APBI: Ekspor Berkurang 50 Juta Ton, Harga Akan Naik

APBI: Ekspor Berkurang 50 Juta Ton, Harga Akan Naik
ilustrasi

Jakarta-TAMBANG. Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) memperkirakan harga batu bara bisa mengalami perbaikan asalkan pemerintah mengurangi kuota ekspor minimal 50 juta ton.

Ketua Umum APBI Bob Kamandanu mengatakan, ekspor batu bara tahun ini ditetapkan sebesar 333 juta ton dari total produksi yang ditetapkan sebesar 425 juta ton. Dari produksi itu sebanyak 92 juta ton akan dialokasikan untuk kebutuhan batubara dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO).

“Kalau mau memberi shock terapi ke pasar, kita harus mengurangi pasokan ekspor secara signifikan. Karena buyer perlu dan harga akan naik. Saya sarankan paling tidak ada 50 juta ton yang dihilangkan di pasar sehingga suplai tidak terlalu besar,” kata Bob, Kamis kemarin.

Sebagai informasi, harga batubara acuan (HBA) Januari hanya US$ 63,84 per ton atau lebih rendah dibandingkan pada akhir 2014 sebesar US$ 64,65 per ton. Bob menuturkan, harga batu bara melemah sepanjang 2014 karena over suplai di pasaran. Dari produksi tahun lalu sekitar 450 juta ton, alokasi untuk dalam negeri hanya sekitar 70 juta ton dan sekitar 390 juta ton batubara diekspor.

Dia berharap pemerintah mendukung upaya yang dilakukan asosiasi untuk menaikkan harga batu bara lantaran pengurangan target produksi dinilai belum mampu menaikkan harga batu bara.

Lebih lanjut Bob mengungkapkan sejumlah pelaku usaha memiliki cara tersendiri dalam menyikapi melemahnya harga batu bara. Salah satunya yakni dengan menjual batu bara di atas harga pasar dan HBA yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Yang saya lihat dan yang terjadi di lapangan, pembeli mengacu dengan harga indeks. Tapi karena penjual tidak mau, makanya rata-rata harga jual sekarang berada di atas indeks. Jadi harga terbentuk atas kesepakatan antara penjual dan pembeli,” jelasnya.

Dia menyebut mekanisme itu wajar lantaran pihak pembeli tidak mempermasalahkan harga yang ditetapkan penjual di atas harga pasar. Hal ini terjadi karena pembeli membutuhkan pasokan batubara. Harga batubara yang dijual sekitar 10% di atas harga pasar.

“Pembeli mau mengerti kondisi itu, sehingga tidak ada masalah,” ujarnya.

Artikel Terkait

PT TIMAH Buka Suara soal Demo di Belitung Timur, Minta Kondusivitas Tetap Terjaga

PT TIMAH Buka Suara soal Demo di Belitung Timur, Minta Kondusivitas Tetap Terjaga

Jakarta, TAMBANG – PT TIMAH Tbk buka suara terkait aksi demonstrasi warga di depan kantor perusahaan di Kabupaten Belitung Timur yang berujung bentrokan. Perseroan menyatakan menghormati aspirasi masyarakat dan berharap situasi tetap kondusif. Corporate Secretary PT TIMAH (Persero) Tbk, Ruddy Nursalam, menyampaikan bahwa perusahaan memahami aktivitas pertambangan timah memiliki keterkaitan yang

By Rian Wahyuddin
Demo Penambang Timah di Belitung Berujung Bentrok, Bambang Patijaya Dorong Perpres Segera Terbit

Demo Penambang Timah di Belitung Berujung Bentrok, Bambang Patijaya Dorong Perpres Segera Terbit

Jakarta, TAMBANG - Aksi demonstrasi masyarakat penambang di Kantor PT TIMAH di Kabupaten Belitung Timur menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya tuntutan agar pembelian bijih timah masyarakat kembali dibuka, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya meminta seluruh pihak menahan diri dan menjaga kondusivitas, sembari memastikan pemerintah tengah mempercepat penerbitan Peraturan Presiden

By Rian Wahyuddin