berhasil mencatat Laba Bersih sebesar US$ 6,0 juta dan memperkuat struktur permodalan melalui efisiensi biaya yang disiplin.

Sepanjang tahun 2025, Indika Energy merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 139,0 juta. Sejalan dengan strategi diversifikasi, sebesar 95,4% atau US$ 132,6 juta dari total capex dialokasikan untuk sektor non-batubara. Lebih besar dialokasikan untuk pengembangan proyek pertambangan emas Awak Mas dan ekspansi bisnis hijau.

“Di tengah dinamika pasar batubara tahun 2025, Indika Energy tetap fokus pada efisiensi operasional dan mempercepat transformasi portofolio ke bisnis yang lebih berkelanjutan. Capaian laba bersih ini didukung oleh langkah strategis menurunkan beban biaya dan memperkuat fundamental keuangan,” terang Direktur Utama dan CEO Group Indika Energy Azis Armand.

Di tahun 2025, Indika Energy membukukan pendapatan sebesar US$ 2.030,9 juta. Dibanding tahun lalu catatan pendapatan tahun ini turun 17,0% yang membukukan pendapatan sebesar US$ 2.446,7 juta. Penurunan pendapatan Perseroan terutama disebabkan oleh menurunnya harga jual FOB batubara rata-rata Kideco di tahun 2025 menjadi sebesar US$ 49,9 per ton. Padahal tahun lalu tercatat sebesar US$ 53,9 per ton.

Volume penjualan Kideco di tahun 2025 juga sedikit turun yakni 0,9% menjadi 30,8 juta ton. Dari angka tersebut Perseroan berhasil menjual 12,8 juta ton atau sebanyak 41,5% untuk kebutuhan dalam negeri. Angka ini melebihi ketentuan 25% Domestic Market Obligation (DMO). Oleh karenanya, pendapatan Kideco turun 12,8% menjadi US$ 1.611,7 juta dibandingkan US$ 1.848,1 juta pada tahun 2024.

Anak-anak perusahaan Indika Energy lainnya seperti Indika Indonesia Resources (IIR) dan Tripatra juga mencatat penurunan pendapatan. Pendapatan IIR menurun sebesar 60,7% menjadi US$ 75,2 juta, dibandingkan US$ 191,2 juta di tahun 2024. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya kontribusi dari perdagangan batu bara, dan masih tercatatnya pendapatan dari Multi Tambangjaya Utama (MUTU) hingga Februari 2024.

Di tahun 2025, volume penjualan menurun 76,3% menjadi 0,9 juta ton. Sementara itu, volume penjualan dari perdagangan non-batubara meningkat secara signifikan sebesar 4.241% menjadi 0,5 juta ton. Sedangkan IIR di tahun 2025 mulai mengembangkan perdagangan non-batubara, termasuk bauksit, silika, dan nikel.

Tripatra juga mencatat penurunan pendapatan 3,1% menjadi US$ 242,8 juta, disebabkan oleh lebih rendahnya pendapatan yang dicatat pada tahun 2025. Ini terjadi seiring mendekatinya penyelesaian beberapa proyek seperti CSTS BP Tangguh, AGPA Refinery Complex (Posco), ABG Tahap 1 di Akasia Bagus field.

Hal ini sebagian diimbangi oleh kontribusi pendapatan dari beberapa proyek baru pada tahun 2025, seperti APA Geng North Project. Akan tetapi, Pendapatan Interport meningkat 15,8% menjadi US$ 134,6 juta di tahun 2025. Pendapatan Interport terdiri dari Cotrans yakni logistik pengangkut batubara tercatat sebesar US$ 74,7 juta. Kemudian KGTE yang bergerak pada jasa penyimpanan bahan bakar dan PGE yang bergerak di bisnis perdagangan bahan bakar sebesar US$ 52,9 juta. Sisanya sebagian besar berasal dari Interport Business Park (IBP) dan ILSS.

Biaya Kontrak dan Barang yang Terjual (COGS) menurun 16,7% menjadi US$ 1.760,6 juta pada tahun 2025 dari US$ 2.114,0 juta pada tahun 2024. Penurunan ini terutama disebabkan karena penurunan COGS di Kideco sebesar 13,5% menjadi US$ 1.370,1 juta. Hal ini karena cash cost termasuk royalti menurun sebesar 14,0% menjadi US$ 43,1 per ton pada 2025. Biaya royalti lebih rendah (US$ 4,7 per ton lebih rendah sebagai akibat dari ASP yang lebih rendah dan skema royalti baru) dan stripping ratio yang lebih rendah (5,1 kali pada tahun 2025 dibandingkan dengan 5,7 kali pada tahun 2024).

Penurunan COGS juga terjadi di Indika Indonesia Resources sebesar 60,6% menjadi US$ 72,8 juta karena penjualan yang lebih rendah dalam perdagangan batubara pada tahun 2025.

Sementara itu, COGS di Tripatra, sebagai kontributor pendapatan terbesar kedua sebesar 10% untuk Perseroan, meningkat 11,1% menjadi US$ 254,4 juta, karena meningkatnya estimasi biaya penyelesaian pada proyek-proyek EPC besar (Shell, Akasia Bagus, Posco) dan dampak penyelesaian akhir proyek BP Tangguh.

Pada tahun 2025, Laba Kotor Perseroan menurun 18,8% menjadi US$ 270,3 juta, dari sebelumnya US$ 332,7 juta di tahun 2024.

Beban Penjualan, Umum dan Administrasi tercatat turun 10,7% menjadi US$ 155,9 juta di tahun 2025 dari sebelumnya US$ 174,6 juta di tahun 2024. Ini terjadi karena penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terkait Kideco dan penurunan biaya pemasaran sejalan dengan penurunan pendapatan Kideco. Kemudian adanya penurunan G&A terutama biaya profesional karena penurunan jumlah proyek yang melibatkan konsultan.

Sementara itu, Biaya Keuangan Perseroan menurun signifikan 24,1% menjadi US$ 69,2 juta pada tahun 2025. Hal ini disebabkan karena fasilitas sindikasi Awak Mas yang baru menggantikan fasilitas Awak Mas sebelumnya yang lebih rendah. Kemudian ada faktor lain yang terjadi pada tahun 2024 yaitu premi dan percepatan amortisasi atas biaya penerbitan obligasi terkait dengan pelunasan penuh pada Obligasi 2024. Lalu penawaran tender pada Obligasi 2025 dan ada biaya komitmen untuk pinjaman Awak Mas.

Sebagai hasilnya, Perseroan membukukan Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$ 6,0 juta.

Realisasi belanja modal (Capex) selama tahun 2025 adalah US$ 139,0 juta dimana US$ 132,6 juta atau 95,4% diantaranya digunakan untuk bisnis non-batubara. Capex terutama digunakan untuk sektor mineral khususnya untuk proyek Awak Mas yaitu sebesar US$ 100,1 juta. Ke sektor tenaga surya melalui EMITS sebesar US$ 7,1 juta, dan Interport sebesar US$ 4,7 juta.

Sedangkan untuk bisnis batubara, capex terutama digunakan untuk pemeliharaan di Kideco sebesar US$ 6,5 juta.

“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Indika Energy dalam mempercepat transisi. Dengan memprioritaskan investasi pada sektor emas dan energi bersih, kami melangkah mantap menuju struktur portofolio yang lebih tangguh dan berimbang di masa depan,” tambah Azis.

Pada 12 Februari 2026, Moody’s Rating menegaskan peringkat utang Perseroan di B1 dari Ba3 dan merevisi prospek dari negatif menjadi stabil. Sedangkan pada 27 Maret 2026, Fitch Rating juga menegaskan peringkat utang Perseroan di B+ dengan prospek yang serupa yaitu stabil. Peringkat B+ ini mencerminkan diversifikasi bisnis yang terus berkembang serta prospek positif dari proyek emas Awak Mas yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

Artikel Terkait

TRIPATRA Dukung Kaltim Parna Industri Wujudkan Pabrik Pencairan CO2 Berkapasitas  300 Metrik Ton Per Hari

TRIPATRA Dukung Kaltim Parna Industri Wujudkan Pabrik Pencairan CO2 Berkapasitas 300 Metrik Ton Per Hari

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan penyedia solusi berbasis rekayasa teknik PT Tripatra Engineers and Constructors (TRIPATRA) mendukung PT Kaltim Parna Industri (KPI) dalam pembangunan fasilitas pencairan karbon dioksida (CO₂) di Bontang, Kalimantan Timur. Fasilitas ini diresmikan pada 22 Oktober 2026 yang memiliki kapasitas desain sebesar 300 metrik ton per hari. TRIPATRA menjalankan

By Egenius Soda
PGN Perkuat Portofolio Pasokan Gas Bumi melalui Tujuh Kesepakatan Strategis di FOREK Hulu Migas 2026

PGN Perkuat Portofolio Pasokan Gas Bumi melalui Tujuh Kesepakatan Strategis di FOREK Hulu Migas 2026

Jakarta,TAMBANG,- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina terus memperkuat portofolio pasokan gas bumi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pelanggan secara berkelanjutan. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan tujuh dokumen kesepakatan komersial dalam Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Rabu

By Egenius Soda
Meningkat 46 %, ANTAM Catatkan Laba Bersih Rp9,66 Triliun hingga September 2026

Meningkat 46 %, ANTAM Catatkan Laba Bersih Rp9,66 Triliun hingga September 2026

Jakarta, TAMBANG – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang Januari–September 2026. Emiten pertambangan berkode saham ANTM ini membukukan laba bersih sebesar Rp9,66 triliun, meningkat 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,61 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh optimalisasi kinerja operasional, penguatan strategi pemasaran,

By Rian Wahyuddin