Beroperasi 2024, Smelter Tembaga Freeport di Gersik Topang Ekosistem EV dan EBT
Sebelumnya, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, selain memproses konsentrate menjadi katoda tembaga, smelter ini bakal menghasilkan perak dan emas batangan karena ada fasilitas precious metal refinery (PMR) serta nikel, almunium, lithum dan cobalt yang merupakan bagian dari ecosystem kendaraan listrik.
“Di smelter ini akan dihasilkan tembaga itu salah satu bahan utama untuk ekosistem kendaraan listrik. Di samping tentunya ada nikel, alumunium juga ada cobalt dan lithium. Jadi ini semua adalah unsur-unsur yang sangat penting untuk industri hilirisasi dan saya sudah yakin karena Presiden beberapa kali megatakan, ekosistem kendaraan listrik ini yang akan dibentuk di Indonesia,” ungkap Tony.
Dia berharap setelah smelter kedua PTFI berproduksi, dapat menjadi stimulus bagi tumbuhnya industri hilir lainnya, khususnya berkaitan dengan ekosistem kendaraan listrik.
“Kami harapkan dengan selesianya proyek pembangunan smelter ini bisa tumbuh industri-industri yang lebih hilir lagi, terutama kaitannya dengan membangun ekosistem kendaraan listrik,” harap Tony.
Sebagai informasi, smelter ini merupakan smelter yang kedua yang dibangun PTFI untuk mengolah dan memurnikan konsentrat hasil produksinya setelah yang pertama PT Smelting di Kawasan PT Petrokimia Gresik. Smelter Manyar juga merupakan smelter terbesar di dunia dengan mengolah konsentrat hingga 1.7 juta ton. Sedangkan di PT Smelting mampu mengolah 1,3 juta ton.